Farah.ID
Farah.ID

Babak Akhir Yang Menentukan (2-Tamat)

Senin, 10 Mei 2021, 15:25 WIB
Babak Akhir Yang Menentukan (2-Tamat)
Foto ilustrasi/Net
PADA masa sebelum Ramadhan, kita hidup tanpa fokus. Bagaikan air yang mengalir tanpa arah. Meluber ke mana-mana.

Kehidupan yang diawali dengan siang berakhir malam. Diawali malam berakhir siang. Dimulai sore berakhir pagi. Diawali pagi berakhir sore. Berulang-ulang. Terus menerus. Begitu seterusnya. Siklistis.

Kita hidup sekadar hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari sebagai seorang manusia. Tujuannya hanya untuk hidup. Sibuk. Penuh perjuangan. Tapi itu perjuangan yang hampa. Sia-sia. Maka, hidup yang demikian itu sebenarnya hidup yang tanpa tujuan.

Secara eksistensial, kehidupan yang demikian sebenarnya sudah mati. Ajaran adiluhur Jawa mengatakan, mati sajeroning ngaurip (mati dalam hidup).

"Demi matahari yang sudah condong (ashar). Sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi". (Quran: 103:1-2).

"Telah dekat kepada manusia hari perhitungan segala amal mereka. Sedang mereka berada dalam kelalaian lagi berpaling (dari akhirat)". (Quran:  21:1).

Mengapa manusia terperangkap dalam sistem kehidupan demikian? Pertama, faktor internal berupa dorongan hawa nafsu.

"Dan janganlah engkau ikuti hawa nafsu. Karena akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan Hari Perhitungan. (Quran: 38:26).

Ajaran adiluhur Jawa menuturkan, melik nggendhong lali, hanyut pada keinginan sehingga membuat diri larut dalam lupa (lengah). Yang berkuasa lupa bahwa kekuasaan adalah amanat dari Tuhan yang akan dipertanggung jawabkan di akhirat.

Fakfor eksternal berupa tarikan dari kuasa kegelapan beserta seluruh sistem dan aparatusnya. Seluruh jaringannya. Tarikan, bujuk rayu, tekanan Iblis sebagai puncak kuasa kegelapan saja sudah sangat berat, apalagi di akhir jaman sekarang ditambah Dajjal, mahluk yang secara khusus diciptakan untuk memberi ujian dan cobaan (fitnah) kepada manusia. Dan merupakan fitnah terbesar sepanjang kurun sejarah umat manusia.

Artificial Intelligent

Dorongan dan tarikan membuat kita beringsut-ingsut menjauh dari Allah. Berpaling dari Allah ke uang, duit, fulus, qian, keserakahan, hedonisme (kenikmatan duniawi), jabatan, kekuasaan, permusuhan, kebencian, harta kekayaan, keputusasaan, kapitalisme, despotisme, sekularisme, liberalisme, kedzaliman, kesombongan, perusakan (fasad).

Tanpa menyadari, kita secara substansial telah menjadi serigala yang melambangkan kekejaman dan penindasan.

Telah menjadi tikus yang melambangkan kelicikan.

Telah menjadi anjing yang melambangkan tipu daya.

Telah menjadi domba yang melambangkan penghambaan.

Bisa juga kita sebenarnya secara substansial telah menjadi “jazad”. Siapa itu “jazad”?

Al Quran menyebut jazad di Surah Al Anbiya 8, “Dan Kami tidak menjadikan mereka (Rasul-rasul) sebagai “jazad” yang tidak memakan makanan, dan mereka  tidak (pula) hidup kekal.

Jazad di jaman Nabi Musa berupa patung anak sapi berbahan  emas yang diciptakan Samiri. Patung itu hebat, bisa mengeluarkan suara. Pada akhirnya dinobatkan sebagai Tuhan oleh umat Bani Israel. (Quran: 20: 87 – 97).

Di jaman yang lebih muda yaitu semasa Nabi Sulaiman “jazad” adalah sesuatu yang tergeletak di singgasana Sulaiman. Suatu sosok yang mengerikan sampai Sulaiman yang sakti pun bergetar. Jazad itu ditafsirkan sebagai Dajjal. (Quran: 38:34).

Di jaman now, bisa jadi jazad itu adalah mesin artificial intelligent (AI). Cerdas, hebat tetapi tanpa hati. Ketika manusia sudah tidak memiliki hati atau buta hatinya maka secara substansial tidak ubahnya sebagai AI.

Manusia menjadi seperti “jazad” buatan Samiri. Memposisikan diri sebagai Tuhan. Diejwantahkan dengan perilakunya. Ada yang merasa paling benar. Merasa paling berkuasa. Paling kaya. Paling digdaya. Paling pintar.

Bisa juga kita tanpa terasa telah menjadi pengikut “neo-Samiri”. Penyembah AI. Manusia bergantung kepada AI daripada Tuhan. Menjadikan AI sebagai maha pengatur kehidupan.

“AI sudah mengendalikan dunia saat ini,” kata Tristan Harris, pakar IT dan mantan Desainer Estetik Google.

Jiwa yang Suci

Dan puasa Ramadhan memiliki nilai penyangkalan terhadap hidup tanpa tujuan. Pengendalian agar manusia tidak menjadi budak hawa nafsu. Bengteng dari tarikan kekuatan kuasa gelapan, iblis, setan, Dajjal beserta krunya.

Maka diharapkan begitu selesai Ramadhan kita kembali ke fitrah, dasar penciptaan yaitu sebagai ruh Allah, jiwa yang suci. Manusia bertakwa.

Demikian pula saat kita selesai hidup di dunia (mati), kita kembali kepada Allah dengan membawa fitrah kita. Kita disambut dengan sapaan, "Wahai jiwa yang bersih/suci. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. Dan Masuklah ke dalam surga-Ku. (Quran:89:27-30).

Rabbi aalam (Tuhan Maha Tahu).

Anwar Hudijono
Kolumnis tinggal di Sidoarjo.

ARTIKEL LAINNYA