Berita

Ilustrasi/Net

Pertahanan

Anggota DPR: Kita Terbiasa Kompromi Dengan Penyandera, Tidak Seperti AS

SENIN, 08 AGUSTUS 2016 | 13:35 WIB | LAPORAN:

Bertambahnya jumlah warga negara Indonesia (WNI) yang disandera kelompok bersenjata di perairan negeri jiran membuat pertanyaan besar.
Diduga selama ini pemerintah tidak pernah serius melakukan pencegahan agar penyanderaan tak terulang.

Anggota Komisi I DPR RI, Elnino M. Husein Mohi, mengatakan, maraknya penyanderaan terhadap WNI oleh Abu Sayyaf merupakan dampak dari kebiasaan kompromi membayar tebusan.

Dia membandingkan kebijakan pemerintah RI sangat bertolak belakang dengan pemerintah Amerika Serikat. Ketegasan AS menolak kompromi dengan teroris ataupun separatis membuat warga negara mereka cukup aman.

Dia membandingkan kebijakan pemerintah RI sangat bertolak belakang dengan pemerintah Amerika Serikat. Ketegasan AS menolak kompromi dengan teroris ataupun separatis membuat warga negara mereka cukup aman.

"Ya, karena kita kemarin kompromi beberapa kali. Kalau dibanding Amerika, Amerika mana ada kompromi dengan yang begitu. Mereka no kompromi," tegas Elnino di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (8/8).

Menurutnya, pemerintah dapat meniru ketegasan AS. Namun, untuk mengatasi penyanderaan yang kembali terulang saat ini, pemerintah mau tak mau harus membayar tebusan seperti apa yang mereka lakukan untuk membebaskan sandera Abu Sayyaf beberapa waktu lalu.

"Saya serahkan kepada Badan Intelijen Negara. Badan intelijen tahu mana yang terbaik," ujarnya.

Elnino juga meminta pemerintah Indonesia untuk menuntut pemerintah Filipina berlaku tegas terhadap separatis yang beroperasi di perairan mereka dan mengganggu lintas pelayaran kapal-kapal asing.

"Kita mesti tuntut Filipina untuk menjalankan itu secara benar. Atau jangan-jangan pemerintah Filipina sedang lemah. Kalau memang pemerintah Filipina sedang lemah, Indonesia harus membuat Filiphina mau untuk kita bantu," ujarnya.

WNI kembali menjadi korban penculikan di wilayah Sabah, Malaysia, berdekatan dengan perbatasan laut Filipina, pada Rabu minggu lalu (3/8). Korban bernama Herman bin Manggak yang bekerja di kapal nelayan Malaysia.

Pada akhir Juni lalu, tujuh WNI juga disandera dan dipastikan dilakukan oleh kelompok Abu Sayyaf di perairan Filipina dengan tuntutan sejumlah uang untuk pembebasannya. Hingga kini, para ABK Tug Boat Charles itu belum dibebaskan. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

UPDATE

Minyak Dunia Tembus 100 Dolar AS, Purbaya Belum Tambah Subsidi Energi

Sabtu, 12 September 2026 | 02:25

One Asia Golf Cup 2026 Diikuti 144 Pengusaha dari 11 Negara

Sabtu, 12 September 2026 | 02:14

Relawan Prabowo-Gibran Tak cuma Hadir saat Pemilu

Sabtu, 12 September 2026 | 01:30

Ferry Boboho Balikin Duit Rp5 Miliar, Diduga terkait Pemerasan Febrie

Sabtu, 12 September 2026 | 01:10

Maruli Janji Dongkrak Peringkat Atlet Judo Indonesia

Sabtu, 12 September 2026 | 01:01

ERP Solusi Pengendalian Kemacetan Jakarta

Sabtu, 12 September 2026 | 00:34

Simak Rekayasa Lalin Persija-Persib di GBK

Sabtu, 12 September 2026 | 00:18

Jarnas Konsisten Kawal Program Pro Rakyat Prabowo-Gibran

Sabtu, 12 September 2026 | 00:00

Haji Dimulai dari Kalkulator

Jumat, 11 September 2026 | 23:35

Baznas Kembali Raih Indonesia Most Reputable Companies Award 2026

Jumat, 11 September 2026 | 23:20

Selengkapnya