Menunggu 22 Mei 2019, Menunggu Godot

Batara R. Hutagalung/Net

MENUNGGU Godot (Waiting for Godot) adalah karya novelis asal Irlandia, Samuel Barclay Beckett. Dia mulai menulisnya tahun 1948, namun baru dapat diselesaikan tahun 1949. Pentas perdananya tanggal 5 Januari 1953 di Théâtre de Babylone di Paris, Perancis.
 
Inti lakon ini mengisahkan dua orang, Estragon dan Vladimir, yang menanti kedatangan seseorang yang bernama Godot, untuk membantu atau menyelamatkan keduanya.
 
Mereka tidak kenal sosok Godot, bahkan tidak mengetahui, apakah benar ada orang yang bernama Godot.
 
Keduanya kehilangan orientasi ruang dan waktu. Estragon sempat akan pergi saja karena sudah jenuh menunggu dan tak yakin bahwa Godot akan datang. Namun dia ditahan oleh Vladimir, dengan alasan, bagaimana kalau toh Godot datang?
 
Sampai akhir cerita, sosok Godot tidak muncul. Jadi hanya penantian yang sia-sia.
 
Mengenai lakon ini, beragam pendapat disampaikan oleh para pengamat dan kritikus teater. Ada yang menamakan sebagai suatu tragik-komedi. Ada yang menilai bahwa lakon ini absurd. Juga ada yang menilai sebagai suatu drama.
 
Menunggu 22 Mei 2019
 
Situasi di kubu paslon 02 pada saat ini kelihatannya mirip dengan lakon teater ‘Menunggu Godot,’ yaitu menunggu KPU merilis hasil penghitungan suara pilpres 2019, bahwa yang menang adalah paslon 02.  
 
Sebagian, "kelompok Vladimir," masih menunggu hasil penghitungan KPU yang diharapkan akan menyatakan kemenangan paslon 02.
 
Namun sebagian lagi, " kelompok Estragon," sudah tidak mempercayai KPU, karena berpendapat, telah terbukti kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh KPU untuk memenangkan paslon 01. "Kelompok Estragon," yang sudah jenuh menanti kedatangan Godot, tidak mempercayai lagi KPU, sudah ingin move on.
 
Kelompok Vladimir optimis dan tetap menunggu Godot. Menantikan KPU menyatakan bahwa paslon 02 yang memenangkan pilpres 2019. Namun bagaimana kalau tenyata Godot tidak kunjung datang. KPU tidak memenangkan paslon 02?

Apakah "Menunggu 22 Mei 2019" akan menjadi lakon tragik- komedi, atau suatu lakon yang absurd, atau suatu drama, atau?

Apakah akan seperti lakon "Menunggu Godot", suatu penantian yang sia-sia?

Batara R. Hutagalung
Penulis adalah Peneliti Sejarah
EDITOR: AZAIRUS ADLU

Komentar


Video

Gunung Gede Pangrango kembali terlihat lagi dari Kota Jakarta

Rabu, 24 Februari 2021
Video

Tanya Jawab Cak Ulung • Melacak Tokoh Potensial 2024

Kamis, 25 Februari 2021
Video

RMOL World View • Diplomasi Halal Saat Pandemi

Senin, 08 Maret 2021

Artikel Lainnya

Bukan Sekali Ini SMI Diduga Menggelapkan Pajak
Publika

Bukan Sekali Ini SMI Diduga ..

08 Maret 2021 14:50
Hari Perempuan Internasional, Antara Liberalis, Pancasilais Dan Islamis
Publika

Hari Perempuan Internasional..

08 Maret 2021 14:42
Antara Mahfud Dan Masa Depan Demokrasi Indonesia
Publika

Antara Mahfud Dan Masa Depan..

08 Maret 2021 13:01
Transformasi Digital Menuju Inklusivitas Pendidikan
Publika

Transformasi Digital Menuju ..

08 Maret 2021 12:48
KLB Ilegal Dan Moeldoko: Ini Tentang Kuasa, Bukan Akal Sehat
Publika

KLB Ilegal Dan Moeldoko: Ini..

08 Maret 2021 12:23
“Perang Kilat” Sibolangit
Publika

“Perang Kilat” Sibolangi..

08 Maret 2021 11:58
Perempuan Anti Korupsi
Publika

Perempuan Anti Korupsi

08 Maret 2021 07:11
Publika

Ujian Politik Partai

08 Maret 2021 01:58