Berita

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu/Net

Dunia

AS Dukung Aksi Israel Setop Bantuan Gaza sampai Hamas Turuti Gencatan Senjata

SENIN, 03 MARET 2025 | 10:52 WIB | LAPORAN: HANI FATUNNISA

Keputusan Israel untuk menghentikan pengiriman bantuan ke Gaza hingga Hamas menyetujui perpanjangan gencatan senjata mendapat dukungan dari Amerika Serikat 

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih Brian Hughes menegaskan bahwa Israel telah bernegosiasi dengan itikad baik sejak awal pemerintahan ini untuk memastikan pembebasan sandera yang ditawan oleh teroris Hamas.  

Untuk itu, apapun tindakan yang diambil dalam upaya mencapai gencatan senjata dengan Hamas akan didukung AS.


"Kami akan mendukung keputusan mereka tentang langkah selanjutnya mengingat Hamas telah mengindikasikan tidak lagi tertarik pada gencatan senjata yang dinegosiasikan," kata Hughes, seperti dimuat Associated Press pada Senin, 3 Maret 2025.

Sebelumnya pada Minggu, 2 Maret 2025, pejabat Israel mengumumkan penghentian masuknya semua barang dan pasokan ke Jalur Gaza. Pemerintah Israel juga memperingatkan Hamas bahwa akan ada konsekuensi tambahan jika kelompok tersebut tidak menerima proposal baru untuk perpanjangan gencatan senjata.  

"Mulai pagi ini, masuknya semua barang dan pasokan ke Jalur Gaza dihentikan," bunyi pernyataan dari kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di platform media sosial X. 

"Israel tidak akan mengizinkan gencatan senjata tanpa pembebasan sandera kami. Jika Hamas tetap menolak, akan ada konsekuensi tambahan," lanjut pernyataan tersebut. 

Hamas menuduh Israel berusaha menggagalkan gencatan senjata yang rapuh dan menyebut keputusan penghentian bantuan sebagai pemerasan murahan serta kejahatan perang.

"Ini mencerminkan wajah kriminalnya yang buruk dan merupakan kelanjutan dari genosida terhadap rakyat kami, serta tindakan pemerasan yang menargetkan seluruh penduduk dengan merampas makanan, air, dan obat-obatan dari mereka," kata Hamas dalam pernyataannya.  

Fase pertama gencatan senjata Israel-Hamas yang mencakup peningkatan bantuan kemanusiaan berakhir pada Sabtu, 1 Maret 3025

Kedua belah pihak belum mencapai kesepakatan untuk fase berikutnya, di mana Hamas diminta membebaskan puluhan sandera yang tersisa sebagai imbalan atas penarikan pasukan Israel dan gencatan senjata permanen.  

Menurut pejabat Israel, keputusan menangguhkan bantuan dibuat dengan koordinasi dengan pemerintahan Trump. Usulan perpanjangan gencatan senjata hingga Ramadan dan Paskah (20 April) diajukan oleh utusan Timur Tengah pemerintahan Trump, Steve Witkoff.  

Pada fase pertama gencatan senjata, Hamas telah membebaskan 25 sandera Israel dan jenazah delapan orang lainnya dengan imbalan hampir 2.000 warga Palestina yang dipenjara oleh Israel. Israel juga menarik pasukan dari sebagian besar Gaza dan mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan.  

Namun, kedua belah pihak saling menuduh melanggar kesepakatan. Hamas kini menuduh Israel melakukan pelanggaran lain dengan menangguhkan bantuan.  

Perang dimulai ketika Hamas melancarkan serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menculik lebih dari 251 orang. Saat ini, Hamas masih menahan 59 sandera, di mana 32 di antaranya diyakini telah tewas.  

Sebagai tanggapan, Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Gaza. Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 48.000 warga Palestina telah tewas sejak perang dimulai.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Wabah DBD Bangladesh Makin Parah, 42.590 Dirawat dan 117 Lainnya Meninggal Dunia

Senin, 07 September 2026 | 12:27

Purbaya Ajukan Anggaran Kemenkeu Rp49,8 Triliun di 2027

Senin, 07 September 2026 | 12:14

Public Expose Live 2026, 45 Emiten Siap Buka Kinerja dan Prospek Usaha

Senin, 07 September 2026 | 12:04

Kini Giliran Ketua dan Wakil Ketua DPRD Kota Bengkulu Dipanggil KPK

Senin, 07 September 2026 | 11:53

Komisi VIII DPR Desak Pemerintah Perkuat Kesiapsiagaan Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:41

Wamenhaj Tekankan Revitalisasi KBIHU dan Pelindungan Jemaah dari Travel Bermasalah

Senin, 07 September 2026 | 11:33

Harga Minyak Naik Lagi Sentuh Level 96 Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:25

Ombudsman Soroti Peredaran Narkoba dan Pungli di Lapas

Senin, 07 September 2026 | 11:21

Cadangan Devisa RI Agustus 2026 Capai Rp2.582 Triliun, Naik 1,2 Miliar Dolar AS

Senin, 07 September 2026 | 11:19

Belanja Mitigasi Jadi Investasi Hadapi Erupsi Gunung Api

Senin, 07 September 2026 | 11:12

Selengkapnya