Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Sabtu, 31 Oktober 2026, 14:19 WIB
Intel Babak Belur, Saham Anjlok 29 Persen
Ilustrasi (RMOL/Reni Erina)
Kecil Besar
rmol news logo Kinerja Intel yang jauh dari harapan membuat saham produsen chip asal Amerika Serikat (AS) itu mengalami tekanan hebat di Wall Street dan menjadi yang terburuk sejak 1970-an, sekaligus menggerus miliaran dolar nilai investasi para pemegang sahamnya.

Dikutip dari CNBC International, Sabtu 31 Oktober 2026, pada perdagangan Jumat, waktu AS, saham Intel anjlok 28,58 persen ke level 65,76 Dolar AS. Penurunan tersebut menjadi yang terbesar dalam satu hari sejak perusahaan itu melantai di bursa pada era 1970-an.

Tekanan muncul setelah Intel merilis proyeksi keuangan yang jauh di bawah ekspektasi analis. Pelemahan pasar komputer pribadi (PC) yang masih berlanjut serta gangguan produksi di fasilitas perusahaan di Israel menjadi dua faktor utama yang membebani prospek bisnisnya.

Dampaknya juga dirasakan pemerintah AS yang memiliki 10 persen saham Intel. Kepemilikan tersebut, yang diperoleh lebih dari setahun lalu atas dorongan pemerintahan Presiden Donald Trump, mengalami penurunan nilai sekitar 12 miliar Dolar AS hanya dalam sehari. Meski demikian, investasi pemerintah Amerika tersebut secara keseluruhan masih mencatatkan keuntungan.

Nvidia, yang juga memiliki kepemilikan saham besar di Intel, turut mengalami penurunan nilai investasi sekitar 6 miliar Dolar AS.

Kejatuhan saham ini menjadi pukulan bagi CEO Intel Lip-Bu Tan, yang sejak menjabat pada Maret 2025 berupaya memulihkan kinerja perusahaan setelah tertinggal dalam persaingan industri kecerdasan buatan (AI).

Padahal, sebelum laporan keuangan terbaru dirilis, saham Intel sudah melonjak sekitar 150 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut didorong meningkatnya permintaan terhadap prosesor untuk pusat data yang digunakan dalam menjalankan berbagai beban kerja AI.

Namun, proyeksi terbaru perusahaan justru mengecewakan pasar. Intel memperkirakan laba per saham yang disesuaikan hanya sebesar 0,25 Dolar AS pada kuartal mendatang, dengan pendapatan berkisar 15-16 miliar Dolar AS. Angka tersebut jauh di bawah perkiraan analis LSEG yang memproyeksikan pendapatan 17,1 miliar Dolar AS dan laba per saham 0,43 Dolar AS.

Kepala Keuangan Intel David Zinsner mengatakan pelemahan pasar PC diperkirakan masih akan berlangsung hingga setidaknya paruh pertama tahun depan.

"Kami memperkirakan perlambatan penjualan PC akan berlanjut setidaknya hingga paruh pertama tahun depan," kata Zinsner.

Menurutnya, industri PC juga menghadapi tekanan akibat kenaikan harga memori dan komponen lainnya. Data Counterpoint Research menunjukkan pengiriman PC global turun 4 persen pada kuartal II-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain pelemahan pasar, Intel harus menghadapi gangguan operasional akibat ledakan di salah satu pabriknya di Israel awal bulan ini. Insiden tersebut menewaskan dua pekerja dan menyebabkan satu pekerja lainnya mengalami luka serius.

Zinsner memperkirakan gangguan tersebut akan mengurangi pendapatan perusahaan sekitar 600 juta Dolar AS selama dua kuartal. CEO Intel Lip-Bu Tan menyebut insiden itu sebagai "kecelakaan yang disayangkan dan tragis" yang menyebabkan penutupan berkepanjangan dan menghambat pengiriman chip 10 nanometer.

Di tengah tekanan tersebut, Intel masih berupaya memperkuat bisnis manufaktur chip atau foundry. Perusahaan kini mulai memproduksi chip 18A dalam jumlah besar di fasilitas barunya di Arizona, AS. Langkah ini diharapkan menjadi alternatif bagi pelanggan yang selama ini mengandalkan Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC).

Meski demikian, Intel belum memiliki pelanggan eksternal untuk chip generasi terbarunya tersebut. Tan mengatakan perusahaan berharap dapat mengumumkan sejumlah pelanggan dalam dua kuartal mendatang. Ia juga menyebut Intel mencatatkan kemajuan signifikan dalam pengembangan chip 14A.

Tekanan terhadap Intel turut menyeret saham perusahaan semikonduktor lainnya. Saham Nvidia turun sekitar 4 persen, Broadcom melemah lebih dari 5 persen, sedangkan Qualcomm anjlok 11 persen.

Indeks Nasdaq Composite juga merosot 2,9 persen pada Jumat, memperpanjang tekanan terhadap saham teknologi setelah sejumlah perusahaan besar melaporkan kinerja yang mengecewakan. Saham Amazon turut turun 1,4 persen setelah pendapatan dan laba kuartal ketiganya berada di bawah ekspektasi analis.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA