Berita

ilustrasi/net

Dunia

UNICEF: Masih Banyak Korban Sunat Perempuan Di Indonesia

JUMAT, 05 FEBRUARI 2016 | 12:29 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebagian perempuan di Indonesia, Mesir dan Ethiopia diperkirakan telah menjad korban dari mutilasi alat kelamin atau dikenal dengan istilah female genital mutilation (FGM), atau dalam bahasa umum lebih familiar dikenal dengan sebutan sunat perempuan.

Begitu kata UNICEF dalam data terbaru yang dirilis untuk memperingati International Day of Zero Tolerance for FGM seperti dimuat The Guardian (Jumat, 5/2).

Untuk diketahui, FGM atau pemotongan nagian luar klitoris alat kelamin perempuan merupakan bagian dari ritual tradisional. FGM biasa dilakukan dengan silet atau pisau oleh dukun atau pakar sunat tradisional tanpa adanya anestesi.


Praktik semacam ini marak terjadi di negara-negara di kawasan Afrika. Negara dengan tingkat FGM tertinggi menurut data UNICEF adalah Somalia. Sekitar 98 persen dari populasi perempuan berusia antara 15-49 tahun telah mengalami FGM.

Namun data terbaru yang dirilis UNICEF mencengangkan, pasalnya ditemukan bahwa pada saat ini, di seluruh dunia setidaknya ada sekitar 200 juta perempuan yang telah mengalami FGM. Mereka hidup di 30 negara di dunia, termasuk 70 juta korban FGM tambahan pada tahun 2014 lalu. Setengah di antaranya berasal dari tiga negara, yakni Indonesia, Mesir dan Ethiopia.

Penulis utama laporan UNICEF tersebut Claudia Cappa, FGM diperkirakan dipraktikan lebih luas daripada yang dipikirkan oleh peneliti.

"Kami tahu Indonesia memiliki pertumbuhan populasi perempuan dan anak perempuan, tapi saya akan mengatakan (angka-angka ini) lebih tinggi dari yang diperkirakan," kata Cappa.

"Ini menunjukkan bahwa hal itu merupakan isu global, ketika fokus sebelumnya adalah Afrika," ujarnya.

Dalam data yang sama ditemukan bahwa sekitar 44 juta korban FGM di seluruh dunia berusia 14 tahun atau lebih muda. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya