Protes Kita Dicuekin China

Kasus Maling Ikan Di Natuna

Kamis, 24 Maret 2016, 09:04 WIB
Protes Kita Dicuekin China
foto:net
rmol news logo Hubungan Indonesia dan China dinodai dengan ulah pencurian ikan yang dilakukan warga China di perairan Natuna, daerah perbatasan Indonesia-China. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi sudah melayangkan nota protes. Sayangnya, protes kita dicuekin. China mengklaim tidak bersalah.

Nota protes disampaikan Menteri Luar Negeri Retno Marsudi Senin (21/3). Protes itu merupakan tindak lanjut atas protes Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Susi Pudjiastuti yang merasa 'diganggu' saat ingin menangkap kapal pencuri ikan asal China.

Sebelumnya, dua kapal China, yakni KM Kway Fey dan kapal coastguard (penjaga pantai), terlibat insiden dengan kapal Kementerian Kelautan dan Perikanan, Sabtu (19/3) sekitar pukul 14.15 WIB. Awalnya, kapal KKP berhasil menangkap KM Kway Fey di perairan Natuna. Kapal China itu diduga kuat sedang menangkap ikan secara ilegal di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Kapal milik KKP, yakni KP Hiu 11, mendatangi kapal motor itu dan mengamankan delapan awak buah kapal (ABK).

Saat KM Kway Fey akan dibawa petugas KKP, tiba-tiba datang kapal coastguard (penjaga pantai) China datang mendekat dengan kecepatan tinggi. Kapal itu menabrak KM Kway Fey. Dugaannya, agar kapal ikan asal China itu tidak bisa dibawa ke daratan Indonesia. Untuk menghindari konflik, petugas KKP meninggalkan Kway Fey dan kembali ke KP Hiu 11 dan hanya berhasil membawa delapan ABK.

Atas perbuatan China itu, Indonesia protes. Sungguh disayangkan, protes Indonesia sepertinya tidak ditanggapi serius China. Di hari yang sama, Senin (21/3), Kementerian China membantah kapal coastguard-nya memasuki perairan Indonesia. Nelayan China justru menangkap ikan di tempat yang biasa mereka kunjungi.

"Lokasi yang Anda sebutkan, tempat insiden berlangsung merupakan kawasan penangkapan ikan tradisional China. Kapal nelayan China saat itu menjalankan aktivitas penangkapan seperti biasa di dalam area itu," ujar juru bicara Kemenlu China, Hua Chunying.

Jawaban China terasa melawan. Jawaban itu serupa dengan jawaban kepada Vietnam dan Filipina ketika dua negara itu merasa dilanggar kedaulatan lautnya pada kasus sengketa Laut China Selatan. Nah, batas wilayah tradisional China itu kerap disebut "Nine Dash Line". Ini yang diakui sepihak oleh China dan ditolak Filipina, Vietnam, Malaysia, dan kini Indonesia.

Perseteruan ini sudah sampai ke telinga Presiden Jokowi. Juru Bicara Presiden, Johan Budi menegaskan Indonesia tidak sedang berkonflik tentang perbatasan dengan China. Hal yang terjadi di perairan Natuna beberapa waktu lalu hanya persoalan di sektor perikanan.

"Sikap Indonesia jelas bahwa tidak ada konflik antara Indonesia dan China berkaitan dengan perbatasan. Ini murni soal penegakan hukum oleh kita," ujar Johan di Istana Negara, Jakarta, kemarin.

Persoalan di sektor perikanan itu pun, lanjut Johan, telah diupayakan penyelesaiannya oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia dengan memberikan nota protes kepada Pemerintah China. Protes terutama disampaikan terkait pelanggaran batas wilayah yang dilakukan kapal China. Persoalan China membantah telah melanggar batas wilayah, itu wajar saja. Namun, pemerintah Indonesia berketetapan bahwa kapal China memasuki wilayah Indonesia.

"Tentu China punya versi sendiri, tapi sikap Indonesia sudah jelas. Makanya, Kemenlu telah menyampaikan nota protes melalui Dubes China di Indonesia," ujar Johan. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA