Berita

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov/Net

Dunia

Rusia Masukkan AS Dalam Daftar Negara Tidak Ramah, Menlu: Hubungan Moskow-Washington Lebih Buruk Daripada Perang Dingin

KAMIS, 29 APRIL 2021 | 07:17 WIB | LAPORAN: RENI ERINA

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan Amerika Serikat akan masuk dalam daftar 'negara tidak ramah' berdasarkan hubungan Moskow dengan Washington yang sangat buruk belakangan ini.

Namun begitu, Lavrov memastikan bahwa Rusia siap untuk menormalisasi hubungan dengan AS asalkan negara itu berhenti bersikap seperti 'Raja' dan menggalang sekutunya melawan Rusia dan China. Namun, jika AS menghindari upaya dialog maka bukan tidak mungkin hubungan kedua negara akan jauh lebih buruk dari Perang Dingin.

"Selama Perang Dingin, ketegangan meningkat tinggi. Beberapa situasi krisis sering muncul, tetapi masih ada rasa saling menghormati," kata Lavrov, dalam wawancara televisi pemerintah Rusia pada Rabu (28/4), dikutip dai AP.


Sementara saat ini, bahkan rasa saling menghormati itu sudah tidak ada lagi.

Pemerintahan Biden telah menampar Rusia dengan sanksi karena ikut campur dalam pemilihan presiden AS 2020 dan karena keterlibatan dalam peretasan SolarWind terhadap badan-badan federal. Mosow sendiri telah membantah keras hal ini.

Kemudian AS mengusir 10 diplomat Rusia dan memberi sanksi pada puluhan perusahaan dan individu. Namun, saat memerintahkan sanksi, Presiden AS Joe Biden juga menyerukan untuk meredakan ketegangan dan membuka pintu untuk kerja sama dengan Rusia di bidang tertentu.

Rusia dengan cepat membalas dengan memerintahkan 10 diplomat AS untuk pergi, memasukkan delapan pejabat AS dan mantan pejabat AS dan memperketat persyaratan untuk operasi Kedutaan Besar AS.

Sebagai bagian dari pembatasan, Rusia melarang Kedutaan Besar AS dan konsulatnya mempekerjakan warga negara Rusia dan warga negara ketiga. Larangan serupa juga akan diterapkan ke negara lain yang ditetapkan sebagai "tidak ramah".

Lavrov mengatakan bahwa daftar negara-negara itu akan segera diterbitkan dalam waktu dekat.

Surat kabar Izvestia melaporkan bahwa ada sepuluh negara yang masuk dalam daftar 'negara tidak ramah' yang perlu diwaspadai karena telah melakukan kebijakan Anti-Rusia.

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Yang Rada Gila

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:23

KPK Wanti-wanti Bantuan Korban Gempa NTT Jangan Dikorupsi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:17

Utang Luar Negeri RI Tembus Rp8.090 Triliun di Triwulan II 2026

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:10

Putin dan Prabowo Bakal Gelar Pertemuan di Vladivostok Awal September

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:09

Pembukaan Rapat Paripurna Diawali Ucapan Duka Cita untuk Korban Gempa

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:06

Menanti Nasib Investasi INA-SRF Usai Menang Gugatan Lawan Kimia Farma

Selasa, 18 Agustus 2026 | 12:02

Penangguhan Penahanan Asrul Azis Taba Ditolak

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:56

BPK Dorong Tata Kelola Kementerian Hukum Naik Kelas

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:46

Kelahiran Anak Gajah Sumatera di Padang Sugihan Jadi Kado Istimewa HUT RI

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:40

Pelemahan Rupiah Bisa Tekan Subsidi hingga Inflasi

Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:34

Selengkapnya