Berita

Ilustrasi. (Foto: AI)

Publika

Di Bawah Bendera Daulat Ekonomi

SENIN, 25 MEI 2026 | 06:42 WIB

BIROKRASI budek, agamanya KKN dan komunitas epistemiknya pengkhianat. Pasukannya disersi. Tradisinya serakah. Inilah lima dosa di sekitar Presiden Prabowo. Karenanya, meskipun komando perang telah berkali-kali diteriakkan, kemenangan belum didapatkan. Alih-alih serentak menghabisi para penjahat, pidatonya menjadi mirip suara gentar ketakutan kursinya dirobohkan.

Ya. Kita lihat dengan mata telanjang, saat Prabowo minta 10 hitman, serdadu kasih 15. Birokrat kasih 20. Elite kasih 25. Dengan arsitektur ekopol demikian, kita memang banjir bajingan, penjahat dan pendendam kemiskinan yang mimpi korup sejak dari pikiran, bahkan sejak dari kandungan ibunya.

Yang lebih berbahaya, pidato-pidato itu dianggap mengancam kepentingan geopolitik dan ekonomi oligarki yang nyambung ke nekolim lama maupun baru. Akibatnya, mereka melakukan operasi propaganda besar-besaran untuk menggambarkannya sebagai ancaman stabilitas, anti-Barat, dan berbahaya bagi dunia internasional. Termonitor berbagai agensi, lembaga dan media sudah melakukannya.


Padahal pidatonya baru membangkitkan semangat kemandirian nasional. Baru pertobatan. Baru keinsyafan. Belum beresonansi dengan minat dan kebutuhan rakyat. Belum jadi gerakan nasional. Belum jadi revolusi pancasila. Hal ini karena sekitarnya masih banyak hitman dan pencari sego lan rupo. Belum pasukan ideologis, bukan patriot pancasila, bukan negarawan otentik.

Saat ini, Presiden Prabowo Subianto membawa berbagai kebijakan yang menekankan pentingnya kemandirian pangan, energi, papan, sekolah (kurikulum), juga hilirisasi industri nasional, penguatan BUMN strategis, penguasaan sumber daya alam untuk kepentingan rakyat, ketahanan air bersih, pengurangan ketergantungan impor, penguatan industri nasional dan pertahanan nasional, serta kembali ke jati diri (Pancasila dan konstitusi asli).

Dalam konteks geopolitik global, pikiran, ucapan, tulisan dan kebijakannya sering tidak disukai oleh kekuatan ekonomi internasional yang selama puluhan tahun menikmati dominasi terhadap pasar dan sumber daya negara berkembang. Begitu juga di tingkat lokal: dianggap mengganggu sumber nafkah yang serakah.

Karena itu, kita perlu memahami bahwa tidak semua kritik asing dan lokal murni demi demokrasi atau bahkan hak asasi manusia. Kritik itu lebih karena interes pribadi yang ilutif dan takut akan dosa-dosanya di masa lalu.

Kita menyadari bahwa dalam sejarah dunia, isu demokrasi dan HAM sering digunakan sebagai instrumen geopolitik untuk menekan negara-negara yang ingin mandiri secara ekonomi. Propaganda ini tidak selalu menggunakan senjata, tapi media, agen, rating dan narasi.

Cara-cara yang digunakan biasanya dengan membentuk opini bahwa kebijakan nasionalis akan menghancurkan ekonomi dan menggelapkan masa depannya; mengungkap dosa-dosa masa lalunya; mengkampanyekan pemimpin nasionalis sebagai ancaman demokrasi dan HAM; membuat ketakutan terhadap investasi asing keluar dari negara; menyebarkan pesimisme terhadap kemampuan bangsa sendiri.

Saat bersamaan, melalui agen-agennya mereka menghapus mimpi-mimpi republik; menggunakan media internasional untuk mempengaruhi elite lokal dan kelas menengah agar berontak; juga membenturkan rakyat dengan pemerintah melalui isu ekonomi jangka pendek.

Memang, melepaskan diri dari mazhab neoliberal dan penjajahan kaum serakah itu susah, apalagi menghajarnya. Tetapi, yang jauh lebih keren itu sebenarnya saat kita mampu memproduksi mazhab yang bisa "menelannya" dengan menikamnya persis di jantungnya. Di sini, Presiden Prabowo sedang mencoba: walau ia terlihat sendirian.

Padahal, Pancasila dan pikiran pendiri republik kita masih sama. Keduanya, duduk di tempat yang sama dengan perasaan yang tidak pernah berubah sedikit pun. Karenanya bagi kami, mendukungmu (pikiran, tulisan, harapan dan program) bukanlah sebuah beban atau hal yang menjemukan, melainkan cara terbaik untuk menjaga kesetiaan dan kecintaan pada republik.

Setiap detik yang berlalu tanpa kehadiran proyek besar itu justru membuat rasa ini semakin khawatir dan membuktikan bahwa ruang di hati kami memang hanya diciptakan khusus untukmu. Kami tidak peduli seberapa jauh jarak membentang atau seberapa lama waktu harus dihabiskan untuk merealisasikannya. Karena kami percaya akhir dari pertempuran dan perang ini adalah kebahagiaan bersama. Kita akan buktikan bahwa semesta berpihak pada peradaban Pancasila.

Yudhie Haryono 
CEO Nusantara Centre


Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya