Menpora: Narkoba Musuh Utama Bangsa

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/ruslan-tambak-1'>RUSLAN TAMBAK</a>
LAPORAN: RUSLAN TAMBAK
  • Sabtu, 07 Mei 2016, 16:37 WIB
Menpora: Narkoba Musuh Utama Bangsa
rmol news logo . Menteri Pemudan dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi menghadiri sekaligus menjadi pembicara utama di acara Dies Natalis Universitas Yudharta ke-14, di Aula Pancasila Universitas Yudharta, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (7/5).  Pada acara tersebut, juga dibacakan pernyataan Deklarasi Anti Narkoba mahasiswa, santri dan pelajar.

Isi deklarasi tersebut yakni, "kami mahasiswa, santri, dan pemuda Indonesia atas nama rakyat Indonesia di Kabupaten Pasuruan berdasarkan rahmat Tuhan Yang Maha Esa berikrar menolak narkoba dan sejenisnya, mendukung Badan Narkotika Nasional untuk memberantas narkoba dan sejenisnya dari bumi Indonesia, bersumpah turut aktif menyelamatkan rakyat Indonesia dan generasi masa depan bangsa dari bahaya laten narkoba".

Dies Natalis Universitas Yudharta diwarnai beragam kegiatan. Yakni, International Guest Lecture dari Malaysia dan Brunei Darussalam, Pekan Pelajar SMA Sederajat Piala Bupati Pasuruan (lomba musikalisasi puisi, lomba desain grafis, lomba paduan suara, lomba debat Masyarakat Ekonomi ASEAN, lomba bola voli, lomba business plan), pagelaran wayang kulit Ki Enthus Susmono, pagelaran budaya Reog Ponorogo, Barongsai, dan drumband.

"Saya tidak dipaksa pun akan datang ke Universitas Yudharta karena saya ingin sowan ke Kiai Sholeh selaku pejuang NKRI. Saya lihat di mana-mana macet di jalan. Itu menandakan Indonesia ini aman dan damai. Di sini ada doa antar agama. Gus Dur sering ke sini dan pesantrennya meneruskan perjuangan Gus Dur. Saya berharap kampus dan pesantren ini membimbing Menpora untuk menuntun ke jalan yang benar," kata Menpora.

Menpora menggarisbawahi Indonesia berada dalam darurat narkoba, terorisme, dan radikalisme. "Saya berharap pada BNN Jatim dan Kabupaten Pasuruan untuk melakukan rutin dan berjenjang tes anti narkoba. Ini penting agar Indonesia berani terbuka perang melawan narkoba. Penegakan hukum wajib dilakukan pada siapapun. Siapapun yang terindikasi dan tertangkap tangan narkoba, harus ditindak setegas-tegasnya. Barang bukti juga harus dimusnahkan," ujarnya.

Menpora mengatakan sindikasi narkoba tidak berjalan sendiri karena ada peredaran uang yang besar. Menurutnya, dampak narkoba tidak hanya membuat gila, narkoba adalah cara penjajahan narkoba untuk memutus rantai generasi. Indonesia adalah satu-satunya generasi unggul yang punya usia muda produktif terbesar. Jika generasi ini terus belajar, mengaji, dan mencari ilmu Allah, maka Indonesia akan ditakuti. 

"Para menteri Presiden Jokowi sekitar 50 persen di bawah usia 50 tahun. Usia muda adalah usia produktif. Karena itu Presiden tidak pernah ingin memaafkan narkoba, bahkan mempercepat hukuman mati. Mari bersama-sama menjadi juru kampanye anti narkoba. Narkoba adalah bahaya paling nyata," tegas Menpora. 

Menpora menambahkan, orang luar melihat Indonesia seperti akuarium. "Sebelum kita tahu di Papua ada kandungan emas, mereka sudah tahu. Kita dipandang oleh mereka dengan telanjang dan terbuka. Kita harus punya kekuatan mental, moral, dan spirit yang kokoh. Mereka terus mencari celah agar kita lengah, saling mencurigai satu sama lain, sehingga tidak bisa mengelola sumber dayanya sendiri. Jadi kita harus mampu menjadi pemimpin dan menjadi solusi di tengah masyarakat," ujarnya.

Pada kesempatan ini, Menpora menceritakan bahwa terkait Hambalang, dirinya mengusulkan Hambalang menjadi Pesantren Olahraga. "Jadi ada olah raga dan olah rasa. Sejak bangun subuh kehidupan calon atlet sudah seperti santri. Ada disiplin pesantren. Pelatihan dan teori olahraga harus seimbang dengan rohani. Saya yakin prestasi olahraga Indonesia akan semakin baik di masa-masa mendatang," kata Menpora dalam rillisnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Yudharta, Saifullah menegaskan pentingnya prinsip nasionalisme di Ponpes Ngalah dan Universitas Yudharta. "Membangun jasmani harus diikuti membangun rohani. Karakter itu dari rohani. Seorang nasionalis pasti seimbang antara jasmani dan rohaninya. Pesantren dulu sangat ditakuti Belanda karena berjiwa nasionalis yang kokoh dan kuat," ujar Saifullah. 

Seminar yang mengusung tema "Mensinergikan Pendidikan Jasmani dalam Membangun Karakter Pemuda-Pelajar Indonesia yang Nasionalis-Multikultural dan Anti Narkoba" ini diikuti ratusan mahasiswa Universitas Yudharta. Hadir Pengasuh Ponpes Ngalah KH Sholeh Bahruddin, Rektor Universitas Yudharta Saifullah, Kabag Pencegahan BNN Jatim Ria, Pembantu Rektor I Moh Muzakki, Asdep IPTEK dan IMtAQ Esa Sukmawijaya, Staf Khusus Pemuda Zainul Munasichin, dan Sekretaris Dispora Jatim Sugeng.

Universitas Yudharta berada di kompleks Yayasan Darut Taqwa. Mahasiswanya sekitar 3.500 orang. Jumlah total santri, mahasiswa, dan pelajar se-Yayasan Darut Taqwa mencapai 15 ribu orang. Selain kampus, juga ada Pondok Pesantren Ngalah, PAUD, Raudlotul Athfal Darut Taqwa, MI Darut Taqwa, MTs Darut Taqwa 02, SMP Bhinneka Tunggal Ika, MA Darut Taqwa, SMA Darut Taqwa, dan SMK Darut Taqwa. [rus]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA