Berita

Rishi Sunak PM Inggris Rishi Sunak dan Presiden Jokowi/Net

Dahlan Iskan

Bintang Bintang

RABU, 16 NOVEMBER 2022 | 04:07 WIB

BEBERAPA bintang moncer di G20 Bali: Jokowi, Joe Biden, Xi Jinping, Rishi Sunak, Justin Trudeau, Narendra Modi, Elon Musk, Zhangpeng Zhao, Shinta Kamdani, Hyundai dan Wuling.

Tuan rumah tampil nyaris sempurna. Tidak ada gejolak apa pun. Ketidakhadiran Vladimir Putin dari Rusia mungkin malah jadi berkah kelancaran. Betapa stresnya tuan rumah kalau Putin hadir –dan Biden ngambek, diikuti Rishi Sunak.

Tokoh yang berhasil curi perhatian adalah Justin Trudeau dari Kanada dan Sunak dari Inggris.


Trudeau, Anda sudah tahu, memang begitu. Muda, santai, informal, dan longgar. Bahwa Sunak ikut kaya Trudeau mungkin karena sama-sama muda. Keduanya pilih ber-KTT di sebuah kafe. Tanpa jas. Sangat informal. Trudeau memesan bir Bintang. Sunak minum Mango Spritz –karena memang tidak pernah minum alkohol.

Meski tanpa alkohol, di forum G20 keesokan harinya Sunak ''mabuk''. Ia mengecam Rusia dengan kecaman paling keras. Lebih keras dari Biden dan Presiden Ukraina Zelenskyy sendiri.

Bahkan Sunak ikut mengecam dua negara yang bersikap netral di Ukraina: Tiongkok dan India. Serangan ke Ukraina sudah jelas membuat krisis dunia. Harusnya seluruh negara yang ada di G20 menghukum Rusia.

Sunak memang lagi menghadapi tantangan keras dari internal partainya di Inggris. Ia yang sudah keras itu dianggap kurang keras terhadap Tiongkok.
Sunak berprinsip: kenyataannya Tiongkok adalah salah satu kekuatan ekonomi terbesar dunia. Tidak ada pemecahan perkara besar dunia tanpa melibatkan Tiongkok. Termasuk soal perang di Ukraina.

Pun di acara jamuan makan malam, tadi malam di GWK, Sunak sangat menonjol. Beda. Ia pakai hem dengan lengan digulung. Padahal dress code tadi malam itu batik. Jalannya pun paling cepat dari tamu lainnya. Gayanya seperti mahasiswa. Di acara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengunakan kemeja saja.
Narendra Modi jadi bintang karena rumusan jalan tengahnya. Pemimpin India itu membuat istilah ''di zaman ini seharusnya tidak ada lagi perang''.

Itu sebagai pengganti kalimat keras ''mengutuk terjadinya serangan Rusia ke Ukraina''. Lewat rumusan Modi itu secara tidak langsung semua negara sudah menyatakan tidak setuju dengan serangan Rusia ke Ukraina. Tanpa menyebabkan G20 pecah.

Tentu Biden-Jinping menjadi bintang utama. Tiga jam mereka baku dapa kali pertama sebagai sesama presiden. Pun masing-masing sudah menyampaikan garis merah yang tidak boleh saling dilewati.

'Biden tampak sekali menekankan: dalam hal Taiwan tidak ada perubahan sikap lama Amerika. Dan itu sudah dipegang puluhan tahun: hanya mengakui satu China, tapi melindungi Taiwan secara militer.

Yang dikhawatirkan Tiongkok adalah: Amerika akan mengakui Taiwan sebagai negara merdeka. Berarti akan ada dua China.

Jaminan Biden itu kelihatannya dianggap cukup. Yang penting Taiwan tidak merdeka. Berarti Tiongkok harus bekerja keras agar bisa membuat Taiwan kembali ke Tiongkok secara damai. Atau sekalian memancing Taiwan agar menyatakan diri merdeka, agar ada alasan menyerbunya.
Tapi di zaman ini tidak seharusnya ada lagi perang.

Yang menggembirakan: keduanya sepakat pertemuan di Bali itu diteruskan dengan kunjungan tingkat menteri. Biden segera mengirim menlunya ke Beijing. Demikian juga sebaliknya, Jinping.

"Tidak akan ada lagi perang dingin di zaman ini. Apalagi perang panas," ujar Biden.

Yang Biden juga tegaskan ke Jinping adalah soal Korea Utara. Agar Tiongkok mengerem Kim Jong-un. Hanya Tiongkok yang bisa mengendalikannya. Secara tidak langsung Biden bilang begitu.

Tiongkok kelihatannya memang menggunakan Jong-un untuk melampiaskan kekecewaannya pada Amerika. Khususnya soal pemasangan alat pengintai terbesar di Korsel. Yang sampai bisa mengawasi Tiongkok. Biden mengatakan, itu untuk mengawasi Korea Utara. Amerika harus melakukan itu untuk melindungi sekutunya: Korsel dan Jepang.

Rasanya Biden juga minta Jinping untuk berperan mengakhiri perang di Ukraina. Mungkin saja bisa. Yang sulit adalah mencarikan alasan agar Rusia mundur dari Ukraina.

Apakah mungkin dicarikan komitmen dari Barat: Ukraina tidak akan diterima menjadi anggota NATO. Ini cukup alasan bagi Rusia untuk mengakhiri perang. Sedang pengeluaran bantuan untuk perang bisa diabadikan untuk pembangunan ekonomi Ukraina.

Yang jelas Bali mencatatkan diri sebagai tempat terjadinya titik tolak peredaan ketegangan dunia.

Di luar agenda politik, bintang yang moncer adalah Shinta Kamdani. Pengusaha besar yang masih muda ini sukses menjadi pengendali B20. Itulah pertemuan besar kalangan bisnis dari 20 negara anggota G20.

Elon Musk hadir di B20 meski lewat layar. Ia mendadak tidak bisa ke Bali karena banyaknya ''piring di meja'' nya. Sejak mengambil alih Twitter, Elon memang terlalu banyak pekerjaan. Bagi orang sekelas Elon rupanya mudah saja mendadak membatalkan komitmennya datang ke Bali. Ia memang harus menyelamatkan investasinya yang USD 44 miliar.

Meski begitu, Elon tidak kurang sensasional. Ia tampil di layar dengan latar belakang gelap. Hanya bagian wajahnya yang terang. Listrik lagi padam, katanya. Ia menggunakan lilin.

Zhangpeng Zhao harusnya juga menarik. Ia pioneer di bisnis bitcoin. Ia kaya raya. Ia berbagi gambaran masa depan mata uang baru itu.

Zhao orang Kanada. Lahir di Jiangshu, dekat Shanghai. Orang tuanya, dosen, bermigrasi ke Kanada ketika Zhao berumur 12 tahun. Ia kuliah komputer di McGill University.

Di B20 ini nama Shinta Wijaya Kamdani benar-benar meroket. Dialah yang membuat forum bisnis B20 itu terkelola dengan baik. Ia lulusan Harvard Business School. Dia CEO grup  perusahaan besar miliknya. Dia putri pemilik grup usaha Tigaraksa. Dia wakil ketua Kadin Indonesia.

Lebih 3.000 pengusaha ikut tumplek di Bali. Termasuk untuk menghadiri forum investasi. Maka boleh dikata, G20 Bali sukses di bidang politik dan bisnis.
Dan juga sukses bagi Hyundai dan Wuling.


Bintang G20 yang paling dipuja perusuh Disway pasti yang satu ini: istri perdana menteri Korea Selatan. Yang glowingnyi sampai dikira bintang film Korea.

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Kasus Bansos, Kabulog Jateng hingga Pejabat Pemkab Brebes dan Jember Diperiksa KPK

Rabu, 09 September 2026 | 14:28

Purbaya Bakal Tarik Dana Daerah yang Mengendap Rp100 Triliun di Bank

Rabu, 09 September 2026 | 14:26

Rumah Digeledah, Direktur PT CMC Diperiksa KPK Hari Ini

Rabu, 09 September 2026 | 14:06

Rugikan Negara Rp35,7 Miliar, KPK Panggil Direktur PT Brantas Abipraya

Rabu, 09 September 2026 | 13:49

Kata Bonjopi, Persib si Raja Comeback

Rabu, 09 September 2026 | 13:39

Punya 12 Pabrik Sawit, Legislator Nilai Sintang Cocok Jadi Basis Produksi B50

Rabu, 09 September 2026 | 13:29

Pakistan: Serangan Houthi ke Saudi Bisa Aktifkan Pakta Pertahanan Mekkah

Rabu, 09 September 2026 | 13:27

PISA 2025 Tak Banyak Bergerak, Indonesia Sedang Menormalisasi Krisis Pembelajaran

Rabu, 09 September 2026 | 13:02

Penyaluran B50 Tembus 3,4 Juta KL, 94 Persen SPBU Sudah Salurkan Biodiesel

Rabu, 09 September 2026 | 12:47

Tim SAR Diminta Maksimalkan Pencarian Lima Jurnalis Hilang Kontak di Anak Krakatau

Rabu, 09 September 2026 | 12:38

Selengkapnya