Tragedi Hamlet Akan Dipentaskan di GKJ

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/yayan-sopyani-al-hadi-1'>YAYAN SOPYANI AL HADI</a>
LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI
  • Selasa, 22 September 2015, 05:24 WIB
Tragedi Hamlet Akan Dipentaskan di GKJ
ilustrasi/net
rmol news logo . Tragedy of Hamlet, Prince of Denmark, kerap disebut sebagai naskah tragedi terbaik dalam lingkup sejarah sastra Inggris. Diperkirakan, ia dibuat pada 1599-1601. Namun tak ada bukti sejarah pasti untuk menentukan waktu persisnya.

Namun yang jelas, Hamlet lahir di akhir era Renaissance yang kerap dianggap sebagai jembatan transisi antara abad pertengahan dan era modern di Eropa. Pada saat yang sama, sedang berlangsung masa kekuasaan Ratu Elizabeth I (1558-1603), yang diklaim sebagai era keemasan bangsa Inggris. Kala itu, eksplorasi mendalam dilakukan oleh para seniman, entah di bidang musik maupun sastra, dengan Shakespeare jadi salah satu tokoh utamanya.

Hamlet berkisah soal usaha Pangeran Hamlet dari Kerajaan Denmark untuk membalas dendam atas kematian ayahnya yang dibunuh oleh pamannya sendiri, Claudius. Pada suatu malam, Hamlet bertemu dengan arwah sang ayah yang segera menjelaskan segalanya. Ternyata, Cladius membunuh sang ayah dengan racun agar ia bisa menjadi raja dan memperistri ibu Hamlet, Gertrude. Dari sanalah semua masalah bermula.

Pada akhirnya, seluruh tokoh utama dalam cerita berujung pada kematian, dari Gertrude, Claudius, hingga Hamlet sendiri. Mereka yang memulai dengan bahagia di akhir cerita pun binasa. Bahkan yang sejak awal telah merana justru kian sengsara. Bisa dikatakan, Hamlet meletakkan fokus pada pergumulan antara cinta, kematian, dan pengkhianatan yang terus meningkat, tanpa memberikan resolusi positif nan mutlak sebagai penawarnya.

Selain itu, Hamlet merupakan model ideal kisah tragedi balas dendam yang banyak beredar di dunia teater era Elizabethan Inggris. Biasanya, kisah semacam itu mencakup elemen-elemen berikut: tema pembunuhan atau kejahatan lain yang menimpa seseorang dari keluarga kerajaan, arwah korban hadir kembali untuk memberitahukan identitas pelaku, serta muncul konflik batin di tengah usaha pembalasan dendam.

Konflik batin inilah yang membuat sosok Hamlet dikenal sebagai peragu kelas wahid. Apa yang ia yakini di satu adegan, bisa ia ragukan kembali di adegan selanjutnya.

Kini, dalam keterangan kepada redaksi beberapa saat lalu (Selasa, 22/9), Teater KataK, bekerja sama dengan Drama Club Sastra Inggris Universitas Bina Nusantara, akan mementaskan Hamlet pada 26-27 September 2015 di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat.

Dalam pentas ini, sutradara Venantius Vladimir Ivan mengadaptasi ulang Hamlet karya William Shakespeare versi WS Rendra yang sempat dimainkan oleh Bengkel Teater pada 1994. Pentas ini Ini akan jadi produksi ke-40 Teater KataK dalam enam tahun perjalanan mereka sejak pertama berdiri pada 12 Juni 2009. [ysa]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA