Akademisi Universitas Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat (UNU Kalbar) Rosadi Jamani menilai Listyo Sigit cs salah memilih lawan, sehingga kini berstatus tersangka dan langsung dibui.
"Sekarang, polisi sedang memburu gerombolan Listyo yang berusaha melarikan diri. Menyerah saja," kata Rosadi, dikutip Selasa 3 November 2026.
Sekarang ini, menurut Rosadi, publik bertanya-tanya, siapakah sosok yang memerintahkan Listyo melakukan aksi brutal menyadap telepon Prabowo?
"Apakah inisiatif sendiri? Atau, ada pesohor masih haus kekuasaan?" tanya Rosadi.
Dosen Universitas Nasional, Selamat Ginting, dalam podcat
Forum Keadilan TV membeberkan aksi penangkapan Listyo.
Semuanya bermula ketika Mabes Polri menemukan perangkat penyadap. Jejaknya disebut mengarah ke rumah Irjen Ahrie Sonta Nasution. Ketika didatangi, ia malah mengamuk, tak terima mau ditangkap.
Akhirnya Irjen Ahrie diborgol dan dibawa ke Mako Brimob Kelapa Dua. Saat interogasi, Ahrie jujur mengaku lalu menyebut menjalankan perintah Listyo.
Anak buah Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto belum berhenti di Ahrie. Perangkat serupa disebut ditemukan di rumah Irjen Slamet Uliandi dan Brigjen Eko Hadi Santoso. Nama Irjen Abdul Karim dan Irjen Nunung Saifudin ikut terseret dalam cerita tersebut.
"Dari keterangan itulah, Listyo diamankan, lalu diperiksa di Bareskrim. Usai diperiksa, ia pun dijebloskan ke penjara. Sejumlah perwira lain disebut diamankan di Brimob," kata Rosadi.
Sasaran penyadapan bukan orang sembarangan. Presiden Prabowo, para menteri, pimpinan partai politik, bahkan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono disebut masuk daftar.
"Kalau benar, ini bukan lagi operasi intelijen, melainkan seperti memasang telinga di seluruh ruang kekuasaan," kata Rosadi.
Dalam kata Selamat Ginting, ada sebelas nama jenderal diduga terkait jaringan tersebut: Listyo Sigit, Komjen Asep Dedi Suhi, Komjen Suhardianto, Komjen Yuda Gustawan, Irjen Eko Hadi, Irjen Dedi Murti, Irjen M. Tejo Kusumo, Irjen Nunung Saifudin, Irjen Ribut Hari Wibowo, Irjen Abdul Karim, dan Irjen Ahrie Sonta Nasution. Nama-nama dan dugaan keterlibatan mereka tentu masih perlu diuji melalui proses hukum dan keterangan resmi.
Namun, ramai pula ditanyakan warga, siapa sebenarnya memerintah gerombolan Listyo Sigit? Apakah semua itu karena ingin kaya raya? Atau, ada pesohor mengendalikan mereka demi mempertahankan dan merebut kekuasaan?
"Pertanyaan ini tidak boleh dijawab dengan bisik-bisik warung kopi. Harus dibuka melalui penyelidikan yang transparan. Jangan sampai yang ditangkap hanya pemain lapangan, sementara sutradaranya asyik ngopi sambil blusukan," pungkas Rosadi.
BERITA TERKAIT: