Berita

tb hasanuddin/ist

MALAYSIA CAPLOK NKRI?

TB Hasanuddin Ajak Pemerintah Adu Data

Jangan Kebakaran Jenggot!
SELASA, 11 OKTOBER 2011 | 13:08 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Wakil Ketua Komisi I DPR, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin, menantang pemerintah beradu data terkait kasus dugaan pencaplokan tanah Republik Indonesia oleh negeri tetangga, Malaysia.

Dia menemukan fakta bahwa Malaysia kembali mengklaim wilayah NKRI di Kalimantan Barat. Indonesia berpotensi kehilangan lebih dari 1.400 hektar tanah di Camar Bulan dan 80 ribu meter persegi di pantai Tanjung Datu. Tapi kemarin petang, Menteri Koodinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto menegaskan, tidak ada wilayah Indonesia yang dicaplok Malaysia.

Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa juga membantah kabar bila pemerintah Malaysia telah mencaplok dusun Camar Bulan seluas 1.400 hektar dan Tanjung Datu dua seluas 800 meter garis pantai di Tanjung Datu di provinsi Kalimantan Barat. Berdasarkan pemeriksaan di lapangan, kata Marty, Pilar A1 (patok) yang berada di Tanjung Datu sudah tidak ada karena tergerus abrasi di bawah air pantai.


TB Hasanuddin mengaku heran dengan sikap pemerintah yang terburu-buru membantah tanpa ada pembicaraan dahulu dengan tim DPR.

"Pertama, saya sangat menyesalkan Menko Polhukam dengan Menlu yang membantah tergesa-gesa. Seharusnya mereka pelajari data lapangan, bicara dulu dengan DPR yang menemui fakta di lapangan jangan bereaksi seperti itu karena bantahan mereka justru melegitimasi klaim Malaysia atas teritorial Indonesia," ujarnya kepada Rakyat Merdeka Online, Selasa (11/10).

Padahal, lanjutnya, jurubicara Kemenlu Michael Tene plus jurubicara Kemendagri juga menyatakan bahwa persoalan perbatasan itu belum disepakati oleh kedua negara. Bantahan pemerintah jutru membuat resah masyarakat di perbatasan.

"Orang Camar Bulan itu orang Indonesia, secara tak langsung Menko Polhukam menyatakan mereka jadi bagian dari Malaysia. Saya lihat pemerintah kurang bijak dalam berdiplomasi," tegasnya.

"Seharusnya pemerintah bicara, 'baik itu akan kami cek ke lapangan'. Nah pernyataan seperti itulah yang akan berdampak politis bagi Malaysia. Mereka (pemerintah) tidak mengerti suasana sebenarnya," imbuh dia.

Dia menegaskan, akan sangat baik apabila pemerintah dan DPR masing-masing membawa data yang dimilikinya dan melakukan pengkajian masalah yang tidak sepele itu.

"Sangat bisa, saya jujur, adu data kita yang ada. Jangan kebakaran jenggot, sepertinya bingung. Pelajari dulu dengan seksama kalau perlu ayo kita ke lapangan. Jangan terus menolak masukan dan membantah," katanya.[ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya