"Jelaslah Pansus Pelindo II emosional dan bekerja semata-mata subjektif dan orientasi politik untuk target tertentu, bukan untuk mencari kebenaran," kata Direktur Eksekutif Indonesia Budget Control (IBC), Akhmad Suhaimi, dalam keterangan beberapa saat lalu (Kamis, 29/10).
Sejatinya, lanjut Suhaimi, DPR sudah punya landasan data sebelum memanggil para pihak.
"Jangan sampai para anggota DPR itu seperti anak kuliahan, yang memanggil
para pihak hanya untuk mendengar paparan dosen dan mereka sendiri minim
data,"
Dari sejak semula, menurut Suhaimi, Pansus Pelindo II memang sudah kehilangan greget dan tidak jelas arahnya. Jika yang dimakud untuk mengungkap kejanggalan pengadaan crane oleh Pelindo, maka jauh sebelum Pansus terbentuk, Bareskrim sudah bergerak dan mengusut. Langkah bareskrim Polri jelas untuk penegakan hukum, bukan seperti langah pansus DPR yang lebih mengaburkan hukum dengan membawa kasus hukum ke ranah politik.
"Ketika Pansus DPR kekurangan data soal Pelindo, maka yang terjadi anggota Pansus hanya menjadi pengumpul data. Mirip dengan anak kuliahan yang mendapat mendapat tugas riset. Jangan-jangan gagalnya rapat Pansus dengan Rini karena DPR belum siap dan takut diceramahi oleh Rini," demikian Suhaimi.
[ysa]
BERITA TERKAIT: