Presiden Direktur Astra, Rudy, dalam laporan keuangan kuartal III 2026 yang dirilis pada Rabu 28 Oktober 2026, menjelaskan bahwa laba bersih perusahaan tanpa memperhitungkan pos nonberulang relatif stabil.
“Laba bersih Grup, tanpa memperhitungkan non-recurring items, stabil sebesar Rp24,6 triliun (turun 12 persen jika memperhitungkan non-recurring items),” kata Rudy, dikutip Kamis, 29 Oktober 2026.
Sepanjang Januari-September 2026, laba bersih Astra sebelum memperhitungkan pos nonberulang tercatat Rp24,565 triliun, turun tipis 1 persen dibandingkan Rp24,717 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Sementara itu, perusahaan membukukan pos nonberulang sebesar Rp2,963 triliun, jauh lebih besar dibandingkan Rp244 miliar pada sembilan bulan pertama 2025. Pos tersebut terutama terdiri atas penurunan nilai (impairment) dan penyesuaian nilai wajar atas investasi ekuitas.
Dengan memperhitungkan pos nonberulang tersebut, laba bersih Astra turun menjadi Rp21,602 triliun dari Rp24,473 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan laba bersih yang dilaporkan juga tercermin pada laba per saham, yang turun 11 persen menjadi Rp541 dari sebelumnya Rp605. Adapun laba per saham tanpa memperhitungkan pos nonberulang meningkat 1 persen menjadi Rp616.
Rudy menyatakan kinerja Astra selama sembilan bulan pertama 2026 tetap resilien, meskipun sejumlah lini usaha menghadapi tekanan.
“Pertumbuhan pada sebagian besar bisnis Astra diimbangi oleh kondisi yang menantang pada bisnis Solusi Pertambangan dan Alat Berat,” pungkas Rudy.
BERITA TERKAIT: