Berita

Rudal balistik antarbenua DF-5B /Net

Dunia

AS Tingkatkan Anggaran Pertahanan, Pakar Sarankan China Perbanyak Senjata Nuklir Berbasis Laut

SABTU, 29 MEI 2021 | 09:19 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Munculnya laporan mengenai peningkatan anggaran pertahanan baru AS untuk memodernisasi angkatan bersenjatanya demi melawan China, telah mengusik pakar militer negara itu.

Mereka mengatakan, untuk menghadapi ancaman strategis yang serius dari AS, China harus meningkatkan jumlah senjata nuklir, terutama penangkal nuklir berbasis laut dari rudal balistik yang diluncurkan oleh kapal selam antarbenua.

"Memiliki persenjataan nuklir yang sesuai dengan posisi China akan membantu menjaga keamanan nasional, kedaulatan dan kepentingan pembangunan serta membangun tatanan dunia yang lebih stabil dan damai, yang akan bermanfaat bagi dunia," kata mereka, seperti dikutip dari Global Times, Jumat (28/5).


Sebelumnya Reuters melaporkan pada Kamis (27/5), bahwa anggaran pertahanan AS, yang akan dikirim ke Kongres pada hari Jumat, diharapkan mencakup investasi dalam kesiapan pasukan, luar angkasa, dan Prakarsa Pencegahan Pasifik yang bertujuan untuk melawan keberadaan militer China di wilayah tersebut.

AS dilaporkan akan membeli kapal dan jet serta mengembangkan dan menguji senjata hipersonik dan sistem senjata 'generasi mendatang' lainnya untuk membangun kemampuan untuk melawan Rusia dan China.

"Total anggaran keamanan nasional AS akan menjadi 753 miliar dolar AS, meningkat 1,7 persen dari angka 2021" laporan Reuters.

China sendiri telah mempertahankan pengeluaran pertahanannya sekitar 1,3 persen dari PDB dalam beberapa tahun terakhir, yang jauh di bawah rata-rata tingkat global 2,6 persen, data menunjukkan.

Sejauh ini AS merupakan negara yang paling boros dalam hal anggaran militer, menjadi terbesar di dunia. Mereka telah menghabiskan sekitar empat kali lipat dari China dalam beberapa tahun terakhir.

Analis mengatakan China tidak pernah membidik pengeluaran militer AS, China juga tidak ingin terlibat dalam segala bentuk perlombaan senjata dengan AS.

Tetapi AS telah menerapkan tekanan militer yang lebih besar ke China, mengirim kapal perang dan pesawat tempur dengan frekuensi yang meningkat ke Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

AS juga sedang mempersiapkan apa yang oleh media AS disebut sebagai "latihan angkatan laut terbesar dalam satu generasi dengan 25.000 personel di 17 zona waktu," karena sedang mempersiapkan 'kemungkinan konflik' dengan China dan Rusia.

Ahli militer China Song Zhongping mengatakan, AS berusaha memperdalam militerisasi ruang angkasa dengan rencana anggaran barunya, termasuk investasinya pada senjata masa depan.

"Menimbang bahwa AS menganggap China sebagai musuh imajiner utama, China perlu meningkatkan kuantitas dan kualitas senjata nuklir, terutama rudal balistik yang diluncurkan oleh kapal selam, untuk secara efektif menjaga keamanan nasional, kedaulatan, dan kepentingan pembangunannya," ujarnya.

Beberapa pakar militer juga mengatakan China harus meningkatkan jumlah rudal balistik antarbenua (ICBM) paling canggih, DF-41, yang memiliki jangkauan operasional terpanjang di antara semua ICBM China.

Song mengatakan bahwa memperkuat pencegahan nuklir strategis berbasis laut juga merupakan arah penting bagi perkembangan masa depan China, karena senjata ini lebih baik dalam serangan siluman dan nuklir sekunder.

"China dapat menggunakan rudal balistik yang diluncurkan kapal selam (SLBM) paling canggih untuk secara efektif melawan ancaman AS," kata Song.

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Bakom RI Gandeng Homeless Media Perluas Komunikasi Pemerintah

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:17

Bakom Rangkul Homeless Media, Komisi I DPR: Layak Diapresiasi tetapi Tetap Harus Diawasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:12

Israel Kucurkan Rp126 Triliun demi Pulihkan Citra Global yang Kian Terpuruk

Kamis, 07 Mei 2026 | 14:11

Teguh Santosa: Nuklir Jangan Dijadikan Alat Tawar Politik Global

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:55

AS-Iran di Ambang Kesepakatan Damai

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:34

LHKPN Prabowo dan Anggota Kabinet Merah Putih Masih Tahap Verifikasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:22

Apa Itu Homeless Media Dan Mengapa Populer Di Era Digital Saat Ini

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

Tangguh di Level 7.117, IHSG Menguat 0,36 Persen di Sesi I

Kamis, 07 Mei 2026 | 13:13

China dan Iran Gelar Pertemuan Penting Bahas Situasi Timur Tengah

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:46

Industri Film Bisa jadi Sumber Pertumbuhan Ekonomi Baru

Kamis, 07 Mei 2026 | 12:15

Selengkapnya