Guru Besar Hukum Internasional UI, Hikmahanto Juwana mengartikan, kemungkinan alasannya adalah karena Tiongkok membutuhkan pihak ketiga dalam menyikapi ketegangannya dengan banyak negara termasuk AS.
"Sebenarnya sebagai negara besar, Presiden Obama sepantasnya berdiri di samping tuan rumah. Namun untuk menghindari kesan bahwa ketegangan terselesaikan dengan penyelenggaraan KTT APEC maka Presiden Jokowi diposisikan di antara dua negara besar yang terlibat dalam ketengangan," papar dia dalam surat elektronik kepada kantor berita politik
RMOL sesaat lalu (Selasa, 11/11).
Dari posisi Jokowi dalam foto sesi tersebut, sambung Hikmahanto, bisa diartikan posisi Indonesia dijadikan negara yang netral dan dapat berperan sebagai juru damai yang jujur. Peran ini telah dibangun oleh Presiden SBY dan diapresiasi oleh masyarakat internasional.
"Saat ini banyak negara mengharapkan peran yang sama dari Presiden Jokowi," imbuh dia.
Peran penting ini, katanya lagi, tentu saja harus dijalankan oleh Jokowi.
"Hanya saja presdien harus menyampaikan kepada masyarakat internasional bahwa peran tersebut akan tetap diemban sepanjang kedaulatan Indonesia tidak direndahkan dan kepentingan nasional kita tidak dirugikan," demikian Hikmahanto.
[dem]
BERITA TERKAIT: