Berita

Bambang Soesatyo/Net

Pertahanan

TNI-Polri Harus Diberi Wewenang Persempit Ruang Gerak SImpatisan ISIS

SENIN, 12 DESEMBER 2016 | 17:37 WIB | LAPORAN:

Belajar dari kegagalan pemerintah Irak dan Suriah, pemerintah Indonesia patut memberi wewenang penuh kepada TNI dan Polri untuk mempersempit ruang gerak para simpatisan ISIS di Indonesia.  

Demikian pendapat Ketua Komisi III DPR, Bambang Soesatyo, Senin (12/12).

"Kalau itu tidak dilakukan pemerintah, maka ketahanan nasional akan menghadapi ujian maha berat jika rencana ISIS membangun basis di Asia Tenggara. Jadi ruang gerak ISIS harus dipersempit," kata politisi Partai Golkar ini.
 

 
Beberapa indikasi terkait rencana ISIS itu,  menurut dia, sudah terlihat di permukaan. Seperti kerap disuarakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Presiden Filipina Rodrigo Duterte. 

Keduanya pernah mengemukakan niat ISIS membangun basis di Filipina Selatan untuk mewujudkan kekhalifahan baru di Filipina, Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.
 
Indikasi kedua kembalinya puluhan simpatisan ISIS warga negara Indonesia (WNI) ke tanah air.

"Pertanyaannya adalah mereka kembali untuk apa? Kembali untuk menjalani kehidupan normal? Atau, kembali untuk mewujudkan rencana ISIS membangun kekhalifahan di Asia Tenggara?," ujarnya.
 
Teranyar publik dikejutkan pemberitaan tentang keberhasilan Detesemen Khusus (Densus) 88 Anti-teror Mabes Polri mengamankan tiga orang yang berencana melancarkan serangan bom berdaya ledak tinggi di Istana Negara.

Ketiga orang itu ditangkap di sebuah rumah di Jalan Bintara Jaya VIII Bekasi, Jawa Barat, tepatnya di kamar kos 104.
 
"Ada semacam gelagat bahwa sel-sel terorisme di Indonesia juga memberi respons positif terhadap rencana ISIS membangun basisnya di Asia Tenggara," kata dia lagi.

Bamsoet,  begitu dia akrab disapa,  menambahkan, kelompok-kelompok teroris itu sudah terang-terangan melampiaskan kebencian pada segenap jajaran Polri.

Sejumlah anggota Polri telah menjadi target serangan. Kelompok-kelompok itu juga diduga mendalangi ricuh pasca aksi damai 411. Mereka menunggu polisi lengah untuk bisa merampas senjata.
 
Apalagi, ada WNI yang sangat dipercaya pimpinan ISIS. Sosok WNI itu diduga mendalangi bom Sarinah. Bukan tidak mungkin, kelompok yang merencanakan ledakan bom di Istana Negara itu juga memiliki keterkaitan dengan WNI yang menjadi pentolan ISIS.
 
"Para simpatisan ISIS harus dilumpuhkan agar mereka tidak memiliki peluang mewujudkan basis ISIS di Asia Tenggara," katanya.[wid] 

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya