Begitu kata Ketua MPR RI Zulkifli Hasan dalam sosialisasi pilar kebangsaan di kantor Gubernur Jateng, Semarang (Senin, 30/3).
"Indonesia yang kaya nilai-nilai malah bisa ada tawuran antar kampung, ribut di sana sini. Ini buah dari reformasi yang negatif, yaitu roh kebangsaan yang mulai memudar. Padahal musyawarah mufakat itu indah, tidak menimbulkan luka," ujar ketua umum PAN itu.
Penyebab mulai lunturnya roh kebangsaan itu, lanjutnya, adalah Pancasila dan UUD 1945 yang sudah tidak dianggap penting lagi. Doktrin yang sebelumnya gencar disosialisasikan pada masyarakat mengenai Pancasila dan UUD 1945, lanjutnya, tidak lagi diteruskan pasca reformasi.
"Misalnya, dulu Manggala BP7 tiap provinsi ada. Jadi doktrin Pancasila UUD 1945 tentang pentingnya gotong royong harusnya terus menerus digaungkan. Itu yang harusnya kita perbaiki sesuai zaman. Tapi sayangnya mulai 1998 tidak ada lagi," kata Zulhas, sapaan akrabnya.
Menurutnya, nilai-nilai luhur bangsa tidak mungkin berhenti diajarkan dan disampaikan. Tapi nilai tersebut harus terus-menerus disosialisasikan melalui inovasi-inovasi baru agar masyarakat tidak semakin lupa dan dapat bisa membumi menjadi perilaku sehari-hari seluruh rakyat Indonesia.
"Kalau dulu sifatnya doktrin, sekarang diperbaiki, disesuaikan dengan zaman. Semua pihak juga harus terlibat," tandasnya.
[dem]
BERITA TERKAIT: