Bahlil: Pemangkasan Pasokan Gas ke Singapura Tidak Langgar Kontrak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/hani-fatunnisa-1'>HANI FATUNNISA</a>
LAPORAN: HANI FATUNNISA
  • Kamis, 29 Oktober 2026, 19:36 WIB
Bahlil: Pemangkasan Pasokan Gas ke Singapura Tidak Langgar Kontrak
Menko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (Foto: RMOL/Hani Fatunnisa)
Kecil Besar
rmol news logo Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menegaskan, kebijakan pengurangan sebagian pasokan gas alam Indonesia ke Singapura tidak melanggar ketentuan kontrak yang berlaku. 

Bahlil menyebut pasokan gas melalui pipa dari Natuna dan daratan Sumatera ke Singapura mencapai 409,5 MM. 

Pemerintah RI kemudian memangkas 31 MM dari pasokan tersebut, tetapi menurutnya, langkah itu tidak melanggar kontrak karena batas minimum yang disepakati belum terlampaui.

"Dengan yang ada itu, kita belum melanggar kontrak karena ada batas minimum, kan? Batas minimum itu belum kita lampaui. Jadi nggak ada masalah, ya,” tegasnya.

Lebih lanjut, Bahlil mengungkap bahwa Indonesia juga mengekspor gas dalam bentuk liquefied natural gas (LNG) sebanyak 148 kargo, yang setara dengan 1.480 MM.

Dia menduga, tidak seluruh LNG yang dikirim digunakan untuk memenuhi kebutuhan domestik Singapura, melainkan diperdagangkan kembali untuk diekspor ke negara lain.

"Keyakinan saya bahwa pengiriman 148 kargo itu tidak semuanya itu dipakai untuk kepentingan Singapura, tapi sebagian dijadikan sebagai trading untuk kemudian diekspor lagi ke negara lain. Tapi ada sebagian pasti untuk konsumsi mereka," kata Bahlil.

Menteri ESDM itu menekankan, pemerintah harus menempatkan kepentingan domestik sebagai prioritas dalam pengelolaan sumber daya energi nasional. 

Meski demikian, ekspor tetap dapat dilakukan apabila kebutuhan gas di dalam negeri telah terpenuhi.

“Kan kita harus memprioritaskan kepentingan domestik kita, tapi kalau domestik kita sudah cukup, saya pikir kita harus juga mengirim ekspor ke negara lain, ya. Oke,” ujarnya.

Sebelumnya, Indonesia mulai mengurangi pasokan gas alam ke Singapura pada Sabtu, 24 Oktober 2026, untuk mengalihkan lebih banyak gas bagi kebutuhan domestik. 

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyatakan importir gas negaranya akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga hak dan kepentingan mereka berdasarkan perjanjian yang berlaku. 

Otoritas Pasar Energi Singapura mencatat pengurangan pasokan mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari (MMSCFD), atau kurang dari 2 persen dari kebutuhan gas harian Singapura.rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA