Hal ini disampaikan Kordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi dalam perbincangan dengan redaksi.
Menurut Adhie, Menteri ESDM Sudirman Said bukan orang bodoh yang tak bisa bermain politik. Sebagai bagian dari jaringan Masyarakat Transparansi Indonesia (MTI) Sudirman Said memiliki mesin pembangun opini yang kuat.
"Dia tahu di DPR perang KMP dan KIH masih berlangsung. Sementara posisi SN sebagai Ketua DPR masih jadi rebutan, bukan hanya oleh KIH, tapi juga di dalam Partai Golkar sendiri," ujar mantan Jurubicara Presiden Abdurrahman Wahid itu.
Sementara pengaruh Jusuf Kalla yang masih kuat di Senayan, menurut Adhie, memudahkan SS dan kelompoknya meniup angin ke DPR untuk mengobarkan api dalam sekam itu.
"Bagi SS dkk, tidak penting apakah isu SN mencatut nama presiden untuk meminta saham Freeport terbukti atau tidak. Ternyata memang tidak terbukti di MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan)," kata dia lagi.
Kalau itu tidak penting, maka apa yang penting bagi Sudirman Said? "Yang penting nama LBP (Luhut Binsar Panjaitan) sebagai palang pintu (penjaga) UU yang tidak bisa dipatahkan Freeport menjadi rapuh. Terbangun sinisme publik kepadanya. Harapan terakhir, tentu saja, LBP lenyap dari panggung politik kekuasaan disingkirkan Presiden dengan alasan publik tidak menyambut positif," kata Adhie lagi.
[dem]
BERITA TERKAIT: