Berita

kib ii

Sejauh Ini Drama SBY Cuma Melahirkan Politisasi Birokrasi

SENIN, 17 OKTOBER 2011 | 10:08 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Drama perombakan kabinet yang berlangsung sebulan lebih, hingga kini hanya melahirkan politisasi birokrasi yang dilakukan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sebelumnya pengamat politik Lingkaran Survei Indonesia, Budi Prasetyohadi, mengatakan SBY terlalu lama mengambil keputusan. Kalaupun benar niatnya betul-betul untuk kepentingan rakyat seharusnya SBY tegas, cepat dan tepat. Kini isu reshuffle terkesan cuma drama.

Dia katakan, reshuffle jadi kontra-produktif terhadap perbaikan citra pemerintah. Menurutnya, masyarakat sekarang sudah tidak asing lagi dengan dramatisasi isu reshuffle. "Dramatisasi itu tidak kontekstual, kontraproduktif," sebutnya.


Dan kabinet yang tadinya hanya mempunyai 10 Wakil Menteri. sekarang, setelah SBY menggodok reshuffle, sudah menggemuk jadi mempunyai 18 Wakil Menteri di 17 kementerian. Maksud penggemukan kabinet itu masih belum dapat dimengerti publik. Yang pasti, pihak Istana menolak anggapan bahwa penambahan wakil menteri itu membuat kabinet menderita obesitas dan memberatkan anggaran negara karena mereka setingkat eselon I-A.

Sementara, politisi PDI Perjuangan, TB Hasanuddin, menilai, penambahan wakil menteri itu sebagai langkah politisasi birokrasi. Menurutnya, jabatan wakil menteri adalah jabatan birokratis yang mengikuti jenjang karir sesuai UU tentang Kementerian Negara. Begitupula kalau seseorang menduduki jabatan eselon I harus melalui prosedur tetap melewati Tim Penilai Akhir Pengangkatan, Pemindahan dan Pemberhentian yang dipimpin Wakil Presiden, Menteri Sekretaris Negara, juga Kepala BIN.

"Yang duduk di jabatan itu harus diusulkan dari Kementerian masing-masing dan diuji tim penilai akhir," katanya kepada Rakyat Merdeka Online, Senin (17/10).

Dia menyatakan, selama 66 tahun sudah teruji tentang fungsi dan peran Dirjen-Dirjen. Ditakutkannya, peran fungsi wakil menteri yang baru dan banyak itu akan tumpang tindih dengan para Dirjen terkait.

"Kalau SBY memilih wakil menteri seperti fit and proper test menteri, maka bisa dipastikan itu adalah politisasi jabatan wakil menteri," katanya.

Dia menambahkan bahwa kesalahan kabinet selama ini bukan pada tataran teknis atau Dirjen ke bawah tapi juga pada kebijakan dari para menteri SBY. Jadi yang harus diperbaiki adalah performa menteri bukan mengobok-obok tatanan di kementerian negara.

"Dengan penambahan wakil menteri itu juga menambah masalah baru yaitu beban anggaran untuk gaji, ruangan kerja, kendaraan dinas, rumah dinas, staf pendukung. Apakah kehadiran mereka bisa selaras dengan presiden tiga tahun mendatang, itu masih pertanyaan besar," ucapnya.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

Pencarian Korban KMP Virgo Transport 8 Teradang Gelombang Tinggi Capai 2,5 Meter

Minggu, 13 September 2026 | 18:04

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

Polisi Update Temuan Barang Diduga Milik Kapal Pengangkut 5 Jurnalis

Minggu, 13 September 2026 | 17:16

Prabowo Ungkap Transformasi Pangan Indonesia di Hadapan Pemimpin BRICS

Minggu, 13 September 2026 | 17:02

Aspekpir Puji Komitmen PTPN IV PalmCo Majukan Petani Mitra

Minggu, 13 September 2026 | 16:50

Prabowo Ajak BRICS Ubah Kerentanan Jadi Kekuatan untuk Pertumbuhan Global

Minggu, 13 September 2026 | 16:49

BNI Perkuat Ekosistem Industri Kecantikan Lewat BSF 2026

Minggu, 13 September 2026 | 16:46

Kerugian Bisnis Tak Otomatis jadi Tindak Pidana

Minggu, 13 September 2026 | 16:27

Dua Armada Pos Indonesia Ikut Tenggelam Bersama KMP Virgo

Minggu, 13 September 2026 | 16:21

Kapal Pertamina Bantu Selamatkan 16 Korban Virgo Transport 08 di Laut Jawa

Minggu, 13 September 2026 | 16:02

Selengkapnya