"Kami mendukung dan pelaksanaan gerakan pelestarian alam dan seluruh aktivitas konservasi dan sejenisnya," kata Ketua Umum Kowani, Giwo Rubianto Wiyogo di Jakarta, Selasa (8/3).
Bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kowani ikut melakukan penanaman pohon mangrove pada 6 Maret di Pantai Indah Kapuk Jakarta, dan Dialog Perempuan Sahabat Perubahan Iklim pada 7 Maret di Jakarta.
Giwo mengatakan, Kowani sebagai Ibu Bangsa mempunyai komitmen sebagai pendidik yang utama dan pertama dalam menyiapkan generasi penerus yang lebih sadar akan kebangsaannya untuk berprilaku budaya yang ramah lingkungan, dengan dapat mewujudkan dan menanamkan nilai-nilai dan pendidikan sejak usia dini tentang arti penting penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab.
"Kita harus mau, mampu dan menyadari untuk melaksanakan pelestarian serta akan pentingnya kelestarian ekosistem demi dunia dan seluruh makhluk," ungkapnya.
Kowani berkomitmen untuk terus mensosialisasikan, mengedukasikan serta melaksanakan bersama dengan seluruh stakeholder dan seleuruh anak bangsa semua kegiatan yang selaras dengan pelestarian konservasi lingkungan.
"Hutan mangrove kita adalah setara dengan 25 persen luas mangrove dunia, 60 persen dari luas mangrove di Asia, dan sebagaimana kita ketahui 30 persen karbon dunia berada di ekosistim pesisir," kata Giwo.
Ia menambahkan posisi perempuan dalam konteks perubahan iklim sangat vital dan besar. Langkah strategis yang perlu dilakukan oleh perempuan baik secara organisatoris maupun sebagai bagian dari masyarakat yaitu berupa mitigasi dan adaptasi.
Secara singkat, mitigasi berarti sebuah usaha yang dilakukan untuk mencegah, menahan dan atau memperlambat efek gas rumah kaca yang menjadi penyebab pemanasan global di bumi. Berkebalikan dengan mitigasi, adaptasi lebih kepada upaya yang dilakukan untuk menyesuaikan diri terhadap dampak perubahan iklim yang telah terjadi dan dirasakan oleh manusia di bumi.
"Mitigasi saja tidak cukup, demikian pula dengan hanya beradaptasi saja. Keduanya harus berjalan beriringan. Oleh sebab itu, baik mitigasi dan adaptasi sangat penting dilakukan secara bersama-sama dan terintegrasi dalam menghadapi perubahan iklim," tukas Giwi.
[rus]
BERITA TERKAIT: