Berita

Kim Jong Nam di sampul majalah China/Net

Dunia

Siapa Yang Sebenarnya Memanipulasi Pembunuhan Kim Jong Nam?

MINGGU, 05 MARET 2017 | 15:54 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Kasus kematian Kim Jong Nam, kakak tiri pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Malaysia pertengahan bulan lalu semakin kompleks.

Akhir pekan ini, Malaysia mendepak Duta Besar Korea Utara Kang Chol karena dinilai memanipulasi kasus.

Bukan hanya itu, Malaysia juga mengakhiri kebijakan bebas visa bagi Korea Utara per tanggal 6 Maret besok.


Terkait kasus ini, teori yang dikembangkan dari Korea Selatan dengan merujuk sumber intelijen adalah bahwa pembunuhan Kim Jong Nam dengan agen saraf VX di Kuala Lumpur didalangi oleh negara.

Teori itu juga merujuk pada latar belakang Kim Jong Nam yang cenderung "berbeda" dengan keturunam Kim Jong Il lainnya. Ia digambarkan sebagai sosok yang memberontak dan kontra akan sistem pemerintahan yang saat ini dijalankan di Korea Utara. Ia pun lebih banyak menghabiskan hidupnya di luar Korea Utara dan dikatakan tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan saudara-saudara tirinya, termasuk Kim Jong Un.

Dengan demikian, menurut teori tersebut, agaknya Korea Utara memiliki cukup alasan untuk membunuh Kim Jong Nam.

Seakan mengamini, Malaysia yang semula menyebut bahwa kasus ini tak ganggu hubungan diplomatik kedua negara, sepekan terakhir ini justru berubah sikap dengan menyebut bahwa Korea Utara tidak menghargai negara lain dan menilai Dubes Korea Utara berupaya memanipulasi kasus.

Sikap Malaysia disusul dengan penghentian kebijakan bebas visa bagi WN Korut serta pengusiran dubes dari Malaysia.

Bila teori soal Korea Utara di balik pembunuhan Kim Jong Nam tersebut benar adanya, perlu agaknya kita mengkritisi lebih dalam soal pembebasan Ri Jong Chol.

Untuk diketahui, Ri jong Chol merupakan ahli kimia berkebangsaan Korea Utara. Ia diamankan oleh kepolisian Malaysia pada 19 Februari lalu karena dinilai terlibat dalam kasus pembunuhan Kim Jong Nam.

Sejak awal penangkapan, tidak ada keterangan resmi dari pihak kepolisian Malaysia soal apa peran Ri dalam pembunuhan tersebut.

Setelah penahanan selama beberapa hari, pihak kepolisian Malaysia memutuskan untuk membebaskan Ri dengan dalih tak cukup bukti untuk menahannya.

Ri pun dibebaskan dan langsung di deportasi ke kampung halamannya melalui Beijing pada Jumat (3/3).

Setibanya di Beijing akhir pekan ini, Ri angkat bicara soal kasus yang sempat dijeratkan kepadanya.

Ri mengaku bahwa selama dalam penahanan polisi Malaysia, petugas pernah menunjukkan gambar anak dan istrinya yang tinggal bersamanya di Kuala Lumpur Ri menyebut, polisi akan membunuh mereka yang ada di foto tersebut, kecuali jika Ri mau mengaku bahwa ia telah membunuh Kim Jong Nam.

"Orang-orang ini terus mengatakan kepada saya untuk mengakui kejahatan, dan jika tidak, seluruh keluarga saya akan dibunuh dan anda juga tidak aman," sebut Ri.

"Jika Anda menerima segala sesuatu, anda dapat menjalani kehidupan yang baik di Malaysia," tambahnya.

Ri menegaskan bahwa dirinya tidak berada di bandara pada hari penyerangan. Namun polisi menuduhnya sebagai dalang dalam plot dan menyuguhkan bukti-bukti palsu.

Namun Ri tetap pada sikapnya untuk tidak mengakui pembunuhan tersebut hingga akhirnya Ri dibebaskan karena kurangnya bukti.

Dideportasinya Ri dari Malaysia melemahkan tuduhan-tuduhan yang dilayangkan oleh Malaysia. Pasalnya, bila memang Ri terlibat, polisi Malaysia akan terus mencari bukti yang kuat dan melanjutkan proses hukum, bukan justu membebaskannya.

Namun fakta yang terjadi cukup janggal, karena Malaysia menahannya selama lebih dari satu minggu, menerapkan proses hukuman dan bahkan, menurut pengakuan Ri, ada upaya ancaman agar Ri mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan itu.

Dibebaskannya Ri segera disusul dengan pengusiran Dubes Korea Utara dari Malaysia karena dinilai memanipulasi kasus.

Sikap tersebut justru memicu pertanyaan balik soal siapa yang sebenarnya memanipulasi kasus tersebut. Mengingat fakta yang ada serta sikap Malaysia yang cenderung membesar-besarkan masalah.

Kendati tidak bisa diverifikasi dengan segera, pernyataan Ri di Beijing perlu juga menjadi rujukan.

"Ini adalah ketika saya menyadari bahwa itu adalah perangkap, mereka merencanakan untuk menodai reputasi negara saya," kata Ri, merujuk pada upaya pemaksaan petugas agar Ri mengakui keterlibatannya dalam pembunuhan Kim Jong Nam. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya