Berita

Ilustrasi/Russia Today

Dunia

Konflik Terus Berkecamuk, 2,2 Juta Anak Yaman Kekurangan Gizi Akut

SENIN, 27 MARET 2017 | 20:49 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sekitar 2,2 juta anak di Yaman saat ini tengah berjuang antara hidup dan mati. Mereka menderita kekurangan gizi akut karena kurangnya makanan serta bantuan internasional.

UNICEF memperingatkan bahwa pada tahun kedua perang di Yaman, anak-anak terus menjadi korban tak berdosa karena kelaparan dan tidak adanya pasokan makanan yang memadai.

Dalam laporan terbaru, UNICEF menemukan banyak anak Yaman yang memiliki tubuh sangat ramping dan pertumbuhan yang terhambat akibat kekurangan gizi. Pertempuran dan kehancuran telah memaksa warga Yaman untuk membeli makanan yang lebih murah atau melewatkan makan, sementara sekitar 80 persen dari keluarga berada dalam utang atau meminjam uang hanya untuk memberi makan anak-anak mereka.


UNICEF menyebut ada 2,2 juta anak Yaman yang menderita gizi buruk akut dan membutuhkan perawatan mendesak. Anak-anak yang menderita kekurangan gizi akut berat sepuluh kali lebih mungkin meninggal dibandingkan rekan-rekan mereka yang sehat karena sistem kekebalan tubuh mereka melemah dan meninggalkan mereka rentan terhadap penyakit. Kondisi ini mengancam jiwa anak-anak tersebut.

Terlepas dari kematian yang disebabkan langsung oleh pertempuran, UNICEF mengutip perkiraan PBB sebelumnya memperingatkan bahwa setidaknya satu anak Yaman meninggal akibat kekurangan gizi, diare, dan infeksi saluran pernapasan setiap 10 menit.

Perang Yaman, yang meletus pada tahun 2015 setelah Arab Saudi memimpin intervensi untuk mengembalikan presiden yang digulingkan Abd Rabbuh Mansour Hadi. Konflik itu sejauh ini telah menyebabkan sekitar 1.546 anak-anak tewas, 2.450 anak-anak cacat dan 235 diculik selama permusuhan, sementara 1.572 anak telah direkrut sebagai tentara anak untuk bergabung dalam pertempuran. [mel]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya