Anggota Komisi I DPR Okta Kumala Dewi mengatakan, pemuda memiliki tiga peran strategis, yakni
agent of unity, agent of intellectual, dan
agent of future. Ketiganya relevan di tengah ketidakpastian geopolitik global, perkembangan teknologi, serta cita-cita mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Di tengah konflik di berbagai kawasan dan meningkatnya peringatan risiko keamanan global, pemuda Indonesia harus menjadi agen pemersatu, menjaga toleransi, serta memperkuat keutuhan nasional,” ujar Okta dalam keterangannya, Kamis, 29 Oktober 2026.
Menurutnya, pemuda juga harus menjadi penggerak intelektual sebagaimana para tokoh muda dalam sejarah Indonesia yang melahirkan gagasan besar dan pemikiran yang melampaui zamannya.
Di era kecerdasan buatan atau
artificial intelligence (AI), generasi muda dituntut tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menguasai, mengembangkan, dan menciptakan inovasi.
“Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi harus menjadi modal generasi muda untuk melahirkan gagasan baru, meningkatkan daya saing bangsa, dan memastikan Indonesia mampu berdiri sejajar dengan negara-negara maju,” tegas Okta.
Legislator PAN ini menambahkan, bonus demografi merupakan peluang besar untuk mempercepat pembangunan nasional. Generasi muda saat ini akan menjadi aktor utama yang menentukan arah Indonesia pada 2045.
Karena itu, peningkatan kualitas pendidikan, keterampilan, kesehatan, serta perluasan kesempatan bagi anak muda harus menjadi perhatian bersama yang sedang dijalankan pemerintah dari berbagai program yang ada.
Menurutnya, generasi muda yang unggul tidak hanya harus cerdas dan kompeten, tetapi juga kuat secara fisik, sehat secara jasmani dan mental, serta memiliki karakter dan daya tahan untuk menghadapi tantangan zaman.
“Mereka bukan sekadar penerima manfaat pembangunan, melainkan aktor utama yang akan membawa Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju, tangguh, dan berdaya saing,” pungkas Okta.
BERITA TERKAIT: