Menanggapi hal itu, putri pendiri bangsa Soekarno, Rachmawati Soekarnoputri mempertanyakan siapa pihak yang harus bertanggung jawab atas musibah lalu lintas tersebut.
"Apa yang terjadi dengan orang Indonesia? Siapa yang tanggung jawab? Bagaimana dengan orang yang mendorong gerakan "Ayo Mudik Gratis? Maukah tanggung jawab? Menanggung pengobatan dan biaya-biaya lain, seperti pemakaman? Bagaimana pemerintah? Jangan hanya mau dibilang 'sok sosial' tanpa melihat dampak sosialnya," ujarnya kepada
Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu (Selasa, 21/7).
Mbak Rachma, begitu ia disapa, juga mempertanyakan arti mudik yang sesungguhnya bagi rakyat Indonesia. Ia juga menyayangkan langkah Presiden Joko Widodo yang turut memberi contoh mudik ke Solo kepada rakyat.
Lebih lanjut, ia mencoba membandingkan dengan suasana Lebaran semasa Presiden Soekarno. Menurutnya, saat itu tidak ada euforia yang berlebih. Lebaran dijalankan dengan sederhana, namun tetap penuh khidmat dan tertib.
"Tidak ada saat itu manusia yang berlomba berdesak-desakan dan tidak menghiraukan keselamatan, anak-anak dibiarkan kena angin dan kepanasan. Bahkan saat ini karena tidak mau kalah berpartisipasi mudik, masyarakat sudah kehilangan rasionalitas. Meraka rela menggunakan truk terbuka, odong-odong, bemo, dan sepda motor untuk mudik sekeluarga," sambung politisi senior itu.
Selain era Soekarno, Mbak Rachma juga membandingkan dengan negara yang mayoritas berpenduduk muslim. Menurutnya, di negara-negara itu tidak ada yang disebut dengan mudik massal. Terlebih, dampak mudik massal tidak sedikit, seperti angka kriminalitas yang meningkat, anak-anak yang tersiksa dan terjepit, antrian yang sangat melelahkan di jalan, dan pemborosan BBM.
"Ada apa sebetulnya dengan orang Indonesia mau berbuat demikian? Pemerintah juga malah mendorong masyarakat berbondong-bondong exodus dan kembali lagi dengan membawa segudang persoalan baru. Datang dengan urbanisasi baru yang menjadi PR kompleks," tandas pendiri Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS) tersebut.
[ian]
BERITA TERKAIT: