Berita

rizal ramli

Politik

Rizal Ramli Membongkar Tiga Masalah Besar di Hulu Migas

KAMIS, 27 NOVEMBER 2014 | 11:54 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Salah bila menganggap persoalan bahan bakar minyak dan subsidinya itu hanya di seputar harga.

Soal harga ini hanya masalah di hilir. Masalah yang lebih penting adalah masalah di hulu. Seharusnya itu diselesaikan dahulu, maka otomatis semua persoalan di hilir akan banyak berkurang.

Demikian disampaikan pakar ekonomi, Dr. Rizal Ramli, saat Rapat Dengar Pendapat dengan Komite II DPD RI, di Senayan, Jakarta, kemarin (Rabu, 26/11).


"Kita selalu berulang ribut persoalkan kenaikan harga. Padahal harga ini hanya masalah di hilir. Masalah lebih penting adalah masalah di hulu. Harusnya kita selesaikan hulu, maka masalah di hilir akan banyak berkurang," ujar Rizal.

Masalah di hulu itu, jelasnya, terkait definisi subsidi. Dalam kenyataannya, apa yang disebut subsidi itu sebagian besar adalah korupsi kolusi nepotisme (KKN), inefisiensi, dan sebagian besar lagi adalah soal mafia migas yang salah urus.

Rizal kemudian memberikan contoh bagaiman KKN dan inefisiensi terjadi di PLN. Salah urus di PLN menyebabkan subsidi PLN bertambah dalam bentuk pembelian dan sewa generator-generator yang minum solar menyebabkan subsidi PLN bertambah Rp 37 triliun tiap tahun, dan tahun ini menjadi Rp 107 triliun.

"Pertanyaannya, apakah adil? Maaf ini tidak adil dan pembohongan. Listrik macet dan harganya mahal. Pejabat dan kawan-kawannya dapat keuntungan banyak," tegasnya.

Inilah masalah pertama, yang disebut permainan mafia migas. Dijelaskannya, "raja mafia migas bermain di semua kaki dan semua partai".

"Mafia migas, dia sumbang ke hampir semua partai. Waktu Pak JK Wapres dia sumbang ke JK. Pemilu dia nyumbang ke rumah Polonia buat Prabowo-Hatta. Tapi juga nyumbang bayar sewa buat Rumah Transisi (Jokowi-JK)," ungkap penasihat ekonomi Perserikatan Bangsa Bangsa ini.

Permainan mafia migas sangat canggih. Sogokannya hampir merata ke semua pejabat. Kekuatan raja mafia ini bisa bermain karena dia mendapat keuntungan luar biasa dari permainan migas, antara 3-5 dollar per barrel.

"Satu hari dia bisa dapat 3 juta dollar sehari. Itu dipakai buat nyogok pemerintahan dan media massa tertentu. Foto yang bersangkutan saja tidak pernah masuk di media," sindirnya.

Masalah kedua di hulu adalah cost recovery atau biaya pengganti. Dalam industri minyak bumi, biaya ini terus naik beberapa tahun terakhir, menjadi 200 persen. Di sisi lain, hasil produksinya turun 40 persen. Ini disebutnya tidak wajar.

"Kalau kita hemat saja dalam cost recovery, dan itu bisa dilakukan, maka kita bisa hemat sekitar Rp 60 triliun satu tahun," jelas Rizal.

Ketiga, persoalan kilang. Kalau saja negara mau membangun kilang sebesar tiga kali 200.000 barel, maka biaya menghasilkan premium per liter dan biaya hasilkan minyak tanah akan turun setengah. Tapi mafia dan para pendukungnya di pemerintahan, tuding Rizal, selalu pakai banyak alasan yang kebanyakan bohong bahwa pembangunan kilang tidak akan menguntungkan.

"Tidak bisa, tidak menguntungkan bangun kilang di Indonesia. Mereka ingin supaya Indonesia beli minyak bumi dan gas itu di spot market, di pasar harian, kayak orang ke pasar tiap hari sehingga harga bisa dimainkan harganya," terangnya.

Seharusnya, negara sebesar Indonesia yang perlu nyaris 1 juta barrel per hari, dengan transaksi nyaris 45 miliar dollar, menggantungkan pembelian dari negara produsen dalam kontrak jangka panjang, seperti Jepang yang membeli kontrak jangka panjang 30 tahun dengan negara-negara lain.

"Tidak ada negara di dunia yang gantungkan kebutuhan energinya kepada pasar harian. Mafia ini dan pendukungnya di kalangan pejabat selalu katakan jangan bangun kilang karena tidak untung. Padahal, ini  banyak menguntungkan. Apalagi kalau minyak buminya dari negara sendiri. Ada integrasi vertikal kalau itu terjadi dan pasti menguntungkan," lanjut Rizal.

Rizal menjelaskan bahwa di masa lalu ada upaya membangun tangki-tangki besar supaya stok kita seminggu atau dua minggu aman. Sebenarnya itu usul baik. Negara besar seharusnya punya stok minyak bumi untuk dua tahun, seperti China yang punya stok minyak bumi satu tahun.

"Nah kita mau bangun stok itu untuk dua minggu saja sudah dibilang tidak baguslah, tidak menguntungkan, begini begitu. Kenapa? Supaya tetap tergantung pasar harian yang  harganya bisa dimainkan. Itu yang dimainkan oleh Petral," sebut Rizal. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya