"Makanya kita lakukan revitalisasi dan re-branding pramuka agar eskul pramuka jadi favorit. Bukan mereka dipaksa buat beli baju pramuka dan ikut di dalamnya. Jadi saat kita tanya seorang anak jawabannya ikut pramuka karena dipaksa tidak ada lagi," kata Andalan Nasional Bidang Perencanaan, Pengembangan dan Kerjasama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Arie Rukmantara kepada wartawan di Jakarta, Rabu (31/12)
Menurut Arie ada tiga faktor penting yang membuat pramuka terus ditinggalkan. Padahal anggota pramuka secara nasional sudah mencapai 21 juta.
Pertama, adalah faktor sejarah. Pramuka, kata Arie, sudah lama terlena karena selalu dimanja oleh pemerintah. Apalagi sejak orde baru, pramuka memang selalu didikung oleh seluruh birokrasi pemerintah. Bahkan presiden saat orde baru adalah dewan pembina pramuka.
"Jadi pramuka itu sekan-akan gifted. Jadi semua menggampangkan pramuka. Kreatifitas tidak ada lagi karena pemikiran seperti itu," ujar Ari.
Kedua, yakni kwartir nasional sampai cabang pramuka tidak pernah melakukan komunikasi dengan pihak lain. Sifat ekslusif pramuka ini, kata Arie, salah satu faktor yang membuat pramuka tidak diminati.
"Misalnya pramuka buat acara naik gunung, kami buat ya sesama anggota pramuka saja. Padahal banyak organisasi anak muda khususnya pencinta alam yang bisa diajak. Kita tidak pernah promosikan pramuka," sebutnya.
Ketiga, pramuka masih belum bisa menunjukkan sosok profesionalisme yang sudah berhasil berkat pelatihan pramuka. Pramuka akhirnya dianggap satu kegiatan yang tidak ada manfaat dan bahkan tak mendatangkan kekayaan.
"Padahal banyak CEO ataupun orang-orang besar yang punya latarbelakang latihan pramuka. Mereka ini harus kita munculkan," tambah Arie.
Target kwartir nasional saat ini, menurut Arie, adalah fokus pada sosialisasi dan pembenahan terhadap pramuka. Semua organisasi pramuka dari tingkat pusat dan daerah harus berbenah.
"Kita juga akan ubah pramuka tak lagi berbasis sekolah, tapi daerah atau masjid atau kota. Misalnya satuan karya pramuka jangan kaku hanya di sekolah. Tapi bisa satuan karya bertani, parkour atau kegiatan multimedia, menulis dan fotografi atas nama pramuka," ujarnya.
Dalam jangka waktu dekat yakni 2015, kwartir nasional akan menargetkan sosialisasi dan pembenahan ini akan terlihat. "Pada saat 2045, atau usia anak muda meningkat dan alami bonus demografi, pramuka bisa menjawab tantangan Indonesia hadapi global," demikian Arie.
[rus]
BERITA TERKAIT: