Berita

Pengungsi/Press TV

Dunia

PBB: Peningkatan Perdagangan Manusia Di Libya Mengkhawatirkan

RABU, 12 APRIL 2017 | 17:03 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

PBB meningkatkan peringatan terkait meningkatnya jumlah pengungsi yang melewati Libya. Hal itu terkait dugaan perdagangan manusia dan pasar budak serta penahanan dengan tebusan yang berujung pada masalah pelecehan seksual dan kekurangan gizi.

Hasil investigasi PBB yang disampaikan oleh kepala misi Libya untuk migrasi PBB, Othman Belbeisi menemukan bahwa pengungsi biasanya diperdagangkan dengan harga setidaknya 200 hingga 500 dolar. Mereka juga kerap ditahan rata-rata tiga bulan.

Dia menekankan bahwa migran yang dijual di pasar sebagai komoditas dan memperingatkan bahwa menjual manusia telah menjadi tren di kalangan penyelundup.


Banyak pencari suaka digunakan sebagai buruh harian dalam konstruksi dan pertanian. Sebagian dari mereka ada yang dibayar dengan upah rendah, namun sebagian lainnya dipaksa bekerja tanpa upah sebelum dijual lagi kepada pembeli baru.

Dia juga menunjuk nasib yang sangat tragis bahwa pengungsi perempuan sering mengalami pemerkosaan dan dipaksa menjadi pelacur.

Menurut sebuah laporan yang dirilis Selasa oleh lembaga, secara resmi disebut Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), perwakilannya telah berbicara kepada para pengungsi Afrika yang menceritakan pengalaman mereka yang dibeli dan dijual di garasi dan tempat parkir di kota Libya selatan Sabha.

Dalam laporan tersebut, IOM menceritakan kisah seorang pengungsi Senegal yang mengaku dibeli dan dibawa ke rumah majikan pertama di mana ada lebih dari 100 suaka pencari dipukuli dan ditahan sebagai sandera

Ia menjelaskan bahwa ia diminta untuk membayar 300.000 Franc Afrika Tengah untuk pembebasannya. Karena ia tak sanggup membayar, ia pun kemudian kemudian dijual ke orang lain Libya, yang menetapkan harga pembebasannya pada 600.000 CFA.

Pengungsi Senegal itu lebih lanjut berbicara tentang kondisi sanitasi mengerikan dan makanan yang hanya sekali sehari. Ia dapat bebas setelah mendapatkan uang dari keluarganya dan bekerja sebagai penerjemah untuk menghindari pemukulan.

Namun, laporan IOM menambahkan, yang lain tidak begitu beruntung. Mereka yang tidak bisa membayar sering dibunuh atau dibiarkan mati kelaparan. Mereka dikuburkan tanpa diidentifikasi.

“Apa yang kita tahu adalah bahwa migran yang jatuh ke tangan penyelundup menghadapi kekurangan gizi yang sistematis, pelecehan seksual dan bahkan pembunuhan. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya