Berita

Penampilan terakhir Aleksei Navalny di depan umum melalui tautan video di pengadilan selama sidang banding pada akhir bulan April 2021, nampak kurus dan mengatakan dia mulai makan beberapa sendok bubur sehari/Net

Dunia

Resep Sederhana Menjadi Bahagia Di Dalam Penjara Ala Kritikus Navalny

JUMAT, 21 MEI 2021 | 07:13 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Berdamai dengan situasi dan kondisi adalah jalan terakhir yang harus ditempuh. Politisi oposisi Rusia, Aleksei Navalny, akhirnya mencoba untuk bisa menerima keadaannya saat ini dan mengatakan ia telah menemukan resep untuk 'menjadi bahagia di penjara'.

Kondisinya kini telah jauh lebih baik setelah berhasil melalui aksi mogok selama hampir satu bulan lamanya.

Aksi mogok makannya itu dilakukan karena ia menuntut agar diperiksa oleh dokternya sendiri di tengah apa yang oleh para pendukungnya digambarkan sebagai 'kampanye yang disengaja' oleh petugas penjara untuk merusak kesehatannya, yang dianggap rapuh karena dia masih dalam pemulihan dari serangan racun tahun lalu.


"Dua puluh tiga hari melakukan mogok makan dan 23 hari menguranginya dengan cara yang sangat ketat dan konservatif," tulis Navalny dalam posting pertamanya di Instagram, seperti dikutip dari AFP, Kamis (20/5).

"Tekadku ini mengejutkanku sendiri."

Minggu lalu dia makan roti, makanan favoritnya, untuk pertama kalinya dalam 46 hari dan lebih bahagia daripada seorang oligarki yang makan di kapal pesiarnya atau tamu dari 'restoran berbintang Michelin', menurut Navalny dengan sindirannya.

"Jadi resep untuk kebahagiaan: pilihlah apa yang sangat Anda cintai, lepaskan diri Anda untuk sementara waktu, lalu kembali ke sana," katanya.

Kantor berita negara Tass mengutip kepala Dinas Pemasyarakatan Federal Rusia, Aleksandr Kalashnikov, Kamis (20/5) yang mengatakan bahwa kritikus nomor satu Kremlin itu telah pulih, kurang lebih.

Navalny menjalani hukuman penjara atas tuduhan penggelapan yang katanya dibuat-buat karena aktivitas politiknya.

Pria berusia 44 tahun itu telah ditahan sejak Januari, ketika dia kembali ke Rusia setelah berminggu-minggu menjalani perawatan medis di Jerman karena keracunan zat saraf pada bulan Agustus yang menurutnya dilakukan oleh petugas dari Dinas Keamanan Federal (FSB) di atas perintah Putin.

Kremlin membantah peran apa pun dalam peracunan itu.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Prabowo Kumpulkan Petinggi Militer

Jumat, 07 Agustus 2026 | 04:25

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

UPDATE

Korban Jiwa Gempa NTT Bertambah jadi 53 Orang, 135 Warga Luka-Luka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:27

Rusak Berat Diguncang Gempa, Hotel Jayakarta Suites Komodo Flores Tutup Sementara

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:43

SBY Minta Maaf

Minggu, 16 Agustus 2026 | 19:15

Tembus Jalur Laut, Bantuan Gempa M 7,7 Disalurkan ke Pulau Palue Sikka

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:47

Polri Terbangkan 10 Anjing K9 untuk Cari Korban Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 18:12

3,4 Ton Logistik untuk NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:50

Reza Aulia Diberhentikan, Kursi Direktur Niaga Garuda Kosong

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:40

Kemendikdasmen Jangan Lamban Merespons Gempa NTT

Minggu, 16 Agustus 2026 | 17:04

Retorika Janji Kemerdekaan

Minggu, 16 Agustus 2026 | 16:35

Jalur Alternatif Darat Penghubung Ende-Nagekeo Masih Terputus

Minggu, 16 Agustus 2026 | 15:33

Selengkapnya