Berita

Massa aliansi menggeruduk DPRD Kaltim, Senin 4 Mei 2026. (Foto: Istimewa)

Publika

Kawat Berduri Dijebol, Hamas Sudah Ngacir ke Magelang

SELASA, 05 MEI 2026 | 05:17 WIB

SUDAH diumumkan jauh hari, rakyat Kaltim akan unjuk rasa ke gedung DPRD. Bukannya dihadapi, malah ngacir. 

Untuk kedua kali Hasanuddin Mas’ud alias Hamas ogah ketemu rakyatnya. Hak Angket yang diperjuangkan rakyat masih alot. 

Samarinda malam ini mendidih. Rakyat Kaltim datang lagi. Aksi Jilid 2, Senin 4 Mei 2026. Bukan bawa proposal, tapi bawa kesabaran yang sudah di-logout paksa sejak aksi 21 April kemarin.


Mahasiswa, buruh, warga biasa yang sering diremehkan karena tak punya jabatan, justru menunjukkan satu hal, kalau perut lapar dan kepala panas, pagar besi itu cuma dekorasi. 

Benar saja, kawat berduri di Gedung DPRD Kaltim Karang Paci akhirnya jebol. Rakyat masuk. Bukan buat selfie, tapi buat audit moral wakilnya yang entah masih punya atau sudah dijual satu paket dengan fasilitas negara.

Sementara rakyat dorong pagar, di dalam sana mungkin masih ada yang sibuk dorong anggaran. 

Rp25 miliar untuk renovasi rumah jabatan gubernur dan wakil. Isinya? Kursi pijat Rp125 juta, biar nyaman duduk saat dengar keluhan rakyat yang tak pernah selesai. 

Ada akuarium air laut, ikan-ikannya mungkin lebih sehat dari fasilitas puskesmas. Lalu Rp8,5 miliar untuk mobil dinas, biar cepat melaju menjauh dari masalah, bukan mendekat ke rakyat.

Di luar sana, rakyat masih jungkir balik cari pendidikan layak, berobat pakai doa tambahan karena biaya mahal, dan ekonomi yang lebih sering memihak yang sudah kenyang. 

Tapi di atas, solusi yang muncul justru TAGUPP (Tim Ahli Gubernur untuk Percepatan Pembangunan). Kedengarannya keren, sampai kita lihat isinya, ada adik kandung gubernur sendiri, Hijrah Mas’ud. 

Ini bukan lagi percepatan pembangunan, ini percepatan silaturahmi keluarga di lingkar kekuasaan.

Sekitar 2.000 sampai 2.500 massa datang bukan untuk jalan-jalan malam. Mereka mengawal satu tuntutan, Hak Angket. 

Tujuh fraksi DPRD sebelumnya sudah sepakat. Harusnya tinggal ketok palu. Tapi wak, di politik kita, palu itu kadang bukan alat keputusan, tapi alat tunda.

Rapat digelar. Dari sore sampai malam. Lampu menyala, kopi mungkin berganti-ganti gelas. 

Tapi hasilnya? Nihil. Masih “dibahas”. Kata paling sakti yang bisa bikin waktu berhenti, logika mati, dan rakyat disuruh sabar tanpa tanggal pasti.

Nah, ini bagian paling plot twist, eh bukan, plot kabur. Ketua DPRD Kaltim, Hasanuddin Mas’ud, justru tidak ada di tempat. 

Katanya lagi retret di Magelang. Pian, rakyat lagi dobrak pagar, beliau malah “healing”. Ini bukan lagi absen. Ini strategi ninja, menghilang saat keadaan genting. 

Rakyat datang dengan amarah, beliau menjawab dengan ketenangan batin. Sinkron? Jelas tidak. Tapi lucu? Iya, kalau tidak ditangisi.

Yang tersisa di gedung itu hanya perwakilan yang mengulang mantra klasik, “kami menghargai aspirasi.” Kalimat yang kalau dikumpulkan sejak dulu, mungkin sudah bisa jadi monumen kebohongan nasional.

Malam makin gelap, tapi massa tetap terang, karena mereka sadar, kalau lengah sedikit, tuntutan bisa dikubur diam-diam seperti file korup yang sengaja dihapus. 

Mereka berdiri di sana bukan cuma melawan pagar, tapi melawan tradisi lama: politik yang lebih cepat lari daripada tanggung jawab.

Hari ini rakyat Kaltim sudah membuktikan satu hal, kawat berduri bisa ditembus, pagar besi bisa dihancurkan. Tapi yang paling sulit dijebol ternyata bukan itu, melainkan mental elite yang alergi pada kejujuran.

Kesimpulannya begini, rakyat berhasil masuk ke halaman DPRD, tapi DPRD sendiri sepertinya sudah keluar duluan, minimal secara mental, ketuanya secara fisik. 

Tinggal satu pertanyaan menggantung seperti janji kampanye, kalau rakyat terus datang, apakah wakil rakyat akan terus pergi? Atau nanti sekalian saja gedung itu dikunci dari dalam, biar benar-benar jadi museum janji kosong.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya