Berita

Jokowi dan Surya Paloh/Net

Publika

Bom Yang Bisa Meledak

JUMAT, 02 AGUSTUS 2019 | 09:52 WIB

YANG naik ke permukaan adalah sengketa jabatan Jaksa Agung. Partai Nasdem tetap ngotot ingin mendapatkannya "Ini jabatan politik" katanya. PDIP mengarahkan agar jabatan itu dipegang oleh profesional dari internal Kejaksaan.

Kedalamannya adalah jabatan tersebut strategis untuk "membela" kawan dan "menekan" lawan. Ya seperti diungkap petinggi Partai Nasdem "jabatan politik". Jabatan yang bisa "memainkan" hukum untuk kepentingan politik. Betapa buruk hukum di bawah kendali politik. Pemerintahan Jokowi lima tahun kebelakang membangun kondisi ini.

Skema besarnya adalah PDIP sebagai pemenang Pemilu 2014 merasa terlangkahi oleh Partai Nasdem. Surya Paloh lebih dominan dalam mengendalikan kekuasaan ketimbang Megawati Soekarnoputri. Meskipun Mega pernah menyebut bahwa Jokowi adalah "petugas partai" namun fakta politiknya Paloh lah sang pengatur itu. Ia yang lebih dulu mensponsori Jokowi.


Kini koalisi TKN berkonfigurasi. Kehadiran Gerindra, khususnya Prabowo ditangkap sebagai penguat manuver politik PDIP. Keakraban Prabowo-Mega membangun simbiosis dalam menekan Jokowi dan mengecilkan Paloh. Paloh mencoba memperkuat pertahanan bersama PPP, PKB dan Golkar dalam menolak Gerindra (PAN dan PKS). SBY dan Demokrat menjadi penonton "mati".

Dua bom yang bisa diledakkan Mega dan PDIP jika kondisi politik merugikannya, yaitu :

Pertama, bom bus Trans Jakarta. Jokowi tertekan karena setelah Udar Pristono maka ancaman kini menghujam ke jantung dirinya. Status Gubernur DKI dulu diajukan dan didukung oleh Prabowo dan Gerindra. Sementara Mega berpasangan dengan Prabowo dalam Pilpres.

Proses peradilan Udar dan lainnya sudah banyak menyebut keterlibatan Jokowi. Nah dengan support "aspirasi rakyat" KPK akan mampu bergerak menuju ke pusat kekuasaan.

Kedua, ini yang lebih menakutkan, yaitu bom hasil Pilpres 2019. Mega dan PDIP pasti tahu bahwa pemenang sebenarnya Pilpres ini adalah Prabowo.

Deklarasi Mega akan dahsyat. Prabowo-Mega yang bersatu dapat memporakporandakan konstelasi. Bom ini bisa menghancurkan Jokowi dan Paloh Cs. Mega ke Cina membawa oleh-oleh syarat untuk menarik Prabowo yang juga didukung kekuatan global pesaing Cina. Demi stabilitas investasi tentunya.

Dapat saja sebagian masyarakat menyatakan bahwa hal itu tidak mungkin sebab PDIP senantiasa bersama Jokowi. Akan tetapi dalam politik praktis dan pragmatis "kepentingan" dapat didahulukan. Kawan dan lawan bisa bergeser-geser. Jokowi itu bukan kader PDIP. Apalagi jika pergeseran itu berdampak pada dukungan rakyat dan kekuatan global.

Kini kondisi menjadi lebih seru karena di belakang atau mungkin di depan Jokowi ada "bom" yang bisa meledak sewaktu-waktu. Menjadi Presiden tidak semudah menjadi tukang kayu. Politik saling menyandera menjadi ciri negara kita.

M. Rizal Fadillah
Pemerhati politik.

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ini Pesan SBY untuk Pemerintahan Prabowo soal Langkah Stabilisasi Ekonomi

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:45

Pengusaha Perikanan jadi Tersangka Kasus Alih Fungsi Lahan di Batang

Kamis, 11 Juni 2026 | 03:19

Atlet Terbaik Taekwondo Asia Siap Tampil di Jakarta pada Agustus Mendatang

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:55

SBY: Masih Tersedia Opsi dan Solusi dari Otoritas Moneter dan Fiskal Kita

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:31

Reformasi MBG dan Menjaga Asa Prabowo

Kamis, 11 Juni 2026 | 02:02

Program MBG Jangan Dihancurkan Gegara Tata Kelola Bermasalah

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:42

Danantara Perkuat Fokus Bisnis Telkom Lewat Pemangkasan Anak Usaha

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:21

Said Didu soal Kasus BGN: Prabowo Betul-betul Dikhianati

Kamis, 11 Juni 2026 | 01:07

Kapuspen TNI: Media Miliki Peran Strategis Mencerdaskan Bangsa

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:50

DPD Minta Dapur MBG yang Sudah Berjalan Jangan Diputus Mendadak

Kamis, 11 Juni 2026 | 00:30

Selengkapnya