Berita

as hikam/ist

Jangan Lagi Ada Ego Sektoral dan Ketidaktegasan Presiden!

SENIN, 26 SEPTEMBER 2011 | 12:43 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

RMOL. Sangat disesalkan apabila penyebab lain keberhasilan teroris dalam aksinya adalah ego sektoral aparat keamanan.

"Tidak ada koordinasi dan kuatnya ego sektoral, padahal semua punya bidang sama tapi tidak mau saling terkait," jelas pengamat intelijen AS Hikam, kepada Rakyat Merdeka Online, Senin (26/9).

Menurut anggota Lemhanas ini, indikasi ego sektoral itu terlihat ketika kepolisian ternyata begitu cepat mengidentifikasi pelaku bom bunuh diri di gereja Solo. Dia yakin kalau sebelumnya sudah ada data intelijen masuk namun tidak cepat disikapi.


"Dalam kasus Solo ini terbukti kalau Polri bisa sangat cepat identifikasi pelaku dan jaringannya setelah kejadian. Kalau intelijen itu sebelum ada apa-apa sudah memberi laporan," kata mantan menteri kabinet era Presiden Gus Dur ini.

Hikam menambahkan, belajar dari kasus kerusuhan Ambon atau Poso, terungkap bahwa user intelijen di daerah dan pusat tidak cepat-cepat melakukan tindakan setelah mendapatkan informasi.

"Dan persoalan lain adalah otoritas di atas, yaitu presiden yang tidak tegas, padahal punya otoritas untuk memerintahkan kepolisian bekerja cepat," jelasnya.

Tidak hanya Hikam yang geram atas kondisi ego sektoral itu. Kalangan Komisi I seperti Wakil Ketua Komisi I, TB Hasanuddin, dan anggota Komisi I Tantowi Yahya seringkali mengutarakan, persoalan utama dalam kegiatan pemberantasan terorisme di Tanah Air adalah pada ego sektoral di antara badan-badan intelijen yang banyak jumlahnya. Persoalan itu mengakibatkan kelambanan dalam menindaklanjuti informasi intelijen yang akhirnya jadi celah bagi tindakan teror.

Badan Intelijen Negara (BIN) yang tidak memiliki kewenangan untuk mengeksekusi temuan hanya menyerahkannya kepada lembaga yang dinilai terkait dengan informasi. Tapi, acap kali informasi dari BIN tidak direspon oleh lembaga-lembaga tersebut sehingga kekerasan antar agama terlambat dicegah.

"Smart, ulet dan profesional dalam mencari informasi, dan kemudian menyerahkannya kepada user untuk digunakan. Demi kepentingan negara dan bangsa tidak diperlukan ego sektoral, tapi kerjasama itu lebih penting dan menjadi kunci keberhasilan," ujar TB Hasanuddin.[ald]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Pengusaha Tembakau Dicecar KPK soal Dugaan Gratifikasi Oknum Bea Cukai

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:41

Resmi Dilantik, 13 Pengurus DPD Peradi Profesional Siap Kawal Keadilan di Sulsel

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:13

Sekolah Tahfidz Al-Qur’an Puan Maharani Mulai Dibangun di Malang

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 00:10

Perbup Bogor soal Site Plan jadi Sorotan Usai Kasus HGB Summarecon Bergulir

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:49

BEI Tagih Penjelasan Emiten Haji Isam soal Gadai Saham ke Bank Mandiri

Jumat, 09 Oktober 2026 | 23:24

Rocky Gerung Dicurigai Sengaja Dipasang untuk Serang Gibran dari Dalam Kekuasaan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:42

Kasus TPPU Rita Widyasari Menyeret Bos Dealer VW-Audi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:28

Penyederhanaan BUMN: Pengaturan Outsourcing Lewat Anak Perusahaan Jadi Sorotan

Jumat, 09 Oktober 2026 | 22:18

PDIP soal Ijazah Gibran: Anak dan Bapak Masalahnya Sama Saja

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:57

Pegawai Bea Cukai Dedi Congor Mangkir Lagi

Jumat, 09 Oktober 2026 | 21:42

Selengkapnya