Berita

Terdakwa korupsi satelit Kemhan, Laksamana Muda (Purn) TNI Leonardi. (Foto: Dok. Pribadi)

Hukum

Terdakwa Korupsi Satelit Kemhan Sebut Proyek Arahan Jokowi

SELASA, 31 MARET 2026 | 22:30 WIB | LAPORAN: JAMALUDIN AKMAL

Pengadilan Militer II-08 Jakarta menggelar sidang perdana perkara dugaan korupsi proyek pengadaan satelit slot orbit 123 derajat Bujur Timur di Kementerian Pertahanan RI periode 2012-202.

Dalam sidang tersebut, Laksamana Muda (Purn) TNI Leonardi didakwa bersama dua pihak lainnya, yakni Thomas dan CEO Navayo International AG, Gabor Kuti Szilard atas dugaan tindak pidana korupsi yang disebut merugikan negara hingga Rp306,8 miliar.

Mantan pejabat pembuat komitmen (PPK) Kementerian Pertahanan (Kemhan) itu menegaskan dirinya menolak seluruh dakwaan yang dibacakan oditur militer. Ia menyebut proyek pengadaan satelit merupakan kebijakan strategis atas arahan Presiden ke-7, Joko Widodo.


"Pengadaan satelit slot orbit 123 derajat Bujur Timur ini adalah arahan Presiden Joko Widodo, beliau mengamanatkan agar amankan slot orbit 123 bujur timur jangan sampai diambil negara lain dan penggunaan frekuensi L Band-nya," kata Leonardi di Pengadilan Militer Tinggi II Jakarta, Selasa, 31 Maret 2026.

Menurutnya, penugasan kepada Kemhan dilakukan untuk menjaga kepentingan nasional, khususnya terkait penguasaan slot orbit dan frekuensi strategis.

"Sehingga ditugaskanlah Kementerian Pertahanan untuk pengadaan, di mana nanti gunanya adalah untuk kepentingan pertahanan negara dan kepentingan nasional lainnya," ujar Leonardi.

Leonardi juga menyinggung kondisi terkini satelit tersebut yang disebut sudah tidak menjadi milik Indonesia.

Dari sisi teknis, ia menegaskan proses pengadaan berjalan sesuai ketentuan Peraturan Menteri Pertahanan nomor 17/2014. Ia menilai adanya persoalan justru terjadi pada tahap penerimaan hasil pekerjaan yang tidak melibatkan dirinya sebagai PPK.

"Penerimaan oleh individu-individu yang tidak tahu bagaimana berkoordinasi sama pihak Navayo. Dari sini, berarti ada yang salah. Saya tidak mungkin melaksanakan pekerjaan ini sendiri karena sistem," jelasnya.

Terkait kerugian negara yang didakwakan sebesar Rp306,8 miliar, Leonardi membantah adanya kerugian nyata karena hingga saat ini belum ada pembayaran dari negara.

"Sampai sekarang negara belum bayar, enggak bayar apa-apa. Enggak ada uang yang hilang, enggak ada yang bayar dan enggak ada yang terima," ujarnya.

Ia juga menyebut bahwa ancaman penyitaan aset Indonesia di luar negeri tidak lagi relevan setelah adanya putusan tribunal paris yang membatalkan klaim pihak lawan.

"Jadi enggak punya hak untuk menyita, enggak akan ada kerugian negara yang konkret. Sita menyita itu enggak ada," tegasnya.

Di akhir pernyataannya, ia berharap proses peradilan berjalan objektif serta meminta perhatian dari presiden, pimpinan TNI, dan masyarakat agar melihat perkara ini secara jernih.

"Saya melaksanakan tugas sesuai perintah atasan dengan dedikasi yang kuat, dengan motivasi yang baik. Itu yang terjadi. Semoga Allah SWT memberikan petunjuk kebijaksanaan kepada para hakim untuk bisa memeriksa dan memutuskan dengan benar dan seadil-adilnya," pungkasnya.

Senada, kuasa hukum Leonardi, Rinto Maha menilai dakwaan oditur militer cenderung mengada-ada. Ia menyebut konstruksi perkara tidak didukung bukti konkret serta bertentangan dengan prinsip kerugian negara yang harus bersifat nyata.

"Saya sudah baca itu dakwaan, aneh, imajiner, dan tidak masuk di akal, ada orang mengaku rugi ratusan miliar (padahal) bayar saja belum," tegas Rinto.

Populer

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Anak SMA Peserta Cerdas Cermat MPR Ramai-ramai Dibully Juri dan MC

Senin, 11 Mei 2026 | 14:27

Tuntutan Seret Jokowi ke Pengadilan terkait Kasus Nadiem Mengemuka

Jumat, 15 Mei 2026 | 00:02

Jokowi Boleh Keliling Indonesia Asal Tunjukkan Ijazah Asli

Rabu, 20 Mei 2026 | 01:33

Bebaskan Nadiem, Lalu Adili Jokowi

Senin, 18 Mei 2026 | 02:46

UPDATE

Wall Street Menguat Terdorong Perkembangan Konflik Iran-AS

Kamis, 21 Mei 2026 | 08:18

Dolar AS Terkoreksi, Indeks DXY Turun ke 99,10

Kamis, 21 Mei 2026 | 08:07

Warga AS dari Zona Ebola Dievakuasi ke Eropa

Kamis, 21 Mei 2026 | 07:50

Di DK PBB, Indonesia Kutuk Serangan RS Gaza dan Penahanan 9 WNI

Kamis, 21 Mei 2026 | 07:38

RUPST Solid 89,53 Persen, AGRO Resmi Jalankan Peta Besar 2030

Kamis, 21 Mei 2026 | 07:32

Logam Mulia Global Bangkit, Emas Spot Melesat 1,1 Persen

Kamis, 21 Mei 2026 | 07:14

STOXX dan DAX Terbang, Investor Borong Saham Bank dan Semikonduktor

Kamis, 21 Mei 2026 | 07:00

Mahalnya Harga Sebuah Kepercayaan Pasar

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:41

Prabowo Minta Pimpinan Bea Cukai Diganti Bukan Teguran Biasa

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:17

Mengungkap Investor Kabur Bikin Rupiah Anjlok

Kamis, 21 Mei 2026 | 06:09

Selengkapnya