Dalam sejarahnya, induk materialisme sudah dihabisi oleh para pendiri republik karena menghasilkan tesa: "keuangan yang maha kuasa." Tesa yang memperanakkan sikap sekuler dan anti tuhan sehingga menyembah matre (duit) sebagai hulu dari kapitalisme yang melahirkan liberalisme, lalu mencipta kolonialisme, kemudian mentradisikan neoliberalisme yang berwajah goblokisme.
Begitu patuhnya ekonom kita pada ortodoksi, ortopraksi dan ortopati neoliberalisme, sehingga kemiskinan, kebodohan, keterbelahan, kehinaan, ketersesatan, ketimpangan, kepengangguran, kesakitan, keterjajahan, keterasingan, ketergantungan (11K) terus terjadi sampai kini.
Untuk mengakhiri penyakit 11K yang kita warisi, mari viralkan inti pemikiran lima ekonom terkemuka dunia yang telah menulis dan menyampaikannya di publik dan mempopulerkan buku-bukunya. Kelimanya adalah Stiglitz, Hertz, Hudson, Krugman, Minsky.
Inti dari pikiran kritis Joseph Eugene Stiglitz (9 Februari 1943) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: asimetrik dan fundamentalisme pasar. Sebagai peraih nobel bidang ekonomi (2001), pikiran dan bukunya berdiri sangat kritis dan argumentatif terhadap ortopraksi globalisasi dengan menyebut bahwa hal itu hanya bisnis tipu-menipu via asimetri informasi. Tak lebih, tak kurang.
Sedang praksis neolib hanya dianggap pembutaan negara berkembang pada pasar yang tak pernah sempurna, mandiri dan independen. Stiglitz menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bekerja seperti yang digambarkan dalam buku teks karena informasinya sering invalid, institusi tidak sempurna dan distribusi kekuasaan (modal, model, modul) tidak seimbang.
Bagaimana dengan inti pikiran Noreena Hertz (24 September 1967) terhadap globalisasi dan neoliberalisme? Ia bertesa bahwa itu hanya korporasi global dan swastanisasi demokrasi. Dengan tesis itu, Hertz memperingatkan bahwa pasar yang tidak diatur, keserakahan korporasi, dan lembaga keuangan yang terlalu berkuasa akan memiliki konsekuensi global yang serius dan berdampak buruk pada manusia dan negara miskin.
Sebagai "Nigella Lawson" di bidang ekonomi, ia menyebut bahwa neoliberalisme hanyalah terorisme ekonomi, penyakit valas yang berdampak pada kehancuran ekologis dunia. Demokrasi ekonomi jadi lahan kosong dan bahkan hutan rimba di mana yang kuat memangsa kaum dan negara lemah.
Lalu, pikiran kritis Michael Hudson (1939) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: imperialisme keuangan dan negara maju adalah kolektor utang. Baginya, globalisasi hanya perang keuangan: yaitu utang haram, bunga yang mencekik, rent extraction, asuransi, fiat dan kekuatan kreditur.
Dalam kerangka ini, surplus ekonomi dapat berpindah bukan hanya melalui proses produksi, tetapi melalui sistem keuangan. Rangkaian unsur debt (utang), interest (bunga), rent (rente), extraction (ekstraksi), inequality (kesenjangan), dan dependency (ketergantungan) menjadi penting untuk membaca struktur ekonomi.
Bagaimana dengan kritik inti pikiran Paul Robin Krugman (28 Februari 1953) terhadap globalisasi dan neoliberalisme? Menurutnya, dunia kini hanya diisi pemenang dan pecundang. Sedangkan neoliberalisme hanya berisi dunia kebablasan dan ketidakwajaran.
Sebagai peraih penghargaan nobel bidang ekonomi (2008), Krugman memperlihatkan bahwa perdagangan internasional tidak pernah berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya kompetitif dan fair. Ada economies of scale, persaingan tidak sempurna, geografi dan kondisi makroekonomi yang terus berlangsung. Semua hanya membentuk manusia rakus dan manusia yang dikorbankan.
Terakhir, inti kritik pikiran Hyman Philip Minsky (1919-1996) terhadap globalisasi dan neoliberalisme adalah: kasino global dan ordo para bankir. Dalam kasino global isinya hanya dua: speculative and ponzi finance. Keduanya hanya menghisap kaum miskin jadi objek dan korban.
Dengan tesis itu, ia setuju intervensi pemerintah di pasar keuangan, menentang beberapa deregulasi keuangan yang tidak adil, menentang akumulasi utang swasta yang berlebihan di pasar keuangan serta menyadarkan gelembung investasi spekulatif yang endogen dengan istilah "momen minsky."
Tentu kritik pada globalisme dan neoliberalisme juga dikerjakan oleh ekonom Indonesia. Misalnya ekonom di mazhab Tebet, mazhab Bulaksumur, strukturalis dll.
Yudhie Haryono
CEO Nusantara Centre
BERITA TERKAIT: