"Ini budaya kekerasan struktural yang tidak baik bagi Golkar sendiri. Islah atau rekonsiliasi tidak dipercaya lagi atasi konflik," ujar pengamat politik dari Indostrategi Andar Nubowo kepada
RMOL (Rabu, 3/12).
Tidak hanya itu, pemecatan ini juga melibatkan sejumlah kader yang kini duduk di parlemen seperti Nusron Wahid, Agun Gunanjar, Zainuddin Amali, dan Agus Gumiwang. Secara otomatis keempat anggota dewan itu akan di PAW (Pergantian Antar Waktu).
Jika PAW benar dilakukan, maka tagline "Suara Golkar Suara Rakyat" telah gugur. Ini mengingat Golkar tidak lagi merepresentasikan suara rakyat yang memilih para anggota dewan itu. Apalagi di satu sisi, Golkar juga menjadi leader pengesahan UU Pilkada lewat DPRD.
"Publik tidak banyak lagi berharap kepada Golkar sebagai partai besar penyangga demokrasi. Publik susah untuk percaya lagi terhadap slogan 'Suara Golkar, Suara Rakyat', sebab faktanya segelintir elite sajalah yang menyetir dan menguasai partai ini," lanjut pengajar FISIP UIN Jakarta itu.
Jargon "the party of ideas" yang dikembangkan Ical juga turut dipertanyakan. Pasalnya, gelaran Munas tidak menunjukkan kebijaksanaan dalam menanggapi keberagaman ide, pendapat, dan gagasan politik.
"Slogan PG adalah
the party of ideas yang dikembangkan Ical sendiri juga sekadar lipstik politik belaka. Perbedaan ide dihukumi sebagai sebuah ancaman dan pemecatan," tandasnya.
[ysa]
BERITA TERKAIT: