Arab Saudi Perpanjang Penutupan Bandara Riyadh Usai Serangan Houthi

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/reni-erina-1'>RENI ERINA</a>
LAPORAN: RENI ERINA
  • Senin, 12 Oktober 2026, 10:30 WIB
Arab Saudi Perpanjang Penutupan Bandara Riyadh Usai Serangan Houthi
Suasana sebelum terjadi ledakan di Bandara Riyadh (Unggahan akun X @AlArabiya_Brt)
Kecil Besar
rmol news logo Arab Saudi memperpanjang penutupan bandara internasional di Riyadh setelah serangan rudal mematikan pada Sabtu, tetapi ancaman terhadap penerbangan belum mereda ketika kelompok Houthi kembali menyerang terminal bandara tersebut pada Minggu, 11 Oktober 2026, waktu setempat.

Dikutip dari CBC, Senin 12 Oktober 2026, serangan terbaru bahkan meluas ke Bandara Internasional King Fahd di Dammam, menandai eskalasi konflik yang semakin mengancam keamanan penerbangan dan infrastruktur strategis kerajaan.

Otoritas Saudi sebelumnya memperpanjang penutupan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh hingga setidaknya pukul 21.00 waktu setempat pada Minggu setelah serangan sehari sebelumnya menewaskan 12 orang dan melukai lebih dari 300 lainnya. Namun, jumlah korban tewas dari serangan Sabtu kemudian bertambah menjadi 13 orang setelah Kedutaan Besar India mengonfirmasi seorang warganya meninggal akibat luka-luka yang diderita dalam insiden tersebut.

Pada Minggu, sebuah proyektil kembali menghantam terminal penumpang Bandara Riyadh. Otoritas Penerbangan Sipil Saudi melaporkan satu warga Pakistan tewas dan 11 orang lainnya terluka. Pihak berwenang Saudi juga mengonfirmasi bahwa Bandara Internasional King Fahd di Dammam, kota di pesisir Teluk Persia dekat Bahrain dan Qatar, turut diserang, meski belum mengungkapkan rincian lebih lanjut mengenai insiden tersebut.

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan di Riyadh, Dammam, serta sejumlah fasilitas minyak dan gas di wilayah timur Arab Saudi. Mereka juga memperingatkan maskapai penerbangan, pekerja bandara, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara maupun wilayah udara Saudi karena dianggap rentan menjadi sasaran. Sejumlah maskapai internasional dilaporkan telah menangguhkan penerbangan untuk jangka waktu berbeda-beda.

Serangan beruntun ini meningkatkan tekanan terhadap Arab Saudi untuk memperkuat pertahanan dan membalas Houthi. Koalisi pimpinan Saudi telah berjanji merespons serangan mematikan di Riyadh. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan melibatkan militer AS dalam perang melawan kelompok tersebut dan berencana berbicara dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

Eskalasi konflik juga menimbulkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak dan perdagangan global. Houthi memiliki pengaruh terhadap Selat Bab el-Mandeb di ujung selatan Laut Merah, salah satu jalur pelayaran strategis yang menjadi alternatif bagi pengiriman energi selain Selat Hormuz. Jika gangguan meluas ke kedua jalur tersebut, pengiriman minyak dari Timur Tengah berpotensi menghadapi tekanan lebih besar.

Arab Saudi sebelumnya juga meminta Prancis, Inggris, Pakistan, dan Mesir membantu memperkuat pertahanan udaranya di tengah keterbatasan persediaan pencegat rudal. Serangan terbaru terjadi saat Riyadh menjadi tuan rumah konferensi energi internasional, ketika kerajaan itu terus berupaya menarik investasi dan mengembangkan sektor pariwisata. rmol news logo article
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
EDITOR: RENI ERINA
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA