Bekas Pembuat Miras Oplosan Buka-bukaan

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 17 Desember 2014, 18:30 WIB
Bekas Pembuat Miras Oplosan Buka-bukaan
rmol news logo Setelah minuman keras oplosan menelan korban jiwa di Garut, Sumedang dan Sukabumi, kini di Sleman tiga orang meregang nyawa. Racikan miras oplosan yang mereka minum tidak jauh berbeda dengan daerah sebelumnya yang memakan korban. Yakni antara lain campuran alkohol 90 persen, pengencer cat dan lotion anti nyamuk.

Ya, beberapa macam jenis miras oplosan dikenal oleh konsumennya. Seperti di Garut ada sebutan Cheribell. Di Sumedang Ciu Bali dan di Tasikmalaya Cipas kepanjangan dari Ciu Plastik atau Ciu Pasar.

Meski nama namanya berbeda, tapi dasar pembuatannya hampir sama. Seperti miras oplosan yang tengah ngetrend di Tasikmalaya. Para penggemarnya menyebut Cipas.

Seorang peracik miras oplosan sebut saja Kusyono (30), mempraktekkan cara membuat miras oplosan, di rumahnya di kawasan Indihiang Kota Tasikmalaya, tadi siang. Meski air mineral menjadi bahan utama, tapi itu tidak menjamin miras ini aman diminum. Karena selain air, juga dicampur alkohol murni 90 persen, pengencer cat, pewarna kain, perasa, obat tetes mata dan lotion anti nyamuk.

Semua bahan tersebut diaduk dalam satu wadah kemudian dituangkan ke botol bekas air mineral. Setelah itu diendapkan selama tiga sampai empat hari. Untuk satu botolnya dijual seharga Rp 20 ribu. Keuntungan yang didapat pembuat miras oplosan bisa dua kali lipat jika pembuatannya dalam jumlah besar.

Kusyono memang sudah berhenti memproduksi setelah tiga kali terkena razia aparat kepolisian dan Satpol PP.

Menurut Kusyono peminat miras oplsan jenis Cipas kebanyakan kalangan remaja, karena harganya murah. Dirinya mendapatkan ilmu meracik miras oplosan setelah sebelumnya bekerja di bos miras oplosan asal Sleman selama tiga tahun.

Sebenarnya jika komposisi benar, tidak akan mengakibatkan nyawa melayang. Hanya saja saya sendiri tidak berani untuk meminumnya. Kadang untuk mencari uang kita dihadapkan pada pilihan sulit. Jika sudah ada yang jadi korban peracik pun dipastikan harus berhadapan dengan hukum. Makanya saya sekarang memilih berhenti, meski bisnis miras oplosan sangat menjanjikan,” kata Kusyono. [zul]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA