Berita

Pertahanan

Kapal Taiwan Angkut 21 ABK WNI Diduga Masih Berlayar

KAMIS, 19 MARET 2015 | 12:26 WIB | LAPORAN:

Kapal Taiwan, Hsiang Fu Chun yang mengangkut 21 Anak Buah Kapal (ABK) warga negara Indonesia (WNI) diduga masih berlayar sejak dinyatakan hilang kontak pada (26/2) lalu.

Demikian disampaikan Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Kamis (19/3)

Dugaan tersebut kata Iqbal bukan tanpa sebab. Ada analisanya berdasarkan hasil laporan yang diterima ke Kemenlu. Analisa pertama, dari beberapa negara yang membantu untuk mencari kapal itu tidak menemukan satupun jejak yang memberikan clue tentang hilangnya kapal.


Selanjutnya, satelit Taiwan juga belum menemukan tanda indikasi kapal Hsiang Fu Chun di perairan kepulauan Falkland, tempat terakhir kapal tersebut hilang kontak.

"Tidak ada temuan dari satelit, ada kemungkinan kapal masih berlayar tanpa tenaga (bahan bakar) pada 26 Februari," ujar Iqbal.

Saat ini beberapaa negara, khususnya Argentina dan Taiwan rutin melakukan SAR. Iqbal sendiri mendapat laporan bahwa kapal Argentina dengan 400 personil sekuat tenaga berusaha mencari seluruh ABK. Meski begitu, negeri asal legenda sepakbola Maradona itu memberi tenggat waktu pencarian.

"Mereka akan mencari sampai April 2015 pada minggu pertama. Kalau tidak ditemukan, mereka akan mengatakan hilang," kata Iqbal.

Status hilang tersebut lanjut Iqbal sangat berpihak pada hak-hak ABK yang didapat dari agen dan otoritas yang mempekerjakan mereka. Mengingat seluruh ABK WNI yang bekerja pada kapal Taiwan itu berstatus sebagai TKI resmi dan legal.

Kementerian Luar Negeri sendiri sebelumnya telah membuat kesepakatan tertulis dengan tujuh agen yang membawahi 21 ABK WNI. Mereka semua bersedia memenuhi hak-hak pekerja itu jika nantinya terjadi permasalahan.

Iqbal mengaku langkah itu menjadi standart of procedur atau SOP mengantisipasi kemungkinan terburuk. "Kemlu, BNP dan Hubla akan besikap tegas terhadap agen yang tidak menjalankan tanggung jawabnya pada TKI. Pilihannya hanya mau bertanggungjawab atau saya pidanakan," tegas Iqbal.

Sebagaimana diketahui, kapal berbobot 700 ton ini hilang di kontak di perairan Atlantik sekitar 1.600 mil laut dari Argentina. Di dalamnya selain ada 21 ABK WNI, terdapat pula beberapa ABK dari negara lain seperti Filipina, Vietnam dan China. Pada 2 Maret 2015 lalu, pemilik kapal memberikan kabar kapal Hsiang Fu Chien hilang kontak.

Namun, pemberitahuan itu tidak langsung disampaikan kepada Otoritas Indonesia. Pemerintah baru menerima kabar tersebut pada 9 Maret 2015 dari Pemerintah Taiwan. Hal itu sangatlah disayangkan, pasalnya sebagai negara yang warganya ada di dalam kapal itu seharusnya mendapat informasi penting secepat mungkin.[wid]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya