Danantara Ciptakan Ekonomi Hijau Via Pelindo

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/arief-poyuono-5'>ARIEF POYUONO</a>
OLEH: ARIEF POYUONO
  • Rabu, 30 September 2026, 12:00 WIB
Danantara Ciptakan Ekonomi Hijau Via Pelindo
Arief Poyuono. (Foto: Istimewa)
Kecil Besar
ADA satu pertanyaan penting yang patut diajukan ketika Indonesia memasuki era baru pengelolaan aset negara melalui Danantara: untuk apa kekayaan negara dikelola dan diarahkan?

Jawabannya tentu tidak cukup hanya dengan pertumbuhan nilai aset, peningkatan keuntungan, atau ekspansi investasi. 

Kekayaan negara pada akhirnya harus kembali menjadi kekuatan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan membangun fondasi ekonomi yang mampu bertahan menghadapi perubahan zaman.

Di sinilah gagasan pembangunan hijau dan berkelanjutan memperoleh relevansinya.

Indonesia tidak hanya sedang menghadapi tantangan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga perubahan iklim, tekanan terhadap ekosistem, kebutuhan energi yang terus meningkat, transformasi teknologi, serta perubahan struktur perdagangan global. 

Karena itu, pembangunan infrastruktur masa depan tidak lagi dapat diukur hanya dari berapa kilometer jalan dibangun, berapa banyak terminal didirikan, atau berapa besar kapasitas logistik ditambahkan.

Ukuran keberhasilannya harus diperluas: berapa besar emisi yang dapat dikurangi, berapa banyak energi yang dapat dihemat, seberapa tangguh infrastrukturnya terhadap perubahan iklim, berapa banyak pekerjaan hijau tercipta, dan seberapa besar manfaat ekonomi dirasakan masyarakat.

Pemaparan tulisan ini mengenai infrastruktur berkelanjutan yang menjadi pijakan dalam menempatkan pembangunan berkelanjutan dalam empat dimensi: ekonomi, sosial, lingkungan, dan tata kelola. 

Infrastruktur yang baik bukan sekadar infrastruktur yang selesai dibangun, melainkan yang memberikan manfaat jangka panjang dengan dampak lingkungan seminimal mungkin.

Dalam kerangka itulah Danantara dapat memainkan peran strategis.Dan salah satu tempat paling konkret untuk memulai agenda tersebut adalah pelabuhan-pelabuhan yang berada dalam ekosistem Pelindo.

Pelabuhan Bukan Sekadar Tempat Kapal Bersandar

Selama ini pelabuhan kerap dilihat sebagai tempat kapal datang, bongkar muat, kemudian berangkat kembali. Cara pandang tersebut sudah terlalu sempit. 

Pelabuhan modern sesungguhnya merupakan simpul dari berbagai aktivitas ekonomi: perdagangan, industri, energi, logistik, transportasi, pergudangan, manufaktur, kawasan industri, hingga ekonomi masyarakat pesisir.

Dalam teori port-city nexus, pelabuhan tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari ekosistem kota dan kawasan ekonomi di sekitarnya. 

Karena itu, kualitas sebuah pelabuhan akan memengaruhi kualitas rantai pasok, daya saing industri, mobilitas barang, konsumsi energi, bahkan kualitas lingkungan masyarakat. 

UNCTAD juga menempatkan pelabuhan sebagai bagian penting dari transformasi energi dan digital. Pelabuhan merupakan konsumen energi yang besar sekaligus sumber emisi, sehingga transisi energi, digitalisasi, dan penguatan ketahanan menjadi bagian penting dari konsep future-ready ports. 

Dengan posisi seperti itu, pelabuhan justru dapat dijadikan laboratorium terbesar pembangunan hijau Indonesia.
Danantara memiliki peluang untuk membawa gagasan tersebut lebih jauh: dari sekadar program lingkungan perusahaan menjadi strategi investasi nasional.

Dari Green Port Menuju Green Economic Hub

Pelabuhan hijau (green port) jangan dipahami hanya sebagai pelabuhan yang memiliki taman, menanam mangrove, menggunakan lampu hemat energi, atau mengganti sebagian peralatan diesel dengan listrik. Semua itu penting, tetapi belum cukup.

Konsep green port generasi baru harus bergerak menuju green economic hub -- pelabuhan yang menjadi pusat pertemuan antara energi bersih, logistik rendah karbon, digitalisasi, ekonomi sirkular, industri hijau, dan pemberdayaan masyarakat. 

Pelindo sendiri sebenarnya telah memiliki sejumlah fondasi ke arah tersebut.
Dalam Laporan Keberlanjutan 2025, Pelindo melaporkan penggunaan On-Shore Power Supply (OPS) di Tanjung Priok, pengembangan PLTS dengan kapasitas terpasang 1.268 kWp, serta pemanfaatan teknologi hibrida berbasis baterai. 

Pelindo juga melaporkan bahwa OPS pada tingkat adopsi saat ini dapat mengurangi konsumsi bahan bakar kapal sekitar 30–33 persen.

Pada September 2026, Pelindo juga meluncurkan layanan OPS di Tanjung Priok. Berdasarkan pengujian yang dilakukan, penggunaan OPS diperkirakan dapat mengurangi emisi gas buang kapal hingga 75 persen dan sekaligus mengurangi emisi lokal seperti NOx, SOx, serta partikulat selama kapal menggunakan pasokan listrik darat.

Artinya, fondasi transformasi sebenarnya sudah ada. Yang dibutuhkan berikutnya adalah scale-up. Di sinilah Danantara dapat masuk bukan sebagai operator pelabuhan, melainkan sebagai pengarah modal, katalis investasi, dan pembangun ekosistem.

Danantara sebagai Green Capital Allocator

Teori modern mengenai sustainable finance telah mengubah cara melihat modal. Modal tidak lagi semata-mata dipandang sebagai instrumen untuk memperoleh keuntungan finansial, tetapi juga sebagai instrumen untuk mengelola risiko jangka panjang.

OECD telah menekankan bahwa sovereign wealth funds  semacam Danantara ini memiliki posisi penting dalam transisi rendah karbon karena besarnya modal yang dikelola dan kemampuan mereka melakukan investasi jangka panjang. 

Salah satu jalurnya adalah investasi pada aset rendah karbon dan teknologi bersih, serta keterlibatan aktif dengan perusahaan portofolio untuk menurunkan emisi. Konsekuensinya bagi Danantara cukup jelas.

Setiap investasi strategis tidak cukup dinilai berdasarkan pertanyaan:

“Berapa return-nya?”
Tetapi juga:
“Berapa emisinya?”
“Berapa risiko iklimnya?”
“Apa dampaknya terhadap masyarakat?”
“Bagaimana pengaruhnya terhadap biodiversitas?”
Dan yang paling penting:
“Apakah investasi tersebut memperkuat daya tahan ekonomi Indonesia dalam 20–30 tahun ke depan?”

Inilah paradigma long-term value creation. Dengan paradigma tersebut, modernisasi pelabuhan dapat menjadi salah satu portofolio investasi hijau nasional.

Bayangkan jika dalam satu dekade ke depan pelabuhan-pelabuhan strategis Pelindo tidak hanya menjadi terminal logistik, tetapi berkembang menjadi pusat energi bersih. 

- Atap terminal dipenuhi panel surya.
- Peralatan bongkar muat secara bertahap menggunakan tenaga listrik.
- Truk dan kendaraan operasional pelabuhan beralih menuju kendaraan rendah atau tanpa emisi.
- Kapal yang bersandar dapat menggunakan listrik darat.
- Sistem digital mengatur pergerakan kapal dan kendaraan sehingga waktu tunggu dapat ditekan.
- Limbah kapal dikelola secara terintegrasi.
- Air hujan dimanfaatkan kembali.
- Mangrove dan ekosistem pesisir menjadi bagian dari sistem perlindungan kawasan.
- Data energi dan emisi dipantau secara real time.

Bahkan, kawasan pelabuhan dapat terhubung dengan industri di sekitarnya dalam sistem industrial simbiosis, ketika limbah atau produk samping satu industri menjadi input bagi industri lainnya. Itulah gambaran pelabuhan masa depan.

Pelabuhan Harus Menjadi Infrastruktur yang Climate-Resilient

Ada teori lain yang semakin penting, yaitu climate resilience. Infrastruktur masa depan harus bukan hanya rendah emisi, tetapi juga mampu menghadapi dampak perubahan iklim. Pelabuhan sangat rentan terhadap kenaikan muka air laut, gelombang ekstrem, banjir rob, badai, perubahan pola cuaca, dan gangguan rantai pasok.

Karena itu, investasi Danantara di sektor kepelabuhanan seharusnya memasukkan climate risk assessment sebagai bagian dari keputusan investasi. Dermaga yang dibangun hari ini harus mempertimbangkan kondisi iklim beberapa dekade mendatang. Gudang harus dirancang menghadapi risiko banjir. Sistem kelistrikan harus memiliki ketahanan terhadap gangguan.

Sistem digital harus memiliki redundansi. Jalur logistik harus memiliki alternatif ketika terjadi bencana. Dengan kata lain, pelabuhan hijau harus sekaligus menjadi pelabuhan tangguh.

Ada satu aspek yang sering terlupakan dalam pembicaraan tentang dekarbonisasi: manusia.

Elektrifikasi dan otomasi memang dapat meningkatkan efisiensi. Namun teknologi baru juga membutuhkan keterampilan baru. Operator alat bongkar muat yang selama ini bekerja dengan mesin diesel harus memahami sistem elektrifikasi.

Teknisi harus menguasai baterai dan sistem kelistrikan. Tenaga kerja harus memahami digitalisasi, otomasi, keselamatan teknologi baru, serta sistem energi bersih. 

Karena itu, teori just transition menjadi sangat penting. Transisi hijau tidak boleh sekadar memindahkan Indonesia dari ekonomi berbasis karbon menuju ekonomi berbasis teknologi, sementara sebagian pekerja kehilangan kesempatan untuk beradaptasi.

Justru investasi hijau harus menjadi kesempatan untuk menciptakan green jobs. Danantara bersama Pelindo dapat membangun Green Maritime Skills Program: program peningkatan kompetensi pekerja pelabuhan untuk elektrifikasi, energi terbarukan, otomasi, digitalisasi, keselamatan teknologi, pengelolaan lingkungan, dan ekonomi sirkular. 

Dengan demikian, transformasi hijau bukan hanya transformasi mesin. Ia adalah transformasi manusia.

Pelabuhan sebagai Titik Awal Ekonomi Hijau Nasional

Sebenarnya, mengapa harus pelabuhan? Karena pelabuhan memiliki efek pengganda yang sangat besar. Ketika sebuah pelabuhan menjadi lebih efisien, dampaknya menyebar ke transportasi darat, pergudangan, industri, perdagangan, dan konsumen. Ketika pelabuhan mengurangi penggunaan energi fosil, rantai pasok ikut terdorong melakukan perubahan.

Ketika pelabuhan menyediakan infrastruktur energi bersih, kapal dan industri di sekitarnya memperoleh insentif untuk ikut bertransisi. 

Ketika sistem digital mengurangi waktu tunggu kapal dan truk, emisi sekaligus biaya logistik dapat ditekan. Dengan demikian, pelabuhan dapat menjadi anchor institution bagi ekonomi hijau di daerah. Danantara dapat menggunakan posisi strategisnya untuk membangun model yang kemudian direplikasi. 

Tanjung Priok dapat menjadi salah satu laboratorium

Pelabuhan di kawasan industri dapat dikembangkan menjadi pusat energi dan logistik hijau.

Pelabuhan di kawasan timur Indonesia dapat dikembangkan dengan pendekatan renewable-based infrastructure sejak awal. Pelabuhan yang berdekatan dengan ekosistem pesisir sensitif dapat menggunakan pendekatan nature-based solutions. 

Tidak semua pelabuhan harus menggunakan formula yang sama. Justru prinsipnya adalah one national standard, different local solutions.

Menghubungkan Pelabuhan dengan Agenda Energi Bersih Danantara

Hal ini semakin relevan ketika Danantara telah ditempatkan dalam agenda perdagangan listrik rendah karbon Indonesia-Singapura. 

Dokumen terlampir mencatat target pengembangan perdagangan listrik lintas negara hingga 3,4 GW pada 2035 dan menempatkannya sebagai bagian dari agenda industrialisasi hijau serta integrasi ASEAN Power Grid.

Jika agenda energi bersih tersebut dikaitkan dengan pelabuhan, terbuka sebuah ekosistem yang jauh lebih besar. Pelabuhan dapat menjadi:
generator energi ? pengguna energi bersih ? distributor ? pusat logistik ? pusat industri hijau.

Masa Depan Tidak Hanya Hijau, tetapi juga Inklusif

Pada akhirnya, pembangunan berkelanjutan tidak boleh kehilangan dimensi manusia. Tulisan ini menegaskan bahwa infrastruktur berkelanjutan harus memperhatikan inklusi, kesetaraan, akses masyarakat, penciptaan lapangan kerja lokal, serta partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. 

Prinsip tersebut harus menjadi jiwa dari transformasi pelabuhan. Masyarakat pesisir tidak boleh hanya menjadi penonton. 

Pekerja pelabuhan tidak boleh hanya menjadi objek otomatisasi. Pelaku UMKM di sekitar kawasan pelabuhan harus memperoleh ruang. 

Generasi muda harus mendapatkan akses terhadap pekerjaan baru. Dan lingkungan harus diperlakukan sebagai aset ekonomi jangka panjang, bukan sebagai biaya yang harus dikorbankan demi pembangunan. Inilah makna sesungguhnya dari just and sustainable development.

Penutup: Memulai dari Pelabuhan

Indonesia adalah negara kepulauan. Laut bukan pemisah, melainkan penghubung. Pelabuhan adalah pintu yang menghubungkan sumber daya Indonesia dengan pasar domestik dan dunia. 

Karena itu, jika Indonesia ingin membangun ekonomi hijau yang memiliki daya saing global, transformasi pelabuhan seharusnya ditempatkan sebagai salah satu prioritas strategis.

Danantara mempunyai instrumen yang tidak dimiliki banyak institusi lain: kemampuan mengarahkan modal jangka panjang dan menghubungkan berbagai aset strategis negara. 

Namun keberhasilan tersebut akan sangat ditentukan oleh tata kelola. Kajian mengenai Danantara dalam dokumen terlampir juga menekankan bahwa keberhasilan SWF tidak hanya bergantung pada kapasitas finansial, tetapi pada integrasi hukum lingkungan, transparansi, akuntabilitas, audit independen, dan partisipasi masyarakat.  

Karena itu, masa depan Danantara tidak semestinya hanya diukur dari berapa besar aset yang dikelola. Ukuran yang lebih fundamental adalah:

Berapa besar nilai tambah ekonomi yang diciptakan,berapa banyak emisi yang berhasil dikurangi, berapa banyak ekosistem yang dipulihkan, berapa banyak pekerjaan hijau yang tercipta, dan seberapa tangguh ekonomi Indonesia menghadapi perubahan iklim. 

Jika Pelindo dapat dijadikan salah satu proyek percontohan transformasi tersebut, maka pelabuhan Indonesia dapat berubah dari sekadar gerbang perdagangan menjadi gerbang ekonomi hijau.

Dan dari gerbang-gerbang itulah Indonesia dapat membangun masa depan yang tidak hanya lebih kaya, tetapi juga lebih bersih, tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.

Sebab pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang paling banyak meninggalkan beton. Pembangunan yang sesungguhnya adalah pembangunan yang meninggalkan nilai bagi generasi berikutnya.rmol news logo article

*Komisaris PT Pelindo (Persero)
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA