Berita

Direktur GREAT Institute Teguh Santosa (Foto: Dok. Pribadi)

Dunia

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

KAMIS, 07 MEI 2026 | 13:55 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Direktur GREAT Institute Teguh Santosa mengingatkan dunia internasional agar tidak menjadikan senjata nuklir sebagai alat tawar-menawar geopolitik di tengah meningkatnya ketegangan global. 

Menurutnya, ancaman penggunaan bom atom hanya akan memperbesar risiko salah perhitungan yang dapat berujung pada bencana kemanusiaan berskala besar.

Dalam tulisannya berjudul "The nuclear dilemma in the new era" yang terbit di The Jakarta Post, Kamis, 7 April 2026, Teguh menyoroti Konferensi Tinjauan 2026 Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) yang berlangsung di tengah situasi paling tegang sejak era Perang Dingin. 


Teguh menilai ketegangan antara AS-Israel dan Iran menjadi salah satu ujian terbesar dalam forum tersebut. 

Dia menyoroti serangan besar yang diperintahkan Presiden AS Donald Trump terhadap pertahanan Iran pada Februari lalu, hingga menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei. 

Menurutnya, situasi itu justru berpotensi mendorong sebagian pengambil kebijakan Iran bergerak lebih jauh menuju pengembangan senjata nuklir.

Untuk itu, Teguh mendorong upaya menghidupkan kembali Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) sebagai langkah realistis untuk membatasi program nuklir Iran melalui mekanisme verifikasi internasional yang lebih ketat. 

Namun ia mengingatkan, kesepakatan itu tidak akan berhasil bila hanya diperlakukan sebagai instrumen politik jangka pendek. 

“Satu sikap mendasar harus ditekankan: senjata nuklir harus ditolak sebagai alat tawar-menawar untuk stabilitas geopolitik. Menggunakan bom atom sebagai kartu negosiasi menormalisasi ancaman kepunahan sebagai bahasa diplomasi,” tulisnya.

Teguh menegaskan bahwa penolakan terhadap senjata nuklir bukan berarti menolak kekuatan militer sepenuhnya. Menurutnya, kekuatan militer konvensional masih diperlukan sebagai daya tangkal untuk menjaga stabilitas global. 

“Pada akhirnya, perdamaian yang kita cari bukanlah utopia tanpa senjata. Ini adalah keadaan di mana senjata ada, tetapi tidak pernah dianggap sebagai pilihan pertama,” pungkasnya.

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

Prabowo Diminta Tindak Tegas Kelompok yang Masih Persoalkan Hasil Pilpres 2024

Selasa, 22 September 2026 | 23:16

UPDATE

Gudang yang Terbakar di Cikarang Milik PT Emudah Fulfillmen, Penyedia Jasa Logistik E-Commerce

Sabtu, 26 September 2026 | 16:18

Mahkamah Agung Diminta Periksa Dugaan Kejanggalan Perkara Harta Bersama

Sabtu, 26 September 2026 | 15:28

SBY: Guruh Soekarnoputra Telah Melakukan Banyak Hal untuk Negeri Ini

Sabtu, 26 September 2026 | 15:03

Dulu Dipandang Sebelah Mata, Kini Dunia Barat Mulai Melirik Halal Indonesia

Sabtu, 26 September 2026 | 14:50

Sinyal Damai AS-Iran Bikin Harga Minyak Terpukul

Sabtu, 26 September 2026 | 14:26

Surya Paloh Kenang Guruh sebagai Budayawan dan Seniman

Sabtu, 26 September 2026 | 14:05

Palet Plastik dan Barang Marketplace Ludes dalam Kebakaran di Cikarang

Sabtu, 26 September 2026 | 13:50

Bitcoin Turun Tipis di Bawah 84.000 Dolar AS

Sabtu, 26 September 2026 | 13:33

Surya Paloh Ungkap Alasan Guruh Soekarnoputra Pilih Fokus ke Seni Ketimbang Pimpin PDI

Sabtu, 26 September 2026 | 13:10

Kapolri Pimpin Kenaikan Pangkat 50 Pati dan 4 PNS Polri

Sabtu, 26 September 2026 | 12:35

Selengkapnya