Menteri-menteri yang duduk di Kabinet Kerja direkomendasi oleh Ketua Umum PDI Perjuangan dan pemilik kekuasaan lain yang berada di belakang kemenangan Jokowi dalam Pilpres 2014.
"Kabinet ini mengecewakan," tulis kolumnis Greg Sheridan pada kolomnya di
The Australian edisi Kamis lalu (25/6).
"Kinerja buruk diperlihatkan (menteri-menteri) yang diditunjuk oleh partai politik, dan mereka kelihatannya sulit untuk diganti," tulis Sheridan lagi.
Sambung Sheridan, perekonomian Indonesia cidera akibat penurunan harga komoditas. Bila pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 4,5 persen untuk waktu yang panjang, maka Jokowi akan berada dalam persoalan yang bisa membuat putus asa.
Walaupun misalnya situasi ekonomi tidak seburu itu, tetapi saja Jokowi memperlihatkan bahwa dirinya tidak pada level yang bisa menjalankan tugas manajemen politik. Aset politik yang dimilikinya selama ini, popularitas, pun akhirnya memudar.
Sheridan juga membandingkan perlakuan Jokowi dan SBY yang digantikannya terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Walaupun saat berkuasa SBY juga harus melakukan politik kompromistis yang normal, tetapi dia selalu melindungi KPK. Sementara di era Jokowi, Polri yang memiliki hubungan dekat dengan Megawati, menekan KPK.
Selain itu, Jokowi juga dinilai hampir tidak memiliki ketertarikan terhadap kebijakan luar negeri di luar retorika nasionalisme. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi tidak punya hubungan langsung dengan Jokowi dan tidak efektif dalam menjalankan tugas. Retno Marsudi, menurut Sheridan, ditunjuk Mega untuk menduduki posisi Menlu.
[dem]
BERITA TERKAIT: