Berita

Ilustrasi (Artificial Inteligence)

Bisnis

CPO Melemah Seiring Turunnya Harga Minyak Mentah dan Soyoil Dalian

SENIN, 25 MEI 2026 | 13:56 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Harga minyak sawit mentah (CPO) Malaysia bergerak melemah pada perdagangan Senin siang, 25 Mei 2026, seiring tekanan dari turunnya harga minyak nabati pesaing di Bursa Dalian dan anjloknya harga minyak mentah dunia. 

Sentimen pasar juga terbebani oleh perkiraan penurunan ekspor sawit Malaysia dalam waktu dekat.

Kontrak CPO acuan pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives turun 48 Ringgit atau 1,07 persen ke posisi 4.438 Ringgit per ton metrik. 


Pelaku pasar menilai penurunan harga sawit dipicu kombinasi sejumlah faktor eksternal, mulai dari pelemahan harga minyak nabati di China hingga koreksi tajam harga energi global.

Di pasar Dalian, kontrak minyak kedelai paling aktif tercatat turun 0,97 persen, sementara kontrak minyak sawit melemah 0,78 persen. Pergerakan ini ikut menyeret harga CPO Malaysia karena persaingan ketat di pasar minyak nabati global.

Pasar kini juga menunggu rilis data ekspor produk minyak sawit Malaysia periode 1–25 Mei dari perusahaan survei kargo. Angka tersebut menjadi perhatian investor untuk mengukur permintaan global terhadap sawit dalam jangka pendek.

Tekanan tambahan datang dari pasar minyak mentah dunia. Harga minyak turun sekitar 6 persen dan menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir setelah muncul optimisme terkait peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Kondisi itu membuat minyak sawit kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel karena margin keekonomiannya ikut menyusut saat harga minyak mentah melemah.

Dari sisi mata uang, penguatan ringgit Malaysia sebesar 0,3 persen terhadap dolar AS turut membebani harga sawit. Penguatan mata uang tersebut membuat CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri sehingga berpotensi menekan permintaan ekspor.

Selain itu, pasar juga mencermati kebijakan pemerintah Argentina yang berencana memangkas pajak ekspor komoditas pertanian secara bertahap dalam dua tahun mendatang. Kebijakan tersebut dinilai dapat meningkatkan daya saing produk minyak nabati asal Argentina di pasar internasional.

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya