Dimensy.id Mobile
Dimensy.id
Apollo Solar Panel

Nilai Rocky

 OLEH: <a href='https://rmol.id/about/dahlan-iskan-5'>DAHLAN ISKAN</a>
OLEH: DAHLAN ISKAN
  • Sabtu, 30 September 2023, 08:38 WIB
Nilai Rocky
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan/Net
MISTERI seretnya karier kemiliteran Luhut Binsar Pandjaitan disinggung di buku yang diluncurkan Kamis sore kemarin.

Dua tokoh menyinggungnya di buku hadiah ulang tahun ke-76 Luhut itu: Jenderal Hendro Priyono dan Jenderal Sintong Panjaitan.

Yang pertama, Luhut tidak mau di-bully. Tepatnya difitnah. Luhut mendatangi yang ia anggap memfitnah. Ia lawan. Istri Luhut pun kompak: ikut melawan.

Yang dilawan itu ternyata atasan. Luhut tidak peduli. Tapi sang atasan bukan jenderal biasa. Ia adalah pejabat yang sangat berpengaruh pada kenaikan pangkat seseorang.

Sayang tidak disebut siapa nama atasan itu. Apakah sekarang masih hidup. Pun fitnahnya soal apa.

Yang kedua, Luhut hadir dalam rapat perwira tinggi yang diadakan Jenderal Benny Moerdani. Benny kala itu menginginkan Presiden Soeharto berhenti sampai di Pemilu tahun 1997 saja. Tidak maju lagi sebagai calon presiden periode ke-6. Beliau sudah 32 tahun menjadi presiden.

Tidak satu pun yang menyebut seretnya karier Luhut terkait dengan tokoh anti-Soeharto, Dr Sjahrir. Yang mengawini adik Luhut: Nurmala Kartini.

Sebagai lulusan terbaik Akabri tahun 1970, Luhut tentu ingin pada suatu saat mencapai jabatan tertinggi di angkatan darat: KSAD. Apalagi saat itu pangkatnya sudah letnan jenderal.

Tapi ia dipanggil seniornya: Jenderal Sintong Panjaitan. Sintong sedang menjabat penasihat Presiden B.J. Habibie bidang militer.

Saat itu Habibie ingin memperbaiki hubungannya dengan Singapura. Hubungan itu renggang akibat Habibie sangat kecewa pada Singapura. Habibie menganggap Singapura tidak cukup membantu tetangga terdekat yang lagi mengalami krisis moneter.

Lalu, saat diwawancarai media asing, Habibie menunjukkan peta dunia. Betapa luas Indonesia. "Titik merah kecil itu Singapura," katanya.

Singapura merasa diremehkan. Hubungan kian tidak baik. Sintong melihat Luhut mampu mengatasi ketegangan dua negara.

Maka Luhut diminta mau menjadi duta besar di Singapura. Luhut menolak. Ia keberatan kalau harus mendadak berhenti dari dinas militer.

Sintong memaksanya. Luhut tetap menolak. Ia ingin masih bisa menjadi KSAD. Sintong marah.

"Jelek sekali muka kamu," bentak Sintong. Luhut tetap menolak.

Sintong mengeluarkan jurus pemungkas: "Ini perintah langsung Panglima Tertinggi!".

Mendengar kata-kata terakhir itu, Luhut langsung berdiri, mengambil sikap sempurna, memberi hormat dan dengan tegas mengatakan: Siaaap!
Karier militernya pun terhenti.

Saat jadi duta besar itulah Luhut kembali bertemu Gus Dur. Menjelang Sidang Umum Majelis Permusyawaratan Rakyat (SU-MPR).

Belum ada gambaran Gus Dur maju sebagai calon presiden. Tapi saat itu Gus Dur mengatakan kepada Luhut: "Saya akan jadi presiden sebentar lagi. Nanti Pak Luhut saya angkat menjadi menteri".

Ternyata Gus Dur benar-benar jadi presiden. Luhut pun diangkat menjadi menteri perindustrian dan perdagangan. Menggantikan Jusuf Kalla yang diberhentikan Gus Dur.

Luhut, di buku itu, disebutkan kenal Gus Dur saat masih jadi Danrem di Madiun. Pangkatnya kolonel. Luhut mendapat tugas berat dari pusat: ''membina'' Gus Dur. Agar Gus Dur bisa berubah dari anti-Soeharto menjadi pro-Soeharto. Setidaknya tidak lagi anti.

Kata ''membina'' adalah istilah dunia intelijen untuk tugas menundukkan. Saat itulah Luhut ikut acara-acara keagamaan NU. Terutama istighotsah. Kesimpulannya: Luhut tidak berhasil ''membina'' Gus Dur.

Ketua Umum PBNU itu sendiri tahu kalau lagi ''dibina''. Maka Gus Dur justru ''membina'' Luhut. Begitulah kalau orang pinter membina orang pinter. Jatuhnya menjadi saling membina.

Anda juga sudah tahu: Gus Dur sangat dekat dengan Jenderal Benny Moerdani, panglima ABRI saat itu.

Mungkin perkara bina-membina ini pula yang membuat Luhut tidak pernah menjabat KSAD. Menjabat pangdam pun tidak pernah. Danrem Madiun itulah jabatan tertinggi sebagai komandan teritorial.

Hendro Priyono memanggil Luhut dengan panggilan Gajah. Itu karena badannya besar dan tinggi. Ukuran tubuhnya sangat menonjol dibanding taruna (mahasiswa) Akabri lainnya. Panggilan ''gajah'' itu meluas. Siapa pun memanggil Luhut ''gajah''.

Luhut awalnya masuk SMAN 1 Pekanbaru, Riau. Ayahnya memang pegawai perusahaan minyak Caltex. Luhut pernah juara renang di Riau. Ia pernah dikirim ke PON.

Saat SMA itu Luhut nakal. Maka orang tuanya memindahkan Luhut ke Bandung. Masuk asrama SMAK 1 Penabur.

Ketika di militer Luhut sering menyelesaikan pekerjaan melebihi yang ditugaskan. Misalnya ketika diminta mengurus latihan terjun di Amerika. Agar beberapa tentara kita bisa berlatih di sana. Yang dilakukan Luhut adalah: mendatangkan pelatih Amerika ke Indonesia. Berikut pesawatnya dan peralatannya. Dengan demikian yang bisa ikut latihan jauh lebih banyak. Termasuk dirinya sendiri.

Demikian juga ketika Luhut ditugaskan mengirim tentara untuk latihan perang di hutan. Beberapa tentara harus dikirim ke Inggris. Yang dilakukan Luhut: mendatangkan pelatih dari Inggris. Alasannya: di sana tidak ada lagi medan yang benar-benar hutan.

Di bidang militer, kata Rocky Gerung, di buku itu, nilai Luhut 11 (skala 1 sampai 10). Di bidang pemerintahan nilainya 10.

Ada nilai lain yang menurut Rocky harus diperbaiki: etika bisnis. Di bidang ini nilai Luhut 6-7. Rocky menyarankan Luhut segera membuat partai.

Rizal Ramli bercerita ketika menjadi atasan Luhut di era Presiden Gus Dur. Rizal adalah Menko Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri. Luhut menteri perdagangan dan Industri.

"Pak Luhut itu pembelajar yang cepat," ujar Rizal.

Waktu itu harga minyak goreng bergejolak. Harga di pasar internasional naik tinggi.

Rizal minta Luhut memanggil bos-bos kelapa sawit. Mereka harus diingatkan: kacang jangan lupa kulit. Mereka menanam sawit di tanah yang diberikan negara. Mereka diberi kredit dari bank milik negara dengan bunga hanya 2 persen. Padahal kredit untuk UKM saja, saat itu, 12 persen.

"Saya senang dapat tugas injak kaki seperti ini," kata Rizal menirukan reaksi Luhut saat itu. Maka harga minyak goreng dalam negeri pun kembali normal.

Saya salut pada Peter F. Gontha yang berinisiatif menerbitkan buku Luhut Binsar Pandjaitan Menurut Kita-kita' ini. Terutama karena tokoh oposisi seperti Rizal dan Rocky Gerung diikutkan di dalamnya. rmol news logo article
EDITOR: DIKI TRIANTO

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

< SEBELUMNYA

Quick Count

BERIKUTNYA >

Saling Sepak

ARTIKEL LAINNYA