Dubes Jepang: Tidak Ada Hubungan Bertetangga Yang Bebas Dari Masalah

Selasa, 05 Maret 2019, 00:07 WIB
Oleh: Teguh Santosa

Duitabesar Jepang Masufumi Ishii/RMOL

UNIPOLARISME pasca Perang Dingin tak berumur panjang. Hanya dalam waktu kurang lebih satu dekade berbagai kekuatan ekonomi dan politik baru bermunculan. Di Asia Timur, China yang untuk waktu cukup lama memilih menutup diri di balik tirai bambu secara mengagetkan muncul ke permukaan.

Tidak hanya meningkatkan anggaran militer berkali lipat, China juga mengumumkan ambisi menjadi lokomotif Jalur Sutra baru yang dikenal dengan nama One Belt One Road (OBOR) atau Belt and Road Initiative (BRI). Seperti China, Jepang juga tidak mau kalah.

Agresifitas militer China disambut Jepang dengan mereinterpretasi Pasal 9 Konstitusi Jepang, sehingga Jepang boleh memiliki kekuatan militer pemukul, tidak sekadar bertahan dari serangan. Selain itu, Jepang juga memperkenalkan doktrin baru terkait kawasan yang dikenal dengan nama Free and Open Indo-Pacific (FOIP).

Dalam bagian terakhir wawancara ini, Dutabesar Jepang untuk Republik Indonesia, Masufumi Ishii, menjelaskan tentang sikap negara itu pada berbagai persoalan yang tengah terjadi di kawasan Asia Timur, termasuk yang terkait dengan pembicaraan damai di Semenanjung Korea.

Berikut petikannya:

Kita sedang menyaksikan dinamika baru di Semenanjung Korea. Bagaimana Jepang melihat hal ini dan apa peran Jepang?

Kami berharap proses ini dapat diaplikasikan dan kita mendapatkan Korea Utara yang bebas dari nuklir. Ini yang kita sebut sebagai CVID, complete, verified, and irreversible dismantlement. Sebetulnya kita tidak hanya bicara tentang senjata nuklir, kita tahu mereka juga memiliki WMD, weapon of mass destruction, senjata kimia dan senjata biologi. Juga mereka memiliki ballistic missile jarak menengah dan jarak jauh yang dapat mencapai Jepang dan Amerika Serikat.  Hal ketiga, kami ingin melihat penyelesaian isu-isu penculikan (warganegara Jepang).

Posisi kami adalah ingin agar semua hal ini once and for all dapat diselesaikan secara komprehensif. Saya berharap pertemuan kedua (Presiden AS Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara Kim Jong UN) dapat memberikan kontribusi pada persoalan itu. Jepang punya peran yang dimainkan. Kami sudah punya kerangka dasar penyelesaian masalah ini antara Jepang dan Korea Utara. Kami sebut Pyongyang Declaration (ditandantangani dalam kunjungan Perdana Menteri Jepang Junichiro Koizumi dan Kim Jong Il di Pyongyang, 17 September 2002.) Sudah lama, tapi masih ada.

Secara umum dokumen itu mengatakan setelah semua isu ini diselesaikan, Jepang siap untuk menormalisasi hubungan dengan Korea Utara. Lalu kami juga siap memberikan kompensasi untuk hal-hal yang terjadi selama Perang Dunia Kedua. Kami belum mendetailkan hal ini dengan Korea Utara, tetapi kami sudah lakukan itu dengan Korea Selatan beberapa tahun lalu.

Kami tahu, mereka tahu, apa yang akan terjadi bila ketiga persoalan ini bisa kita selesaikan. Begitu kami bisa menormalisasi hubungan dengan Korea Utara aka nada perkembangan yang sangat besar di Korea Utara. Dan kalau Anda lihat kawasan di sekeliling Korea Utara, ada banyak negara yang siap memberikan investasi yang cukup besar untuk pembangunan mereka. Dan bagi mereka, kontribusi Jepang sangat penting. Mereka tahu bagaimana untuk mendapatkan itu. Jadi begitulah situasinya.


Secara umum Jepang punya persoalan tradisional dengan Korea, dan juga China. Bila Korea Utara dan Korea Selatan berdamai, tidakkah Anda melihat ini akan menjadi ancaman baru bagi Jepang. Misalnya dalam sengketa Pulau Takashima...

Saya kira tidak ada hubungan bertetangga yang bebas dari masalah. Selain sengketa Pulau Takashima, kami juga punya sengketa perbatasan dengan Rusia. Saya kira itu hal yang tidak dapat dihindari.

Apakah dinamika di Semenanjung Korea akan menghasilkan Korea bersatu atau tidak, itu terserah pada mereka. Kami menyambut baik apapun yang mereka putuskan. Apakah Korea bersatu, atau tetap Korea Selatan dan Korea Utara, mereka adalah tetangga kami. Tetangga yang sangat penting. Saya kira skenario terbaik bagi kita semua adalah berjabatan tangan, tersenyum dan melakukan hal terbaik. Saya kira market di Korea begitu penting bagi perusahaan-perusahaan Jepang. Market China juga sangat penting bagi kami. Kami tidak punya keinginan untuk bertikai dengan mereka. Kami membutuhkan hubungan yang stabil, tidak ada ancaman keamanan, dengan demikian saya kira kami perlu meningkatkan hubungan kami karena mereka adalah tetangga yang penting kami kami, khususnya Korea Selatan.

Korea Selatan adalah sekutu Amerika Serikat. Jepang juga sekutu Amerika Serikat. Hubungan yang stabil antara Jepang dan Korea Selatan sangat penting bagi kami, juga sangat penting bagi Amerika Serikat.


Banyak yang menilai bahwa ketegangan di Asia Timur beberapa tahun belakangan ini meningkat, ditandai dengan peningkatan anggaran militer China yang diikuti keinginan Jepang untuk mereintepretasi Pasal 9 Konstitusi Jepang…

Anda kita begitu? Coba saya jelaskan dengan cara begini. China eksis sejak 3.000 tahun yang lalu. Benar bahwa China hampir sepanjang masa itu lebih besar dibandingkan kami. Lebih sejahtera dibandingkan kami, lebih kuat dibandingkan dari kami. Kewajiban utama dan sulit bagi negara seperti Jepang sepanjang 3.000 tahun itu adalah bertahan (survive) dan hidup bersama (coexist) dengan China yang jauh lebih berkembang.

Jadi cara terbaik (menghadapi situasi ini) adalah berjabatan tangan, tersenyum, membangun hubungan yang sama-sama menguntungkan dan memberikan manfaat.

Kami tidak mau diajari apa yang harus kami lakukan. Anda memahami perasaan itu, bukan? Kami ingin mempertahankan kemerdekaan kami. Dari sudut pandang itu, situasi yang terjadi sekarang ini bukan hal yang benar-benar baru. Saya kira China kembali ke original trajectory mereka. Tentu saja kita mengeluhkan peningkatan belanja militer mereka. Tetapi bagaimana kita menghentikan hal ini. Merekalah yang memutuskan hal itu. Kita bisa berusaha meredakan ketegangan. Saya kira situasi ini tidak banyak berubahah.

Dan kini hubungan ekonomi kami kini saling berkait. China merupakan partner dagang nomor satu bagi kami beberapa tahun belakangan ini. Sebelumnya Amerika Serikat. Ada banyak investasi perusahaan Jepang di sana. Jadi kami memiliki keinginan untuk menjaga hubungan baik, dan saya kita ini bagus untuk China. Mereka membutuhkan investasi, mereka membutuhkan perusahaan Jepang. Ada banyak hal yang bisa dikerjakan bersama.

Saya berpikir tengtang isu lingkungan hidup. Anda tahu isu tentang pasir kuning. Ada gurun yang sangat besar di sana (China). Di saat ada angin besar bertiup dari China ke Jepang biasanya di musim semi, pasir yang tertiup bisa membuat langit jadi begitu gelap. Ini bahaya (hazard) lingkungan.

Kami berusaha mencegah bahaya lingkungan itu dengan membantu China menanam pohon di gurun. Ini bagus untuk China dan bagus untuk kami juga. Saya kira takdir kami saling berhubungan. Kami tetangga. Banyak hal yang bisa kami kerjakan bersama.

Jadi, ya, situasinya sedikit lebih sulit. Terutama karena mereka besar dan mereka tumbuh, dan mereka kuat. Tetapi Anda tahu berdasarkan sejarah di masa lalu bagaimana mengatasi masalah ini. Banyak hal yang bisa kita kerjakan bersama.


Disebutkan bahwa salah satu persoalan yang dihadapi Jepang saat ini adalah penuaan populasi. Bagaimana cara yang dipilih Jepang untuk menangani masalah ini?

Bagi kami ini adalah tantangan terbesar yang sedang kami hadapi, selain koeksistensi dengan China. Persentase jumlah tenaga kerja di Jepang mulai mulai mengalami menurun pada pertengahan 1990an. Sekarang jumlah populasi yang mengalami penurunan. Itu biasanya berarti kinerja ekonomi menurun.

Banyak hal yang harus kami lakukan. Kami membutuhkan tenaga kerja yang sehat. Itu sebabnya kami secara gradual mulai membuka pasar tenaga kerja kami terutama untuk tenaga kerja yang terlatih (talented). Kami melakukan hal ini dengan berbagai cara yang berbeda. Misalnya, kami menerima orang yang sedang menjalani latihan kerja. Ini bukan tenaga kerja. Kami menerima orang yang menjalani latihan kerja dalam jumlah yang tertentu, termasuk dari Indonesia. Kami berikan kepada mereka pendidikan vokasional. Sekarang kami akan menciptakan status baru tenaga kerja yang lebih terlatih.

Yang pertama adalah mengamankan jumlah tenaga kerja. Kedua terkait dengan penuaan populasi itu sendiri. Ada standar seperti sistem pensiun yang lebih baik. Occupation of social wealth. Sehingga populasi yang menua dapat menggunakan infrastruktur sosial. Taman untuk jalan berkeliling, rumah sakit untuk mendapatkan pemeriksaan kesehatan yang regular. Untungnya kami bisa lebih sejahtera sebelum menjadi lebih tua. Kami mengakumulasikan infrastruktur sosial yang cukup untuk bisa melayani populasi yang menua.

Di beberapa negara, masyarakatnya menjadi lebih tua sebelum lebih sejahtera. Ini akan menjadi masalah. Ini adalah hal-hal yang penting dalam menangani populasi yang muda. Saya kira ini juga bisa menjadi bisnis model bagi negara lain, untuk mengaplikasikan model yang sama.

Sebagai contoh China. Saya kira penuaan populasi mereka sudah dimulai. Mereka sudah mengubahnya, tapi sebelumnya mereka punya kebijakan satu anak (one child policy). Artinya, begitu penuaan populasi dimulai, ia akan bergerak sangat cepat. Mereka kini mulai merasakan sakit. Kami menawarkan bantuan untuk menangani penuaan populasi di sana. Kami punya pengalaman, kami punya sistem. Ini juga merupakan salah satu area kerjasama yang bisa dikembangkan dengan China.


Hal lain adalah soal Kuil Yasukuni. Kita selalu mendengar keluhan dari Korea dan China tentang ziarah yang dilakukan pemimpin Jepang ke Kuil Yasukuni. Apa yang harus kita lakukan?

Saya kira, isu Kuil Yasukuni adalah bagian dari gambar besar tentang bagaimana orang-orang yang melakukan kesalahan dalam perang, dan orang-orang yang menang dalam perang, bagaimana memperbaharui hubungan di antara mereka yang kini berada di pihak yang berbeda. Ini masalah.

Dari gambar besar yang seperti itu, kami telah menyampaikan permintaan maaf berulang kali. Tidak hanya memperlihatkan kesedihan kami, tapi juga menyampaikan permintaan maaf kami. Tidak hanya saya, tetapi juga Perdana Menteri. Tidak hanya permintaan maaf yang diucapkan, tetapi juga permintaan maaf yang ditulis. Jadi permintaan maaf sudah disampaikan.

Menurut saya, untuk membuat dua pihak yang berbeda ini dapat hidup secara bahagia bersama, pihak yang lain juga harus menerima permintaan maaf itu. Tidak melupakan, tapi memaafkan.

Kita memiliki begitu banyak alasan untuk hidup bersama. Tentu saja ada beberapa masalah. Masalah tidak akan pernah berhenti. Namun pada dasarnya ada banyak alasan untuk hidup bahagia bersama. Kita punya kepentingan yang sama.

Jadi saya kira, saya ingin melihat permintaan maaf itu diterima, dan pemaafan. Saya tidak akan meminta mereka untuk melupakan. Itu mustahil. Itu adalah perang. Setiap orang punya pilihan. Tentu saja kami menerima sakit itu untuk diingatkan. Kita selalu mengatakan dibutuhkan dua orang untuk tango.

Mereka perlu menerima permintaan maaf itu seperti Indonesia. Itu juga yang membuat kami ingin terus mengembangkan kerjasama dengan Indonesia.
EDITOR:

Kolom Komentar


Video

Ace Hasan Syadzily: Manuver Bambang Soesatyo Biasa Saja

Sabtu, 21 September 2019
Video

Golkar Perlu Proyeksikan Politik Urban di 2024

Minggu, 22 September 2019
Video

Generasi Golkar Kehilangan Sentuhan Soeharto

Minggu, 22 September 2019