Berita

wahidin halim/ist

Analis Tunjuk Titik Lemah Wahidin Halim

RABU, 02 NOVEMBER 2011 | 10:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Wahidin Halim sempat diprediksi akan memberikan perlawanan berarti terhadap calon petahana Atut Chosiyah dalam Pilkada Banten bulan lalu.  Ternyata ramalan itu tak terbukti lewat hasil suara yang telah ditetapkan oleh KPU Provinsi Banten. Perolehan suara Wahidin tertinggal lebih kurang 11 persen atau 450 ribu suara.

Menurut pengamat politik, selain faktor figur Atut-Rano, kekalahan telak tersebut disebabkan oleh lemahnya komunikasi politik Wahidin. Analis politik dari Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Arman, mengatakan ada banyak variabel yang menyebabkan Wahidin kalah di Pilkada. Faktor utama terletak pada keunggulan figur Atut dibanding Wahidin.

Selain itu Atut memiliki instrumen-instrumen pendukung seperti jaringan masyarakat yang sudah terbina dan kapasitasnya sebagai incumbent. Apalagi ketika Atut berhasil menggandeng Rano. Pemilihan figur Rano sebagai wakil itu juga menjadi kekuatan untuk mendulang suara dan menekan kekalahan. Sementara, gigur Wahidin hanya bisa diterima di Kota Tangerang, sementara daerah lain tidak demikian.


"Meskipun Wahidin dipandang memiliki kapasitas sebagai Walikota, tapi bagaimana jangkauannya terhadap wilayah-wilayah lain di Banten? Berbicara mengenai pemilihan Gubernur tidak hanya satu Kota atau Kabupaten. Tapi paling tidak memiliki representatif setiap wilayah yang ada di Provinsi Banten,” ujar Arman lewat pernyataan pers, Rabu (2/11).

Selain itu, di mata Arman, Wahidin adalah sosok pemimpin yang kaku dalam melakukan negosiasi politik. Keluwesan dalam komunikasi politik terkait bagaimana kepiawaiannya dalam menguasai jaringan, melakukan mekanisme pendekatan terhadap basis-basis kekuatan, mengumpulkan simpul-simpul basis masyarakat, dan lebih toleran terhadap ormas-ormas yang ada.

Arman mengatakan bahwa kekakuan komunikasi dalam politik sah-sah saja selama itu berkaitan dengan sistem dan profesionalisme kerja. Tetapi dalam hal pendekatan terhadap komunitas, simpul basis, dan ormas, seorang pemimpin harus menunjukkan keluwesan.

"Wahidin memiliki kekakuan dalam hal mengelola komunikasi dengan masyarakat, tidak bisa melihat local wisdom, bagaimana lebih cair dengan kepentingan-kepentingan ormas. Seharusnya ini bisa dipelihara, tapi Wahidin gagal melakukannya. Itu berbeda sekali dengan Atut yang mewarisi ketokohan Bapaknya H Chasan, akrab dengan ormas-ormas dan kekuatan primordial yang ada” ujarnya.

Di kesempatan terpisah, peneliti dari Jaringan Suara Indonesia (JSI), Fajar S Tamin, menambahkan, faktor manajerial politik Wahidin sangat lemah sehingga ia tidak mendapatkan dukungan maksimal dari Partai Demokrat. Mesin Demokrat mulai dari tingkat atas hingga terbawah tidak berhasil digerakkan oleh Wahidin.

Bagi Fajar, Wahidin melakukan kesalahan besar ketika tidak memberdayakan Partai Demokrat secara maksimal, sebaliknya malah lebih percaya kepada Partai Nasdem. Sebab, Demokrat adalah satu-satunya jaringan yang paling potensial untuk memenangkan Wahidin. Selain sudah sangat populer di tengah masyarakat, Demokrat juga sudah memiliki jaringan di seluruh Banten.

Pasangan nomor urut 1, Ratu Atut Chosiyah dan Rano Karno, memenangi Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Banten dengan meraih 49,64 persen suara sah. Pasangan nomor urut 2, Wahidin Halim dan Irna Narulita, di urutan kedua dengan perolehan 38,93 persen suara sah. Pasangan nomor urut 3, Jazuli Juwaini dan Makmun Muzakki, dengan perolehan 11,42 persen.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya