Nazir Foead adalah mantan Direktur Konservasi World Wildlife Fund (WWF) Indonesia yang juga lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta tahun 1995, yang banyak berkecimpung di Bidang Konservasi Sumber Daya Manusia. Ia bekerja di Climate and Land Use Alliance (CLUA) sebagai pimpinan program Indonesia sejak tahun 2014.
Sebelumnya, Nazir bekerja di WWF Indonesia sebagai Direktur Konservasi selama tiga tahun. Nazir juga bergabung dengan Kamar Dagang Indonesia dan menjadi Wakil Ketua Kontap Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim 2011-2013.
Adapun BRG dibentuk berdasarkan sesuai Peraturan Presiden 1/2016 untuk menangani lahan gambut yang tersebar di Indonesia.
Saat mengumumkan pembentukan BRG di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (14/1) lalu, Presiden Jokowi mengatakan, sebagai pimpinan, Nazir Foead akan mengoordinasikan dan memfasilitasi restorasi gambut yang ada di beberapa provinsi, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.
"Saya memandang Nazir Foead memiliki kompetensi, pengalaman dalam melakukan restorasi hutan dan gambut, terutama kemampuan untuk koordinasikan dengan kementerian lembaga dan jejaring lembaga internasional," kata Jokowi kali itu.
Kepala Negara menugaskan BRG untuk segera membuat rencana aksi dan melaksanakannya. Upaya ini adalah untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia serius untuk mengatasi kerusakan gambut. "BRG masa tugasnya sampai 31 Desember 2020," ujarnya.
Selain melantik Nazir Foead sebagai Kepala BRG, Presiden Jokowi juga melantik Kepengurusan Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) di bawah pimpinan Ketua KEIN Soetrisno Bachir; Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta; dan Sekretaris KEIN Putri Wardani.
[rus]
BERITA TERKAIT: