Berita

Ilustrasi kekerasan seksual. (Foto: Istimewa)

Publika

Ashari Menghilang, Belum Ditangkap Polisi

SELASA, 05 MEI 2026 | 01:16 WIB

KITA lanjutkan kisah Ashari yang belum bisa ditangkap. Ada yang berseloroh, hebat ilmunya, amalan apa yang dipakai sampai tak tersentuh hukum. 

Ashari di Pati, statusnya sudah tersangka sejak akhir April 2026, tapi wujudnya sekarang seperti hantu siang bolong. Ada di data, hilang di kenyataan.

Kasusnya bukan remeh temeh. Diduga mencabuli hampir 50 santriwati di bawah umur sejak 2024 sampai 2026. Ada saksi berjubel, bukti cukup. Kabarnya ada korban sampai hamil. 


Modusnya klasik tapi mematikan, doktrin sesat, ancaman diusir, lalu ditutup dengan klaim “wali keturunan Nabi” seolah-olah silsilah bisa jadi kartu bebas dosa. Ini bukan sekadar penyimpangan, ini penghancuran sistematis terhadap akal sehat dan masa depan anak-anak.

Tapi yang bikin cerita ini naik kelas dari tragis jadi absurd adalah satu bab penting, ini bukan pertama kali dia tersentuh hukum. 

Dulu, katanya pernah dilaporkan ke polisi. Sudah masuk radar. Sudah sempat jadi pembicaraan. 

Tapi entah bagaimana, semua seperti bisa “diatur”. Kasusnya meredup, lenyap, hilang seperti embun disapu matahari. Publik lupa, sistem lega, dan sang pelaku… lanjut beroperasi, menikmati daun muda.

Sekarang? Episode baru dimulai. Status tersangka sudah disematkan. Tapi lihat polanya, publik jadi bertanya dengan nada getir, ini bakal jadi pengulangan musim lama atau benar-benar ending baru? 

Karena tanda-tandanya kok déjà vu. Tersangka ada, tapi belum ditahan, lalu… menghilang. Wah, jangan-jangan “pengaturan jilid dua” sedang tayang, hanya dengan skenario yang sedikit diperbarui.

Tanggal 2 Mei 2026, ribuan warga Pati sudah geruduk pondoknya. Spanduk “Ashari Predator Seks” beterbangan, suasana panas seperti panci presto yang lupa dimatikan. 

Tapi tokoh utamanya? Nihil. Yang muncul malah Ketua Yayasan, Ahmad Shodiq. Dengan wajah setenang air galon, dia bilang, “Saya bukan pelaku,” lalu mengumumkan santriwati dipulangkan dalam 3x24 jam.

Luar biasa. Tragedi sebesar ini ditangani seperti pengumuman jadwal bus.

Kementerian Agama ikut tampil. Tentu saja dengan gaya khas. Tegas dalam kata, elegan dalam pernyataan. Dukung proses hukum, hentikan pendaftaran santri baru, ancam cabut izin permanen. 

Tiga opsi disusun rapi. Tutup sementara, ganti pengasuh, atau tutup total. 

Semua terdengar seperti solusi. Tapi di lapangan, pelaku yang seharusnya jadi pusat perhatian malah seperti pemain cadangan yang tidak pernah dipanggil masuk.

Polisi? Sudah menetapkan tersangka, tapi belum bisa menangkap. Ini bagian yang bikin publik tersenyum pahit. 

Di satu sisi, negara terlihat bekerja. Di sisi lain, hasilnya seperti sinetron. 

Penuh dialog, minim aksi. Pertanyaannya jadi makin tajam, ini benar-benar sulit ditangkap, atau terlalu mudah untuk “diatur”?

Korban sudah menanggung luka yang mungkin seumur hidup. Orang tua mereka menangis bukan lagi air mata, tapi seperti darah yang diperas dari keputusasaan. Sementara itu, sang tersangka seperti punya mode “ghosting” menghilang tepat saat hukum mendekat.

Masyarakat Pati sudah muak. Muak itu tidak lahir dari satu peristiwa, tapi dari pola berulang. Laporan dulu hilang, sekarang tersangka menghilang. Jika ini terus terjadi, jangan salahkan publik kalau mulai percaya, yang hilang di negeri ini bukan cuma pelaku, tapi juga keberanian menegakkan hukum tanpa kompromi.

Akhirnya kita sampai pada satu kalimat yang terdengar seperti lelucon, tapi terlalu nyata untuk ditertawakan. Di sini, yang sulit bukan mencari pelaku, tapi memastikan dia benar-benar ditangkap.

Kalau nanti tiba-tiba kasus ini kembali “tenang”, publik mungkin tidak akan kaget. Karena mereka sudah hafal skripnya. Laporan masuk, gaduh sebentar, lalu… diatur.

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya